KALTIMPOST.ID, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini terkait potensi kemunculan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah Indonesia untuk periode 2 hingga 8 September 2026. Awan tebal yang berpotensi memicu cuaca ekstrem ini terdeteksi memiliki sebaran tinggi, baik di wilayah daratan maupun perairan.
Berdasarkan pemetaan BMKG, terdapat lima wilayah yang masuk dalam kategori Frequent (FRQ) atau memiliki tingkat cakupan spasial awan Cb melebihi 75 persen. Kelima area tersebut meliputi Sumatera Utara, Selat Malaka bagian utara, serta perairan Samudra Hindia di sebelah barat Aceh, Kepulauan Nias, dan Kepulauan Mentawai.
Sementara itu, wilayah dengan kategori Occasional (OCNL)—yakni cakupan awan berkisar antara 50 hingga 75 persen—tersebar lebih luas di beberapa pulau besar:
- Sumatera: Aceh, Riau, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
- Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
- Papua: Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Tengah.
- Wilayah Perairan: Laut Arafuru bagian tengah, Laut Natuna Utara, Selat Malaka (bagian tengah dan utara), Samudra Pasifik utara Papua & Papua Barat Daya, serta Samudra Hindia barat Bengkulu, Nias, Mentawai, dan Aceh.
Produk Prakiraan Cuaca Penerbangan
BMKG menjelaskan bahwa pemetaan potensi awan Cumulonimbus ini bersumber dari model cuaca numerik yang difungsikan khusus untuk navigasi dan keselamatan penerbangan. Dalam kategorisasinya, BMKG membagi cakupan spasial Cb menjadi tiga tingkat: Isolated / ISOL (di bawah 50%), Occasional / OCNL (50–75%), dan Frequent / FRQ (di atas 75%).
Mengingat awan Cumulonimbus kerap memicu hujan lebat, angin kencang, hingga kilat, BMKG mengimbau para pengguna moda transportasi udara, nelayan, dan pelaku aktivitas maritim di wilayah terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan serta memantau pembaruan cuaca secara berkala.
Editor : Ilmidza