KALTIMPOST.ID - Nama Ibrahim Al Abrar mendadak menjadi perhatian publik setelah bocah sekolah dasar asal Boyolali, Jawa Tengah, itu menerima Letter of Recognition dari NASA. Penghargaan tersebut diberikan setelah Ibrahim Al Abrar melaporkan temuan kerentanan pada salah satu domain publik milik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut.
Di usia yang baru 11 tahun, Ibrahim Al Abrar berhasil menunjukkan bahwa semangat belajar dan rasa ingin tahu dapat membuka jalan menuju prestasi internasional. Perjalanannya pun menjadi inspirasi bagi banyak pelajar yang tertarik mempelajari coding maupun keamanan siber.
Kisah Ibrahim Al Abrar pertama kali ramai dibicarakan setelah dibagikan melalui akun Instagram @IbraCoding. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa siswa kelas VI SD Negeri Genengsari 3 itu mengisi waktu belajarnya dengan mendalami dunia keamanan siber.
Dalam unggahan tersebut tertulis:
"Perkenalkan, Ibrahim Al Abrar, siswa kelas 6 SD Negeri Genengsari 3, yang memilih mengisi waktu belajarnya dengan mengenal dunia Cyber Security."
Unggahan itu juga menyebutkan bahwa pencapaian tersebut bukanlah tujuan akhir bagi Ibrahim.
"Ini bukan akhir perjalanan, melainkan langkah awal menuju cita-citanya menjadi seorang Cyber Security Professional," dilansir dari viva.co.id, Minggu (19/7/2026)
Tumbuh di Desa Boyolali dengan Mimpi Besar
Ibrahim Al Abrar lahir pada 25 Juli 2014 dan tinggal di Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Wilayah tersebut berada di sekitar Waduk Kedung Ombo.
Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya, Aminudin Salas, berprofesi sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), sedangkan ibunya, Hannisa Oktaviani, merupakan ibu rumah tangga.
Lingkungan tempat tinggal yang jauh dari hiruk pikuk kota tidak menjadi penghalang bagi Ibrahim untuk mempelajari teknologi. Justru dari desa itulah ia mulai membangun impiannya menjadi profesional keamanan siber.
Berawal dari Hobi Bermain Gim
Ketertarikan Ibrahim terhadap dunia teknologi ternyata bermula dari kegemarannya bermain gim. Melihat minat tersebut, sang ayah mendorongnya untuk belajar membuat gim, bukan sekadar memainkannya.
Sejak duduk di bangku kelas IV SD, Ibrahim belajar coding secara mandiri melalui video YouTube, membaca berbagai referensi di internet, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu memahami materi yang belum dikuasainya.
Dari proses belajar itulah ia mulai mengenal dunia keamanan siber dan semakin tertarik mendalami cara kerja sistem digital.
Berkali-kali Gagal Sebelum Mendapat Pengakuan NASA
Keberhasilan Ibrahim ternyata tidak diraih dalam satu kali percobaan. Pada awal 2026, ia mulai mengikuti Vulnerability Disclosure Policy (VDP) milik NASA, yaitu program yang membuka kesempatan bagi peneliti keamanan dari berbagai negara untuk melaporkan kerentanan sistem.
Sejumlah laporan yang ia kirim sempat ditolak karena belum memenuhi persyaratan teknis. Ada pula laporan yang dinyatakan sebagai duplikat karena temuan serupa telah lebih dahulu dilaporkan peneliti lain. Bahkan salah satu laporannya sempat disetujui tetapi belum memperoleh tindak lanjut.
Meski demikian, Ibrahim tidak berhenti mencoba hingga akhirnya menemukan celah keamanan berupa broken link hijacking pada salah satu domain publik NASA.
Temuan tersebut kemudian diverifikasi selama hampir dua bulan. Setelah dinyatakan valid, NASA menerbitkan Letter of Recognition tertanggal 9 Juli 2026 sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi Ibrahim dalam membantu meningkatkan keamanan sistem.
Semua Berawal dari Sebuah Ponsel
Perjalanan belajar Ibrahim juga tidak didukung dengan perangkat mahal sejak awal. Ia memulai proses belajarnya hanya menggunakan telepon genggam untuk mengikuti berbagai materi secara daring.
Melihat kesungguhan putranya, kedua orang tuanya kemudian membelikan mini PC bekas seharga sekitar Rp2 juta agar proses belajar menjadi lebih nyaman. Setelah itu, Ibrahim juga memperoleh laptop yang digunakan untuk memperdalam ilmu keamanan siber.
Selain belajar secara otodidak, Ibrahim aktif berdiskusi dengan komunitas daring yang menjadi tempat bertukar pengalaman dan pengetahuan mengenai dunia cybersecurity.
Prestasi Ini Baru Awal Perjalanan
Pengakuan dari NASA menjadi pencapaian penting bagi Ibrahim Al Abrar. Namun, penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhirnya.
Bocah asal Boyolali itu bercita-cita menjadi seorang profesional keamanan siber dan terus mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Kisah Ibrahim menunjukkan bahwa akses belajar yang terbuka melalui internet, dukungan keluarga, serta kemauan untuk terus mencoba dapat membawa seorang pelajar dari desa meraih pengakuan di tingkat internasional.***
Editor : Dwi Puspitarini