KALTIMPOST.ID, KUBU RAYA – Dugaan kekerasan terhadap tenaga kesehatan dan sekuriti terjadi di RSUD Tuan Besar Syarif Idrus (TBSI), Kubu Raya, Kalimantan Barat. Seorang pria berinisial SU alias GI diduga memukul sekuriti dan dokter jaga IGD ketika petugas tengah menangani pasien dalam kondisi kritis.
GI disebut merupakan adik Bupati Kubu Raya Sujiwo. Selain memiliki hubungan keluarga dengan kepala daerah tersebut, GI juga tercatat sebagai Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Kubu Raya periode 2026–2030.
Peristiwa tersebut berlangsung pada Sabtu (8/8/2026) di ruang resusitasi IGD RSUD TBSI. Saat itu, keluarga membawa Iin Sumirat, mantan Kepala Desa Rasau Jaya III, untuk memperoleh pertolongan medis.
Baca Juga: Sejarah Kampung Bahari Jakarta Utara: Dari Kawasan Pelabuhan hingga Jadi Sarang Narkoba
Kondisi Iin ketika tiba di rumah sakit cukup serius. Pasien mengalami gangguan jantung berat sehingga tim medis langsung melakukan tindakan di ruang resusitasi.
Dalam proses penanganan, keluarga pasien diminta menunggu di luar ruangan. Pihak rumah sakit membatasi jumlah keluarga yang diperbolehkan berada di ruang resusitasi agar tenaga medis dapat bekerja secara optimal.
Namun, GI diduga tetap berada di dalam ruangan meski telah diminta keluar oleh petugas. Situasi kemudian memanas hingga terjadi dugaan pemukulan terhadap seorang sekuriti berinisial He dan dokter jaga IGD berinisial WE.
Di tengah insiden tersebut, tim medis tetap berupaya menyelamatkan pasien. Iin selanjutnya dirujuk ke RSUD dr Soedarso Pontianak untuk mendapat penanganan lanjutan.
Namun, upaya medis tersebut tidak berhasil. Iin akhirnya meninggal dunia setelah menjalani proses rujukan.
Dugaan kekerasan di lingkungan rumah sakit itu kemudian menjadi perhatian publik setelah rekaman kejadian beredar di media sosial.
Bupati Kubu Raya Sujiwo pun memberikan tanggapan. Ia menyatakan tidak membenarkan tindakan kekerasan maupun arogansi di rumah sakit, siapa pun pihak yang melakukannya.
Sujiwo mengatakan dirinya semula memilih tidak berkomentar karena keluarga masih berduka atas meninggalnya Iin. Ia baru memberikan pernyataan setelah sejumlah awak media meminta sikapnya terkait video yang beredar.
Menurut Sujiwo, hubungan keluarga maupun kedekatan dengan dirinya tidak boleh menjadi alasan seseorang melakukan tindakan yang merugikan atau mencoreng nama baik.
Baca Juga: Wajah Bos Gendut Terungkap, Buronan Narkoba Kampung Bahari Ditangkap Saat Sedot Lemak
Ia bahkan menegaskan mengecam dugaan perilaku tersebut apabila benar terjadi, termasuk jika pelakunya berasal dari lingkungan keluarganya sendiri.
“Tidak pernah memberikan toleransi. Tidak sedikit pun membenarkan, bahkan mengecam dan mengutuk perilaku itu. Siapa pun yang melakukan, termasuk keluarga saya,” tegas Sujiwo.
Kasus tersebut kini menjadi perhatian. Sementara itu, dugaan penganiayaan terhadap dokter dan sekuriti masih dalam proses penanganan dan pendalaman pihak terkait.
Editor : Uways Alqadrie