Gempa Susulan NTT Masih Tinggi, BMKG: Aktivitas Bisa Berlangsung 2-3 Minggu

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 14:29 WIB
Tim SAR gabungan mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan pascagempa M7,7 di NTT. (FOTO: IST)
Tim SAR gabungan mengevakuasi korban dari reruntuhan bangunan pascagempa M7,7 di NTT. (FOTO: IST)

KALTIMPOST.ID, KUPANG – Warga di Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta tetap waspada setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut. Aktivitas gempa susulan masih cukup tinggi dan belum menunjukkan pola penurunan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 235 gempa susulan hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 14.00 WIB. Getaran susulan tersebut memiliki magnitudo antara 2,5 hingga 6,2 dan sebagian besar terjadi di kawasan utara Pulau Flores.

Kepala BMKG Prof Ir Teuku Faisal Fathani mengatakan perkembangan aktivitas gempa terus dipantau secara berkala. Berdasarkan pola yang terlihat, aktivitas gempa susulan belum memperlihatkan peluruhan yang signifikan.

Menurut BMKG, kondisi tersebut masih termasuk dalam rangkaian gempa susulan. Secara umum, aktivitas seperti ini dapat berangsur menurun dalam waktu sekitar dua hingga tiga pekan.

Baca Juga: Sebaran Pengungsi Gempa M7,7 NTT: Sikka Terbanyak 3.356 Jiwa

Karena itu, masyarakat yang berada di kawasan terdampak diminta tidak kembali beraktivitas di dalam bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan. Getaran susulan yang kekuatannya lebih kecil sekalipun berpotensi membuat bangunan yang sudah rapuh mengalami kerusakan lebih parah.

Guncangan Capai VII-VIII MMI

Gempa utama juga menghasilkan guncangan kuat di sejumlah wilayah. Alat pemantau BMKG di Stasiun Meteorologi Ruteng dan Lanke Rembong, Manggarai, sempat merekam intensitas hingga VIII MMI.

Setelah dilakukan verifikasi, tingkat guncangan di sejumlah lokasi berada pada kisaran VII MMI. Kondisi tersebut menunjukkan kuatnya dampak gempa terhadap wilayah yang berada dekat sumber guncangan.

BMKG juga menyiapkan survei di sejumlah daerah, antara lain Ngada, Nagekeo, Labuan Bajo dan Selayar. Pemeriksaan dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai mekanisme gempa, kondisi tanah, amplifikasi serta dampaknya terhadap bangunan.

Hasil survei nantinya menjadi bahan rekomendasi bagi pemerintah daerah dan Kementerian Pekerjaan Umum dalam menentukan langkah perbaikan maupun pembangunan kembali bangunan yang rusak.

BMKG juga akan berkoordinasi dengan BNPB sebagai bagian dari penanganan bencana. Jaringan BMKG di berbagai daerah turut disiapkan untuk mendukung pemantauan dan survei selama masa tanggap darurat.

Baca Juga: 3 Gempa Kuat Guncang Indonesia dalam Sehari, BMKG Ungkap Penyebab dan Hubungannya

Untuk NTT, terdapat 14 titik BMKG yang akan mendukung kegiatan pemantauan. Personel BMKG juga akan mendampingi pemerintah daerah bersama TNI, Polri dan Basarnas dalam upaya mitigasi.

Pendampingan tersebut tidak hanya dilakukan selama masa darurat, tetapi akan berlanjut hingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak gempa.

Editor : Uways Alqadrie
gempa bumi NTT korban gempa bumi NTT BPBD NTT bmkg bnpb