KALTIMPOST.ID - Lomba 17 Agustus menjadi salah satu tradisi yang hampir selalu muncul setiap perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Di balik kemeriahannya, sejarah lomba 17 Agustus ternyata memiliki cerita yang cukup panjang.
Berbagai lomba Agustusan seperti balap karung, makan kerupuk, tarik tambang hingga panjat pinang digelar di banyak tempat. Kegiatannya bisa ditemukan mulai dari lingkungan RT/RW, sekolah, kantor, kampus hingga instansi pemerintahan.
Karena itu, lomba 17 Agustus bukan hanya dianggap sebagai hiburan untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Perlombaan tersebut juga berkembang menjadi bagian dari tradisi 17 Agustus yang mempertemukan masyarakat dalam suasana penuh kebersamaan.
Baca Juga: 40 Investor Akan Hadiri Upacara HUT ke-81 RI di IKN, Siapa Saja yang Bakal Hadir?
Sejarah Lomba 17 Agustus
Mengutip Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bisnis dan Pariwisata (BBPPMPVBISPAR) Kemendikdasmen, sejarah lomba 17 Agustus diperkirakan mulai muncul sekitar 1950.
Kala itu, Indonesia sedang memperingati lima tahun kemerdekaannya. Masyarakat kemudian mencari cara untuk merayakan kemerdekaan dengan suasana yang lebih meriah.
Keterbatasan fasilitas membuat perlombaan menggunakan berbagai peralatan sederhana yang mudah ditemukan. Sejumlah permainan yang kemudian populer antara lain balap karung dan panjat pinang.
Tradisi tersebut akhirnya terus berkembang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bentuk perlombaannya pun semakin beragam, tetapi semangat berkumpul dan merayakan kemerdekaan tetap menjadi bagian penting di dalamnya.
Cerita mengenai lomba Agustusan ternyata tidak seluruhnya bermula setelah Indonesia merdeka. Sejarawan JJ Rizal menyebut sejumlah perlombaan yang dikenal masyarakat saat ini memiliki jejak dari masa penjajahan Belanda dan Jepang.
Baca Juga: Prabowo Siapkan Perpres Ojol, Asosiasi: “Hak Driver Harus Dilindungi Negara”
Beberapa di antaranya adalah panjat pinang, tarik tambang dan permainan kuda-kuda. Menurut Rizal, panjat pinang bahkan telah terlihat dalam gambar-gambar dari masa kolonial.
Pada masa pendudukan Jepang, kegiatan perlombaan juga pernah muncul dalam berbagai perayaan. Salah satunya berkaitan dengan peringatan ulang tahun Djawa Baroe yang digelar pada masa tersebut.
Namun, makna perlombaan kemudian berubah setelah Indonesia merdeka. Kegiatan yang sebelumnya berkaitan dengan perayaan pada masa penjajahan itu diterima dan diteruskan masyarakat dengan makna baru yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia.
Seiring waktu, lomba 17 Agustus tidak lagi sekadar permainan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari cara masyarakat mengingat perjalanan sejarah bangsa sekaligus membangun kebersamaan.
Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Heri Priyatmoko dalam buku Bunga Rampai Kisah menyebut lomba Agustusan memiliki makna sebagai semacam monumen ingatan kolektif masyarakat mengenai kemerdekaan Indonesia.
Makna setiap perlombaan juga berkembang sesuai pengalaman sejarah yang melekat di masyarakat. Balap karung, misalnya, kemudian sering dikaitkan dengan kesulitan hidup pada masa pendudukan Jepang.
Baca Juga: Lomba 17 Agustus Makin Meriah dengan Nasi Tumpeng Merah Putih, Ini Resepnya
Sementara itu, panjat pinang kerap dipandang sebagai gambaran semangat gotong royong. Peserta harus bekerja sama untuk mencapai tujuan, sementara warga lain biasanya memberikan dukungan dari bawah.
Kenapa Tradisi Ini Tetap Bertahan?
Tidak ada satu nama yang secara pasti diketahui sebagai pencetus seluruh perlombaan 17 Agustus. JJ Rizal juga mengaku tidak mengetahui siapa yang pertama kali menggagas perlombaan tersebut.
Namun, kegemaran masyarakat Indonesia terhadap permainan dan perlombaan membuat kegiatan semacam ini mudah diterima dan terus berkembang.
Kini, tradisi 17 Agustus tidak hanya menjadi milik anak-anak. Orang dewasa pun kerap ikut ambil bagian, baik sebagai peserta maupun penyelenggara.
Kemeriahan lomba akhirnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari suasana Hari Kemerdekaan. Di balik tawa dan persaingan ringan, ada kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul, saling mendukung dan menghidupkan kembali semangat kebersamaan.
Dengan begitu, sejarah lomba 17 Agustus menunjukkan bahwa perlombaan yang terlihat sederhana dapat memiliki perjalanan panjang. Tradisi tersebut terus diberi makna baru dan disesuaikan dengan cara masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan.***
Editor : Dwi PuspitariniSumber : CNN