KALTIMPOST.ID, Keresahan sejumlah warga berpenghasilan sekitar Rp3 juta per bulan yang mendadak masuk dalam kategori desil 10 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) akhirnya mendapat respons dari Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf.
Pria yang akrab disapa Gus Ipul tersebut menegaskan, penentuan tingkat kesejahteraan seseorang tidak bisa cuma dilihat dari satu kacamata saja, yakni besaran gaji atau pendapatan saban bulan. Penilaian itu melibatkan beragam variabel sosial ekonomi yang dihitung secara akurat oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
"Tidak hanya soal nominal pendapatan harian atau bulanan," ujar Gus Ipul.
BPS menerapkan metode agregat dengan menakar berbagai indikator pendukung untuk memotret kondisi ekonomi sebuah keluarga secara riil. Beberapa kriteria mendasar yang diukur antara lain:
- Kondisi Fisik Hunian: Kelayakan konstruksi tempat tinggal, luas bangunan, hingga legalitas kepemilikan.
- Fasilitas Dasar: Akses terhadap sanitasi layak, ketersediaan air bersih, serta daya listrik yang digunakan.
- Profil Sosial & Ekonomi: Tingkat pendidikan anggota keluarga, status pekerjaan, kepemilikan aset produktif, maupun unit usaha yang dikelola.
Dalam skema DTSEN, masyarakat terbagi ke dalam 10 tingkatan (desil). Desil 1 berada pada urutan paling rentan atau kurang mampu, sedangkan desil 10 menempati urutan paling sejahtera.
Gus Ipul meminta warga tak perlu panik berlebihan, sebab data tersebut dinamis dan terus berjalan. Pemutakhiran status DTSEN dilakukan secara berkala setiap tiga bulan sekali. Bagi warga yang merasa pemeringkatan ekonominya tak sesuai dengan kondisi di lapangan, pemerintah membuka pintu lebar untuk mengajukan perbaikan atau sanggahan data lewat jalur resmi yang disiapkan.
Editor : Ilmidza