KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Tiga gempa bumi dengan kekuatan cukup besar mengguncang sejumlah wilayah Indonesia dalam rentang waktu yang berdekatan pada Sabtu (15/8/2026). Gempa terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Simalungun, Sumatera Utara, serta Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Rentetan gempa tersebut sempat memunculkan pertanyaan apakah ketiganya memiliki hubungan atau saling memicu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan tidak ada korelasi langsung di antara tiga kejadian tersebut.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan, masing-masing gempa berasal dari sumber dan sistem tektonik yang berbeda.
Baca Juga: Daftar Lengkap Pemeran X-Men Terbaru Marvel: Sadie Sink, Kit Connor, Adam Driver hingga Christopher
Gempa NTT tercatat berkekuatan magnitudo 7,7 dan dipicu aktivitas Sesar Back Arc Thrust Flores. Gempa ini tergolong dangkal dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust.
Sementara itu, gempa di Simalungun memiliki kekuatan M 6,4. Gempa tersebut terjadi pada kedalaman menengah akibat proses penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.
"Ketiga gempa terjadi di tiga sistem sumber dan tatanan tektonik yang berbeda. Secara mekanis tidak saling memicu," kata Wijayanto.
Adapun gempa Parigi Moutong berkekuatan M 5,9. Gempa tersebut terjadi pada kedalaman sekitar 60 kilometer dan berkaitan dengan deformasi kompresi di dalam Lempeng Laut Sulawesi atau intraplate.
Karakter Gempa Berbeda
BMKG juga menemukan perbedaan karakteristik setelah masing-masing gempa terjadi.
Gempa NTT menghasilkan sejumlah gempa susulan atau aftershock dalam jumlah cukup banyak. Kondisi berbeda terlihat pada gempa Simalungun dan Parigi Moutong yang hingga saat penjelasan tersebut disampaikan belum menunjukkan adanya aftershock yang terekam.
Menurut BMKG, perbedaan aktivitas gempa susulan tersebut justru memperlihatkan bahwa setiap gempa memiliki karakter patahan dan proses pelepasan energi yang berbeda.
Fenomena beberapa gempa terjadi dalam waktu berdekatan disebut seismic clustering atau klasterisasi seismik. Kondisi ini bukan berarti seluruh gempa mempunyai sumber yang sama.
Baca Juga: YouTube Naikkan Syarat Monetisasi 2027, Kreator Baru Wajib Kejar 8.000 Jam Tayang
Indonesia memiliki banyak zona tektonik aktif sehingga pelepasan energi dari beberapa segmen dapat terjadi dalam waktu yang berdekatan.
"Indonesia punya banyak zona aktif sehingga wajar beberapa segmen melepas stres dalam waktu dekat, namun independen," jelas Wijayanto.
Dengan demikian, kemunculan tiga gempa kuat dalam satu hari tidak dapat disimpulkan sebagai rangkaian gempa yang saling menyebabkan. Ketiganya merupakan peristiwa tektonik yang berlangsung pada sistem sumber berbeda.
Editor : Uways Alqadrie