Silsilah Fadil Imran: Keturunan Langsung Raja Gowa IX, Dua Saudaranya Jadi Bupati Takalar dan Gowa

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:14 WIB
Grafis istimewa
Grafis istimewa

JAKARTA, KALTIM POST – Perjalanan panjang Komjen Pol. Mohammad Fadil Imran di Kepolisian Republik Indonesia memasuki babak akhir. Perwira tinggi kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 14 Agustus 1968 itu genap berusia 58 tahun pada 2026, usia yang menjadi batas masa dinas bagi angkatan kelahirannya.

Fadil Imran dikenal sebagai salah satu jenderal bintang tiga yang pernah menduduki sejumlah posisi strategis di tubuh Polri. Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 tersebut memiliki pengalaman panjang, terutama di bidang reserse dan operasional.

Kariernya mencakup sejumlah jabatan penting, mulai dari lingkungan Bareskrim Polri hingga memimpin kepolisian daerah. Ia pernah dipercaya menjadi Kapolda Jawa Timur, Kapolda Metro Jaya, kemudian menduduki posisi Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri.

Baca Juga: Putra Gowa Komjen Mohammad Fadil Imran Pensiun dari Polri, Kini Jadi Komisaris MIND ID

Pada Agustus 2025, tongkat kepemimpinan Kabaharkam diserahkan kepada Irjen Pol. Karyoto. Fadil selanjutnya mendapat amanah sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops). Pergantian tersebut menjadi bagian dari penyegaran organisasi di lingkungan Mabes Polri.

Memasuki Agustus 2026, perhatian kembali tertuju kepada Fadil Imran karena faktor usia. Sejumlah pemberitaan menyebut Fadil termasuk perwira tinggi Polri kelahiran 1968 yang memasuki masa pensiun tahun ini. Ketentuan perpanjangan masa dinas dalam perubahan aturan usia pensiun Polri disebut tidak berlaku bagi personel kelahiran 1968.

Keturunan Raja Gowa

Di balik perjalanan kariernya sebagai perwira tinggi Polri, Fadil Imran juga memiliki latar belakang keluarga yang menarik perhatian.

Fadil merupakan putra pasangan HM Idris dan Hj Sitti Siada Dg Siang. Dari garis keluarga ibunya, Fadil disebut memiliki hubungan keturunan dengan Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumapa'risi' Kallonna, Raja Gowa ke-9.

Silsilah tersebut pernah dicatat dalam buku Daeng Siang Sang Penerang. Daeng Matanre Karaeng Manguntungi dikenal sebagai salah satu penguasa penting dalam sejarah Kerajaan Gowa.

Pada masa pemerintahannya, pengaruh Kerajaan Gowa berkembang luas. Kerajaan tersebut kemudian menjadi salah satu kekuatan besar di kawasan Nusantara.

Karaeng Tumapakrisik Kallonna merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah Gowa. Ia dikenal sebagai raja yang memiliki visi besar dalam mengembangkan kerajaan, termasuk dalam menentukan lokasi pusat pemerintahan.

Baca Juga: Mengenal Putri Bangsawan Gowa Farah Puteri Nahlia, Anak Fadil Imran yang Kini Duduk di DPR

Salah satu keputusan penting pada masa pemerintahannya adalah memindahkan pusat Kerajaan Gowa dari kawasan Bukit Tamalate menuju Somba Opu yang berada di wilayah pesisir.

Pemindahan tersebut bukan tanpa alasan. Kawasan pesisir dinilai memiliki posisi strategis karena membuka akses yang lebih luas bagi Gowa untuk berhubungan dengan wilayah lain.

Dari Somba Opu, aktivitas perdagangan dan hubungan dengan dunia luar berkembang. Kawasan itu kemudian menjadi salah satu pusat penting dalam sejarah Kerajaan Gowa.

Pembangunan pusat kerajaan juga diikuti dengan pembangunan benteng serta kawasan pelabuhan. Langkah tersebut menunjukkan bagaimana Karaeng Tumapakrisik Kallonna melihat posisi geografis sebagai bagian penting dalam membangun kekuatan kerajaan.

Selain dikenal sebagai penguasa yang memiliki strategi pemerintahan, era Karaeng Tumapakrisik Kallonna juga dikaitkan dengan perkembangan kebudayaan dan administrasi Kerajaan Gowa.

Baca Juga: Mutasi Polri 2026: Jenderal Bintang Tiga Polri Menuju Pensiun 2026, Ada Karyoto dan Fadil Imran

Pada masa tersebut, Daeng Pamatte dikenal sebagai pejabat kerajaan yang memiliki peran penting. Ia disebut menjabat sebagai Tumailalang sekaligus Syahbandar dan dikaitkan dengan pengembangan aksara Makassar atau Lontara.

Dari Akpol hingga Jenderal Bintang Tiga

Fadil mengawali pengabdiannya setelah menyelesaikan pendidikan di Akpol pada 1991. Puluhan tahun kemudian, kariernya terus menanjak hingga dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis.

Ia pernah bertugas di berbagai satuan dan jabatan, termasuk di lingkungan Bareskrim Polri. Pengalaman tersebut kemudian membawanya ke sejumlah posisi pimpinan di tingkat kewilayahan.

Baca Juga: Bursa Calon Kapolri 2026 Menghangat: Daftar 10 Komjen yang Berpeluang Gantikan Listyo Sigit Prabowo

Fadil pernah menjadi Kapolda Jawa Timur dan Kapolda Metro Jaya. Setelah itu, ia dipercaya menjadi Kabaharkam Polri sebelum akhirnya bergeser menjadi Astamaops Kapolri.

Pergantian jabatan tidak menghapus panjangnya rekam pengabdian Fadil di Polri. Sebaliknya, rangkaian penugasan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya selama lebih dari tiga dekade.

Kini, setelah memasuki usia 58 tahun, perjalanan dinas Fadil Imran berada di penghujung masa pengabdian sebagai anggota Polri.

Dari seorang lulusan Akpol hingga mencapai pangkat Komisaris Jenderal, Fadil meninggalkan jejak panjang dalam institusi kepolisian. Di sisi lain, latar belakang sebagai bagian dari garis keturunan Raja Gowa menambah warna tersendiri dalam kisah perjalanan jenderal kelahiran Makassar tersebut.

 

 

Editor : Uways Alqadrie
Komjen Fadil Imran Fadil Imran Firdaus Daeng Manye Sitti Husniah Mutasi Polri terbaru