Gempa NTT M 7,7 Tewaskan 51 Orang, Ribuan Rumah Rusak dan 5.000 Warga Mengungsi

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:20 WIB
BPBD, BNPB hingga TNI terus membantu proses evakuasi korban setelah gempa kuat mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Hingga Minggu (16/8/2026), korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 51 orang. (Dok. Istimewa)
BPBD, BNPB hingga TNI terus membantu proses evakuasi korban setelah gempa kuat mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Hingga Minggu (16/8/2026), korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 51 orang. (Dok. Istimewa)

KALTIMPOST.ID, KUPANG – Gempa bumi kuat yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), membawa dampak besar. Hingga Minggu (16/8), jumlah korban meninggal dunia dilaporkan mencapai 51 orang.

Data terbaru tersebut disampaikan Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii. Hingga pukul 09.00, tim gabungan masih melakukan pencarian dan evakuasi korban di sejumlah wilayah terdampak.

Sebelumnya, BNPB mencatat 47 orang meninggal dunia. Korban tersebar di sejumlah kabupaten di Flores, dengan jumlah terbanyak berada di Manggarai dan Manggarai Timur.

Baca Juga: Gempa Susulan NTT Masih Tinggi, BMKG: Aktivitas Bisa Berlangsung 2-3 Minggu

Selain korban meninggal, puluhan warga juga mengalami luka-luka. Proses pendataan masih berlangsung karena petugas gabungan terus menyisir kawasan yang terdampak gempa.

Ribuan Rumah Rusak

Gempa yang sebelumnya dilaporkan berkekuatan M 7,7 tersebut juga menyebabkan kerusakan pada ribuan bangunan. Data BNPB mencatat 1.357 rumah terdampak, terdiri dari 914 rumah rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.

Kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga. Puluhan fasilitas umum ikut terdampak, termasuk 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, dan 38 kantor pemerintahan.

Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah terganggu. Tim penanganan bencana masih melakukan pendataan sekaligus memastikan kebutuhan dasar para korban terpenuhi.

Lebih dari 5.000 Warga Mengungsi

Gempa juga memaksa lebih dari 5.000 warga meninggalkan rumah dan bertahan di lokasi pengungsian. BNPB sebelumnya mencatat konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka dan Manggarai.

Di Sikka, ribuan warga mengungsi di sejumlah titik, termasuk kawasan GOR Samador. Sementara di Manggarai, warga terdampak juga masih bertahan di lokasi pengungsian.

Kebutuhan mendesak yang disiapkan untuk para penyintas antara lain tenda, beras, obat-obatan, selimut, tempat tidur lapangan, tikar, air bersih, hingga genset.

Akses Jalan dan Layanan Darurat

Penanganan pascagempa masih berlangsung. Tim gabungan bersama BPBD melakukan pencarian, evakuasi, serta verifikasi data korban dan kerusakan.

Rumah sakit lapangan juga telah dioperasikan untuk memperkuat pelayanan medis bagi warga terdampak. Di sisi lain, akses transportasi menjadi perhatian karena sejumlah ruas jalan masih mengalami gangguan.

Jalur Larantuka-Maumere dilaporkan sudah dapat dilalui. Namun, akses penghubung Ende-Nagekeo masih terputus sehingga tim harus mencari jalur alternatif untuk mendukung distribusi bantuan dan mobilitas evakuasi.

Baca Juga: Sebaran Pengungsi Gempa M7,7 NTT: Sikka Terbanyak 3.356 Jiwa

Getaran Terasa hingga Sulsel

Guncangan gempa tidak hanya dirasakan di wilayah NTT. Getarannya juga sampai ke sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, termasuk Jeneponto, Kepulauan Selayar, Maros, hingga Kota Makassar.

Sebelumnya, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah setelah gempa terjadi. Peringatan tersebut turut mencakup beberapa daerah di Sulsel dan Sulawesi Tenggara.

Pemerintah bersama tim SAR, BPBD, TNI-Polri, serta unsur terkait masih bergerak menangani dampak bencana. Pencarian korban dan pemulihan wilayah terdampak menjadi prioritas utama.

Editor : Uways Alqadrie
gempa bumi NTT korban gempa bumi NTT BPBD NTT bangunan rusak gempa bumi NTT bnpb