KALTIMPOST.ID, Viral di media sosial pernyataan Ahmad Sahroni, wakil ketua Komisi III DPR RI kala kunjungan kerja ke Ternate, Maluku Utara.
Pernyataan Ahmad Sahroni menuai sorotan tajam usai melontarkan candaan pada Gubernur Sherly Tjoanda.
Pada potongan video yang beredar, Sahroni memuji penampilan fisik sang gubernur sebelum menyebutnya dengan sapaan "tante cantik".
Ia juga lantas berseloroh mengenai kesiapan untuk menerima kunjungan para lelaki dari seluruh pelosok Indonesia.
“Kami kunjungan kerja sekaligus mengunjungi Gubernur Maluku, tante cantik ini yang siap menerima kunjungan dari para laki-laki yang ada di Republik ini. Dan kami tunggu Anda di Bella Hotel Ternate,” tutur Sahroni sambil tertawa.
Baca Juga: Gawat, Justin Hubner Absen Bela Timnas Indonesia di Piala AFF 2026, Ini Penyebabnya!
Warganet Bereaksi
Unggahan video tersebut langsung memantik reaksi beragam dari publik.
Di platform X, banyak warganet yang menyayangkan pilihan kata Sahroni karena dinilai mengandung unsur seksisme atau objektifikasi terhadap seorang kepala daerah perempuan.
Sejumlah komentar menekankan bahwa sebagai pejabat publik, Sahroni seharusnya memberikan contoh dalam bertutur kata dan lebih fokus pada kapasitas kinerja gubernur daripada penampilan fisiknya.
Pejabat publik harus memberi contoh dalam bertutur kata. Candaan tetap ada batasnya," tulis warganet.
“Masih belum kapok.” kata warganet.
“Rumahnya diseruduk aja karena mulutnya, ini masih nggak kapok juga hadeuh,” timpal warganet lainnya.
Pembelaan dan Diskusi Komunikasi Publik
Di sisi lain, terdapat pula pihak yang membela Sahroni dengan menganggap ucapan tersebut hanyalah candaan spontan yang tidak bermaksud merendahkan martabat Gubernur Sherly Tjoanda.
Beberapa orang menilai publik tidak perlu memaknai gurauan tersebut secara berlebihan.
Namun, para pemerhati komunikasi menilai polemik ini menunjukkan pentingnya penggunaan bahasa yang sensitif terhadap gender bagi para figur publik.
Di era media sosial, setiap pernyataan pejabat dapat ditafsirkan secara luas, sehingga kehati-hatian dalam menyampaikan humor menjadi sangat krusial.
Editor : Hernawati