KALTIMPOST - Komjen Pol (Purn) Mohammad Fadil Imran resmi memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya setelah menyelesaikan masa pengabdian di Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Usai purnatugas di usia 58 tahun, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Komisaris PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID.
Penugasan ini menandai pergeseran peran Fadil dari institusi penegakan hukum menuju sektor strategis industri pertambangan nasional yang berada di bawah holding BUMN tambang.
Baca Juga: Terseret Arus Sungai Belayan, Bocah 8 Tahun Ditemukan Tim SAR dalam Kondisi Meninggal
Profil Fadil Imran: Dari Purnawirawan Polri ke Kursi Komisaris BUMN Strategis
Setelah puluhan tahun berkarier di Polri, Fadil Imran kini melanjutkan kiprahnya di luar institusi kepolisian. Penunjukannya sebagai komisaris di MIND ID menjadi bagian dari pola penempatan purnawirawan aparat negara di posisi strategis BUMN.
Lahir di Ujung Pandang (Makassar) tahun 1968, Fadil merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991.
Kariernya dimulai dari bawah, tepatnya sebagai Wakasat Sabhara Polres Metro Jakarta Barat.
Dari Kapolsek ke Polda Metro Jaya
Karier Fadil melesat di akhir 1990-an. Tahun 1999 ia dipercaya menjadi Kapolsek Cengkareng, lalu pindah ke Tanah Abang pada 2002.
Baca Juga: Bukan Cuma Palestina, Belasan Wilayah di Dunia Ini Ternyata Belum Merdeka!
Pengalaman lapangan ini mengasah instingnya di wilayah padat dan rawan kriminalitas.
Momentum penting terjadi pada 2007 saat ia masuk jajaran Reskrimum Polda Metro Jaya sebagai Kasat III.
Setahun kemudian, ia dipercaya memimpin Polres KP3 Tanjung Priok.
Tak butuh waktu lama, Fadil naik menjadi Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya (2009), lalu bergeser ke Bareskrim Polri sebagai Kasubdit IV Dittipidum (2011).
Doktor Kriminologi dan Lompatan Jabatan
Pada 2014, saat menjabat Kapolres Jakarta Barat, Fadil menuntaskan pendidikan doktor di Universitas Indonesia.
Disertasinya mengupas kasus mutilasi di Jakarta dengan pendekatan pilihan rasional dan lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Baca Juga: Rumor Patrick Kluivert Jadi Asisten Xavi di Timnas Belanda Makin Kuat
Setelah itu, kariernya makin cepat naik. Tahun 2015, ia masuk Bareskrim sebagai Anjak Madya, lalu pada 2017 dipercaya memimpin Direktorat Tindak Pidana Siber.
Tahun 2020, Fadil ditunjuk sebagai Kapolda Jawa Timur, sebelum akhirnya digeser menjadi Kapolda Metro Jaya.
Pergantian ini terjadi di tengah sorotan publik terkait kasus kerumunan Habib Rizieq Shihab.
Di posisi ini, Fadil menjadi salah satu wajah utama Polri dalam menangani isu-isu keamanan ibu kota.
Deretan Kasus Besar
Sepanjang kariernya, Fadil tak lepas dari kasus-kasus besar. Salah satunya adalah kasus mutilasi Ryan di Jombang (2008) yang menghebohkan publik nasional.
Ia juga terlibat dalam pengungkapan kasus kejahatan berat lain, termasuk kasus Bekuni alias Babe pada 2010.
Pengalaman menangani kasus besar ini memperkuat reputasinya sebagai perwira reserse.
Baca Juga: Dimulai dari Nol Lagi! Manchester City Masuki Era Baru Setelah Pep Pergi
Masuk Lingkar Inti Mabes Polri
Karier Fadil terus menanjak hingga 2023, saat ia ditunjuk sebagai Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Polri.
Posisi ini menempatkannya di lingkar inti pengambil kebijakan keamanan nasional.
Pengakuan atas dedikasinya datang pada 14 Oktober 2024, saat ia menerima penghargaan Nugraha Sakanti dari Presiden Joko Widodo.
Setahun berselang, pada 2025, Fadil kembali dipercaya menduduki jabatan strategis sebagai Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi.
Tren Purnawirawan di Struktur BUMN
Penempatan purnawirawan TNI/Polri di jajaran komisaris BUMN bukan hal baru. Skema ini kerap dilakukan dengan pertimbangan pengalaman kepemimpinan, kedisiplinan, serta jaringan strategis yang dimiliki selama bertugas di institusi negara.
Namun demikian, kebijakan ini juga kerap menjadi sorotan publik terkait transparansi, profesionalisme, dan batas antara peran militer-polisi dengan sektor sipil dan ekonomi.***
Editor : Dwi Puspitarini