KALTIMPOST.ID, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau adanya potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah Indonesia selama sepekan ke depan.
Berdasarkan prakiraan BMKG untuk periode 27 Agustus hingga 2 September 2026, beberapa wilayah diprediksi memiliki peluang pertumbuhan awan Cumulonimbus cukup tinggi. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama dalam kaitannya dengan aktivitas penerbangan dan kondisi cuaca di wilayah terdampak.
Dalam pemetaan BMKG, terdapat empat wilayah yang masuk kategori Frequent (FRQ). Kategori tersebut menunjukkan cakupan spasial pertumbuhan awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.
Keempat wilayah tersebut adalah Bengkulu, Sumatera Barat, perairan Samudra Hindia di sebelah barat Kepulauan Mentawai, serta bagian utara Selat Malaka.
Sejumlah Wilayah Masuk Kategori Occasional
Selain kategori Frequent, BMKG juga memprakirakan pertumbuhan awan Cumulonimbus dalam kategori Occasional (OCNL).
Kategori ini menunjukkan cakupan spasial pertumbuhan awan Cumulonimbus sekitar 50 hingga 75 persen. Potensinya tersebar di sejumlah wilayah daratan Indonesia.
Untuk wilayah daratan, daerah yang masuk kategori Occasional meliputi Aceh, Bengkulu, Jambi, Kalimantan Utara, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
Potensi serupa juga diprakirakan muncul di sejumlah provinsi di Tanah Papua. Wilayah tersebut mencakup Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Tengah.
Sementara itu, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus kategori Occasional juga terpantau di sejumlah wilayah perairan.
Daerah perairan tersebut meliputi:
- Laut Banda
- Laut Maluku
- Laut Natuna Utara
- Laut Sulawesi bagian barat
- Samudra Hindia barat Aceh
- Samudra Hindia barat Bengkulu
- Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
- Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
- Samudra Pasifik utara Maluku
- Samudra Pasifik utara Papua
- Selat Karimata bagian utara
- Selat Malaka bagian utara
Arti Kategori Pertumbuhan Awan Cumulonimbus
BMKG membagi potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus ke dalam beberapa kategori berdasarkan cakupan spasialnya.
Kategori ISOL (isolated) menunjukkan cakupan kurang dari 50 persen. Sementara OCNL (occasional) berada pada rentang 50–75 persen.
Adapun kategori FRQ (frequent) digunakan untuk wilayah dengan potensi cakupan pertumbuhan awan Cumulonimbus lebih dari 75 persen.
BMKG menjelaskan bahwa informasi tersebut merupakan bagian dari produk prakiraan cuaca penerbangan. Data dihasilkan menggunakan model cuaca numerik untuk memberikan gambaran mengenai potensi dan sebaran pertumbuhan awan Cumulonimbus di wilayah Indonesia.
Prakiraan tersebut memiliki rentang waktu hingga tujuh hari ke depan. Karena itu, informasi dapat menjadi salah satu acuan untuk memantau perkembangan kondisi cuaca, khususnya bagi sektor penerbangan.
Masyarakat juga disarankan tetap mengikuti pembaruan informasi cuaca dari BMKG karena kondisi atmosfer dapat berubah seiring waktu.
Editor : Ilmidza