KALTIMPOST.ID, Ancaman gempa bumi berkekuatan mahabesar dari zona megathrust kembali menjadi sorotan. Wilayah Indonesia yang berada di garis pertemuan lempeng tektonik dikepung oleh sejumlah segmen aktif yang menyimpan potensi energi destruktif cukup tinggi.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, zona megathrust merupakan bagian dari zona subduksi—area kontak tempat satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya. Karakteristik bidang kontak ini relatif dangkal dan bisa "terkunci" dalam durasi sangat lama hingga menumpuk akumulasi regangan energi.
"Ketika regangan itu dilepas secara mendadak lewat pergeseran besar, gempa dahsyat dengan magnitudo di atas M 8,0 bisa terjadi. Jika patahannya memicu deformasi dasar laut secara signifikan, potensi tsunami skala besar sangat terbuka," terang Daryono.
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia terbaru, teridentifikasi 14 segmen megathrust di kawasan regional: 11 segmen berada di wilayah Indonesia dan 3 segmen berada di Filipina. Wilayah pesisir yang berhadapan langsung meliputi pantai barat Sumatra, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi Utara dan Laut Banda.
Meski demikian, Daryono menegaskan bahwa megathrust tidak akan meledak secara bersamaan karena tiap segmen memiliki laju konvergensi dan sejarah kegempaan yang berbeda.
Daftar 14 Segmen Megathrust Regional:
- Aceh-Andaman (Potensi maks: M 9,2)
- Nias-Simeulue (Potensi maks: M 8,7)
- Batu (Potensi maks: M 7,8)
- Mentawai-Siberut (Potensi maks: M 8,9)
- Mentawai-Pagai (Potensi maks: M 8,9)
- Enggano (Potensi maks: M 8,9)
- Jawa (Potensi maks: M 9,1)
- Jawa Bagian Barat (Potensi maks: M 8,9)
- Jawa Bagian Timur (Potensi maks: M 8,9)
- Sumba (Potensi maks: M 8,9)
- Sulawesi Utara (Potensi maks: M 8,5)
- Palung Cotabato (Potensi maks: M 8,3)
- Filipina Selatan (Potensi maks: M 8,2)
- Filipina Tengah (Potensi maks: M 8,1)
Tiga Segmen Paling Diwaspadai: Berstatus Seismic Gap
Dari belasan area tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan perhatian khusus pada segmen Mentawai-Siberut, Selat Sunda (bagian Jawa Barat), dan Sumba.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengungkapkan, ketiga area ini dikategorikan mengalami seismic gap—area subduksi yang sudah lama tidak melepaskan gempa besar dalam catatan sejarah, sehingga potensi penumpukan energinya makin tebal.
"Tiga segmen ini yang terus kami pantau ketat. Namun, perlu dicatat bahwa ini adalah kalkulasi potensi jangka panjang, bukan prediksi gempa yang pasti terjadi dalam waktu dekat," tegas Wijayanto.
BMKG juga mengingatkan dua bahaya utama dari aktivitas megathrust: guncangan hebat yang sanggup merubuhkan infrastruktur serta potensi gelombang tsunami yang bisa berdampak hingga ke negara-negara tetangga di kawasan Samudra Hindia. Sistem peringatan dini (early warning system) terus disiagakan untuk meminimalkan risiko bencana.
Editor : Ilmidza