​Menkes Budi Gunadi Maju Dirjen WHO, Ini 3 Pesaing Terberatnya

Ilmidza • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:39 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

KALTIMPOST.ID, Langkah Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin (BGS) dalam perebutan kursi Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (Dirjen WHO) dipastikan bakal mendapat tantangan sengit. Sejumlah nama kuat di kancah kesehatan global siap menjadi rival BGS dalam bursa pencalonan tersebut.

​Epidemiolog sekaligus praktisi kesehatan global dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, memprediksi persaingan paling ketat akan datang dari figur internal WHO. Kandidat terkuat utama yang bakal menjadi lawan berat BGS adalah Hanan Balkhy dari Arab Saudi.

​Hanan bukan sekadar dokter spesialis anak dan ilmuwan lulusan King Abdulaziz University, melainkan juga sosok "insider" berpengalaman di markas WHO. Saat ini, Hanan mengemban amanat sebagai Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur setelah sebelumnya sempat menduduki posisi strategis sebagai Asisten Dirjen WHO urusan Antimicrobial Resistance di Jenewa.

​"Pesaing paling kuat saat ini Hanan Balkhy. Dia kandidat paling insider di WHO," kata Dicky, Jumat (28/8).

​Pesaing kuat berikutnya adalah Hans Henri P. Kluge asal Belgia. Menjabat sebagai Direktur Regional WHO Eropa sejak Februari 2020, Hans memiliki rekam jejak mumpuni dalam memimpin penanganan krisis multilateral, mulai dari pandemi Covid-19, wabah Mpox, hingga krisis kesehatan akibat perang Rusia-Ukraina. Selain pengalamannya di lapangan, Hans juga mengantongi dukungan politik yang solid dari blok Eropa pada pemungutan suara World Health Assembly (WHA).

​Sementara itu, rival lain yang profilnya dinilai mirip dengan BGS adalah mantan Menteri Kesehatan Qatar, Hanan Mohammed Al-Quwari. Seperti BGS, Hanan Al-Quwari berasal dari luar birokrasi karier WHO. Keunggulannya terletak pada dukungan finansial serta diplomasi kuat dari negara-negara Teluk.

​Dicky menilai Hanan Balkhy dan Hans Kluge diuntungkan oleh status mereka sebagai dokter yang telah lama membangun jaringan politik di internal WHO. Di sisi lain, BGS dan Hanan Al-Quwari menghadapi tantangan ekstra sebagai figur eksternal.

​Kondisi BGS kian menantang lantaran Indonesia saat ini tidak memiliki kursi di Executive Board (EB) WHO. Tanpa basis kelembagaan internal, modal utama BGS berada pada diplomasi narasi kepemimpinan global south (negara-negara berkembang) serta rekam jejak keberhasilan penanganan program kesehatan domestik di tanah air.

Editor : Ilmidza
menkes budi gunadi