Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok dan Gunung Ibu Erupsi Bersamaan, Ini Penjelasan Badan Geologi

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 19:26 WIB
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dengan mengeluarkan kolom abu vulkanik tebal disertai lontaran material pijar dari kawah. (FOTO: IST)
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dengan mengeluarkan kolom abu vulkanik tebal disertai lontaran material pijar dari kawah. (FOTO: IST)

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Aktivitas vulkanik kembali meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam waktu berdekatan, empat gunung api tercatat mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026).

Keempat gunung tersebut yakni Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, serta Gunung Ibu di Maluku Utara.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya hubungan antara erupsi yang terjadi hampir bersamaan.

Namun, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan, erupsi sejumlah gunung api pada waktu yang berdekatan bukan sesuatu yang luar biasa.

Baca Juga: Mulai 20 Oktober 2026, Beras SPHP Berubah Jadi Beras Kita: Ini Aturan Kemasan dan Subsidi Bulog

Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Kondisi geologi tersebut membuat Indonesia memiliki banyak gunung api aktif dengan karakter dan sistem vulkanik yang berbeda.

Karena itu, erupsi yang terjadi pada beberapa gunung dalam hari yang sama tidak otomatis menunjukkan adanya satu fenomena besar yang menghubungkan seluruh gunung tersebut.

Badan Geologi juga menekankan bahwa setiap gunung memiliki pola aktivitas masing-masing. Erupsi merupakan salah satu bentuk aktivitas vulkanik yang dapat terjadi secara alami dengan tingkat kekuatan berbeda-beda.

Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah perubahan aktivitas pada masing-masing gunung dibandingkan kondisi normal sebelumnya. Dengan demikian, erupsi yang berlangsung bersamaan tidak berarti satu gunung memicu gunung lainnya.

Dinamika Tektonik di Cincin Api

Ahli gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan fenomena tersebut dari perspektif dinamika tektonik.

Menurut dia, Indonesia berada di wilayah dengan aktivitas tektonik sangat kompleks. Sejumlah lempeng bumi bertemu dan saling menunjam di kawasan ini, termasuk Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina terhadap sistem lempeng Eurasia.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari dinamika geologi yang membentuk aktivitas vulkanik di Indonesia.

Baca Juga: Kronologi KH Ahmad Fudholi Meninggal Dunia Usai Kecelakaan di Tol Tangerang-Merak

Meski empat gunung api mengalami peningkatan aktivitas dalam periode yang hampir bersamaan, Daryono menyebut tidak ada mekanisme berupa satu saluran magma bawah tanah yang menghubungkan dapur magma keempat gunung tersebut.

Artinya, erupsi Anak Krakatau tidak secara langsung menyebabkan Semeru, Ili Lewotolok, atau Gunung Ibu ikut erupsi.

Masing-masing gunung memiliki sistem vulkanik sendiri. Erupsi dapat terjadi ketika tekanan magma dan fluida di dalam sistem gunung api telah meningkat hingga mencapai kondisi tertentu.

Kolom Abu Berbeda-beda

Perbedaan karakter erupsi juga dapat dilihat dari ketinggian kolom abu yang dihasilkan masing-masing gunung.

Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain dinamika erupsi, tingkat kekentalan magma, serta kandungan gas vulkanik. Karena itu, aktivitas empat gunung api tersebut tidak dapat disimpulkan sebagai satu rangkaian erupsi yang saling memicu.

Badan Geologi mengingatkan masyarakat untuk tetap mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dari lembaga berwenang.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Bisa Dipakai Bersama Asuransi Swasta, Begini Aturan dan Cara Klaimnya

Pemantauan terhadap perubahan status, rekomendasi kawasan rawan bencana, serta potensi dampak erupsi menjadi hal yang lebih penting dibanding mengaitkan setiap erupsi sebagai akibat dari aktivitas gunung lain.

Editor : Uways Alqadrie
erupsi Gunung Anak Krakatau anak krakatau Ili Lewotolok gunung ibu Semeru