KALTIMPOST.ID, Gelombang kebakaran hutan yang melanda Prancis dan Spanyol semakin memburuk.
Hingga Sabtu (25/7/2026), lebih dari 250.000 orang telah dievakuasi dari rumah mereka akibat kobaran api yang terus meluas, dipicu suhu ekstrem, angin kencang, dan kondisi hutan yang sangat kering.
Di Prancis, pemerintah meningkatkan operasi pemadaman dengan mengerahkan pesawat angkut militer A400M yang telah dimodifikasi untuk menjatuhkan cairan penahan api (flame retardant).
Pesawat tersebut akan bergabung dengan 18 pesawat dan helikopter pemadam yang selama beberapa hari terakhir berupaya mengendalikan kebakaran di wilayah Gironde, Prancis barat daya.
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan petugas masih menghadapi pertempuran panjang karena kondisi cuaca belum sepenuhnya mendukung.
Meski intensitas api sempat melemah pada malam hari, titik kebakaran masih berada sekitar 30 kilometer di sebelah barat Kota Bordeaux.
Ancaman semakin besar karena arah angin diperkirakan berubah dari barat ke timur pada Sabtu sore, sehingga berpotensi mendorong kobaran api mendekati kawasan metropolitan Bordeaux.
Untuk menghambat laju api, petugas membuat parit, menyemprotkan bahan penahan api, dan memperkuat sejumlah titik perlindungan di jalur yang diperkirakan akan dilalui kobaran.
Pemerintah Prancis juga mengerahkan ratusan personel militer untuk membantu proses pemadaman.
Selain itu, sekitar 1,5 juta masker didistribusikan kepada masyarakat guna mengurangi dampak asap pekat yang dapat membahayakan kesehatan.
Otoritas setempat telah mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga yang tinggal di wilayah antara lokasi kebakaran dan Bordeaux.
Sejumlah kawasan pinggiran kota seperti Le Haillan, sebagian Eysines, dan Mérignac yang menjadi lokasi Bandara Bordeaux termasuk daerah yang harus dikosongkan.
Meski bandara masih beroperasi, layanan bus dan trem menuju bandara dihentikan sementara sebagai langkah antisipasi.
Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menyebut kebakaran di Gironde sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurutnya, besarnya kobaran api pada Jumat bahkan telah menciptakan hembusan angin sendiri sehingga membuat penyebarannya semakin sulit diprediksi.
Ia menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama pemerintah dan meminta seluruh masyarakat mematuhi perintah evakuasi tanpa penundaan.
Sementara itu, situasi serupa juga terjadi di Spanyol. Sekitar 70.000 warga di wilayah tengah negara tersebut telah dievakuasi setelah kebakaran menyebar dengan sangat cepat.
Petugas pemadam mengaku kobaran api berkembang begitu ganas sehingga sulit ditangani secara langsung dari garis depan.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengungkapkan sekitar 130.000 hektare kawasan hutan telah terbakar sepanjang tahun ini.
Luasan tersebut jauh melampaui rata-rata kebakaran tahunan selama satu dekade terakhir yang berkisar 100.000 hektare.
Meski demikian, Sánchez menilai penurunan suhu udara dan melemahnya kecepatan angin pada Sabtu memberikan peluang bagi petugas untuk mulai mengendalikan titik-titik api.
Pemerintah daerah Madrid juga melaporkan intensitas kebakaran mulai berkurang seiring membaiknya kondisi cuaca.
Gelombang panas yang melanda Eropa tahun ini menjadi salah satu faktor utama memburuknya kebakaran.
Suhu yang memecahkan rekor membuat kawasan hutan dan semak belukar mengering sehingga api dengan cepat menyebar ke berbagai wilayah.
Di Prancis, beberapa warga di kawasan wisata pesisir Atlantik bahkan terpaksa menyelamatkan diri menggunakan perahu ketika api mencapai permukiman.
Puluhan petugas pemadam kebakaran dilaporkan mengalami luka-luka, namun hingga kini belum ada laporan korban jiwa baik di Prancis maupun Spanyol.
Upaya pemadaman juga mendapat dukungan dari sejumlah negara Eropa.
Italia, Yunani, Belanda, Portugal, Kroasia, Republik Ceko, dan Slovakia mengirimkan atau menyiapkan pesawat serta helikopter pemadam untuk membantu mengatasi kebakaran yang masih berlangsung di kedua negara tersebut. (*)
Editor : AlmasrifahSumber : infonews.ca