Disebut 'Goblok' Bos Sound Horeg, Ketua Fatwa MUI Jatim Beri Jawaban Menohok

Uways Alqadrie • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 10:49 WIB
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

KALTIMPOST.ID, SURABAYA – Pernyataan kontroversial pengusaha sound horeg yang menyebut Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Ma'ruf Khozin dengan sebutan "goblok" mendapat respons langsung.

Ma'ruf memilih tidak membalas ucapan tersebut dengan kemarahan. Ia justru menganggap pernyataan itu sebagai konsekuensi ketika seseorang menyampaikan pandangan atau aturan yang dinilai mengganggu kenyamanan pihak lain.

Menurut Ma'ruf, dirinya selama ini berinteraksi dengan sejumlah pelaku usaha sound horeg. Salah satunya David Stefan, pemilik Blizzard Audio. Ia menyebut David cukup terbuka berdiskusi dan pernah datang ke kantor MUI Jatim untuk membicarakan persoalan sound horeg serta fatwa yang berkaitan dengannya.

Baca Juga: Kisah Wili Mbuik, ASN Muda Korban Penembakan di Jayawijaya yang Rutin Video Call Ayah di Rote

Sementara itu, Ma'ruf mengaku belum pernah bertemu dengan Setyo Budi Sularso, pemilik Aeromax Sound System, sebelum keduanya dipertemukan dalam sebuah acara televisi.

"Kalau dengan Pak Budi, saya baru bertemu di studio," kata Ma'ruf saat dikonfirmasi, Kamis (10/9/2026).

Ia mengatakan tidak ingin memperpanjang persoalan akibat ucapan tersebut. Ma'ruf bahkan mengibaratkan posisi ulama dalam persoalan ini seperti dokter yang memberikan nasihat kepada pasien.

Ia mencontohkan dokter jantung yang melarang pasien merokok. Larangan tersebut bisa saja dianggap mengganggu oleh pasien yang masih menikmati kebiasaan merokok.

Bagi Ma'ruf, hal serupa dapat terjadi ketika MUI menyampaikan pandangan keagamaan mengenai penggunaan sound horeg.

Anggap Bagian dari Risiko Berdakwah

Ma'ruf juga mengaitkan persoalan tersebut dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Menurut dia, orang yang mengajak kepada kebaikan tidak selalu mendapatkan respons positif.

Karena itu, label negatif yang diarahkan kepadanya tidak dianggap sebagai alasan untuk membalas dengan kemarahan. "Kalau kita mengajak kepada kebaikan, tentu ada yang merasa kenyamanannya terganggu. Itu risiko," ujarnya.

Ia pun meminta masyarakat melihat persoalan secara proporsional. Menurut Ma'ruf, ucapan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.

Ma'ruf kemudian menjelaskan bahwa anggota Komisi Fatwa MUI tidak dipilih sembarangan. Para kiai yang berada di dalamnya memiliki latar belakang pendidikan dan keilmuan yang menjadi salah satu pertimbangan dalam proses seleksi.

Ia menyebut di antara anggota terdapat mereka yang telah menyelesaikan pendidikan doktoral hingga menyandang gelar guru besar.

Baca Juga: Sopir Kadis hingga Penasihat Hukum Terseret Sindikat Sabu-Ekstasi di Balikpapan

Karena itu, Ma'ruf menilai ucapan yang merendahkan kapasitas keilmuan MUI tidak perlu dijawab dengan emosi. "Kalau kita marah, justru kita yang terlihat buruk. Tidak marah bukan berarti membenarkan," ujarnya.

Ma'ruf menduga pernyataan tersebut muncul karena belum memahami secara utuh keberadaan dan mekanisme kerja MUI. Namun, ia memilih tidak memperpanjang polemik tersebut.

Editor : Uways Alqadrie
MUI Jatim kriminal Jatim fatwa mui sound horeg