Fakta Baru Kematian Dokter Alex Cristo Loris di Siak: "Maaf Sayang, Aku Udah Enggak Tertolong Lagi"

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 06:21 WIB
Grafis Kaltim Post
Grafis Kaltim Post

KALTIMPOST.ID, PEKANBARU – Penyelidikan kematian dokter Alex Cristo Loris (30), peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi, mengungkap sejumlah fakta baru.

Alex sebelumnya ditemukan meninggal di kawasan semak di sisi luar pagar RSUD Tengku Rafian, Kabupaten Siak, Riau, pada Selasa, 14 Juli 2026.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, Polres Siak menyimpulkan tidak menemukan indikasi keterlibatan pihak lain dalam kematian dokter tersebut.

Kasatreskrim Polres Siak AKP Raja Kosmos Parmulais mengatakan, penyidik turut menggunakan pemeriksaan psikologi forensik untuk mendalami kondisi yang dialami Alex sebelum meninggal.

Baca Juga: Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Melawan, 2 Praperadilan Disiapkan untuk Uji Proses Hukum Kejagung dan Polri

Dari pemeriksaan itu, polisi menduga terdapat akumulasi sejumlah persoalan yang memberikan tekanan psikologis terhadap korban.

Persoalan tersebut antara lain berkaitan dengan kondisi finansial, beban menjalani pendidikan dokter spesialis serta tanggung jawab terhadap keluarga. Penyelidikan tidak berhenti pada pemeriksaan lokasi penemuan dan sejumlah saksi.

Penyidik turut mendalami isi ponsel milik Alex untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi dan aktivitas korban sebelum ditemukan meninggal.

Dari perangkat tersebut, polisi menemukan sebuah pesan yang ditujukan kepada istrinya, YM (31), tetapi belum sempat terkirim. "Maaf sayang, aku udah enggak tertolong lagi" tulis pesan korban.

Pesan itu berisi permintaan maaf sekaligus menggambarkan kondisi Alex menjelang kematiannya.

Selain pesan tersebut, polisi menemukan riwayat percakapan atau catatan mengenai persoalan keuangan. Salah satu yang menjadi perhatian penyidik adalah keluhan mengenai utang pinjaman online.

Polisi juga menemukan indikasi penggunaan uang dalam jumlah berlebihan untuk suatu aktivitas. Namun, keterangan yang disampaikan kepolisian belum memerinci aktivitas yang dimaksud.

Ada pula catatan pribadi di perangkat Alex yang masih terkunci dengan sistem keamanan.

Ditemukan Dekat Rumah Sakit

Alex diketahui merupakan peserta PPDS Residen Anestesi yang menjalani pendidikan di RSUD Tengku Rafian Siak. Dokter berusia 30 tahun tersebut berasal dari Kelurahan Wailola, Kecamatan Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.

Baca Juga: Mutasi Polri 2026: Jenderal Bintang Tiga Polri Menuju Pensiun 2026, Ada Karyoto dan Fadil Imran

Keberadaannya sempat dicari sebelum akhirnya ditemukan pada 14 Juli 2026.

Sekitar pukul 11.30 WIB, dua petugas keamanan rumah sakit bersama seorang pengemudi ambulans melakukan penyisiran di kawasan sekitar rumah sakit.

Pencarian difokuskan pada area yang diketahui menjadi titik terakhir keberadaan Alex berdasarkan penelusuran rekaman kamera pengawas atau CCTV. Petugas kemudian menemukan Alex dalam kondisi meninggal di kawasan semak yang berada di samping pagar luar RSUD Tengku Rafian.

Tekanan PPDS hingga Finansial Didalami

Dalam proses penyelidikan, kepolisian mendalami berbagai aspek kehidupan Alex untuk mengetahui rangkaian peristiwa sebelum kematiannya. Hasil psikologi forensik menjadi salah satu dasar penyidik dalam melihat kondisi korban.

Polisi menyebut persoalan yang dihadapi Alex tidak berdiri sendiri, melainkan diduga merupakan akumulasi tekanan dari sejumlah faktor.

Beban pendidikan selama mengikuti PPDS menjadi salah satunya. Selain itu, persoalan finansial dan tanggung jawab keluarga turut masuk dalam hasil pendalaman. Temuan mengenai keluhan pinjaman online di perangkat korban juga menjadi bagian dari rangkaian informasi yang diperiksa kepolisian.

Berdasarkan keseluruhan penyelidikan tersebut, polisi menyimpulkan kematian Alex tidak berkaitan dengan tindakan orang lain.

Baca Juga: Nasib Febrie Adriansyah Usai Jadi Tersangka TPPU, Jaksa Agung Resmi Berhentikan Sementara

Kasus ini sekaligus kembali menyoroti pentingnya dukungan psikologis, lingkungan pendidikan yang sehat, serta pendampingan bagi peserta pendidikan kedokteran spesialis yang menghadapi tekanan akademik maupun persoalan pribadi.

Editor : Uways Alqadrie
dr Alex Cristo Loris RSUD Tengku Rafian Polres Siak kabupaten Siak