KALTIMPOST.ID - Low Tuck Kwong kembali menjadi sorotan setelah kekayaannya mengalami perubahan tajam dalam waktu singkat. Pengusaha batu bara tersebut sempat kehilangan sekitar 2,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp44,37 triliun akibat penurunan saham perusahaan yang menjadi sumber utama kekayaannya.
Berdasarkan data real time miliarder Forbes yang dikutip VnExpress, Low Tuck Kwong sempat memiliki kekayaan sekitar 14,8 miliar dolar AS atau setara Rp262,69 triliun. Kondisi tersebut membuatnya turun ke posisi ketiga dalam daftar orang terkaya Indonesia.
Posisinya berada di bawah Robert Budi Hartono dan Prajogo Pangestu. Keduanya tercatat memiliki kekayaan sekitar 16,5 miliar dolar AS atau setara Rp292,86 triliun.
Perubahan posisi Low Tuck Kwong tidak terlepas dari pergerakan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Saham perusahaan tambang batu bara tersebut tercatat mengalami penurunan cukup tajam dalam dua hari perdagangan.
Baca Juga: Misi Bangkit di Moto3 Austria, Veda Ega Pratama Bidik Poin di Red Bull Ring
Pada Selasa, saham Bayan Resources anjlok 8,1 persen. Sehari sebelumnya, saham perusahaan tersebut juga mengalami penurunan sebesar 10,1 persen.
Penurunan harga saham tersebut berdampak langsung terhadap nilai kekayaan Low Tuck Kwong, mengingat Bayan Resources merupakan sumber utama kekayaannya.
Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Pada perdagangan Rabu, saham BYAN mulai berbalik menguat sehingga kekayaan Low Tuck Kwong kembali meningkat menjadi sekitar 16,2 miliar dolar AS pada sore hari.
Meski demikian, posisi Low Tuck Kwong masih berada di urutan ketiga dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes.
Bayan Resources Hadapi Persoalan Produksi
Di tengah pergerakan saham yang cukup tajam, Low Tuck Kwong juga menghadapi persoalan bisnis di Bayan Resources.
Bayan Resources bersama tiga anak usahanya, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima, sebelumnya menyampaikan kondisi force majeure terkait kewajiban pasokan batu bara.
Baca Juga: Erling Haaland Berpeluang Tinggalkan Manchester City pada 2027, Real Madrid dan Barcelona Mengincar
Persoalan tersebut berkaitan dengan permohonan revisi kuota produksi batu bara untuk 2026 yang diajukan ketiga anak usaha Bayan. Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, permohonan tersebut belum memperoleh persetujuan pemerintah.
Revisi kuota produksi diperlukan agar kegiatan produksi dapat dilanjutkan. Kondisi itu kemudian disebut berdampak terhadap kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban kepada pelanggan.
"Kondisi ini memengaruhi kemampuan perusahaan dan anak perusahaan dalam memenuhi kewajibannya kepada pelanggan," tulis Bayan dalam keterbukaan informasi.
Perjalanan Low Tuck Kwong di Bisnis Batu Bara
Low Tuck Kwong mendirikan Bayan Resources pada 2004 setelah sebelumnya membangun bisnis di sektor konstruksi. Ia merupakan pengusaha kelahiran Singapura yang kemudian menjadi warga negara Indonesia.
Perjalanan Low di sektor batu bara telah dimulai jauh sebelum Bayan Resources berdiri. Ia membeli konsesi batu bara pertamanya di Kalimantan pada 1997, lima tahun setelah menjadi warga negara Indonesia.
Sejak saat itu, Low memilih untuk terus mengembangkan bisnis batu bara. Sementara itu, sejumlah perusahaan tambang Indonesia mulai memperluas bisnis ke komoditas lain, termasuk emas dan aluminium.
Bayan Resources kemudian berkembang menjadi salah satu sumber utama kekayaan Low. Kepemilikannya bersama putrinya, Elaine Low, disebut mencapai sekitar 62 persen saham Bayan.
Baca Juga: Tiga Bintang Real Madrid, Termasuk Mbappe, Tuai Kecaman Politikus Spanyol Usai Gulung Kaus Ceuta
Saham Bayan Disebut Tengah Dilirik Investor
Selain persoalan produksi dan pergerakan harga saham, kepemilikan keluarga Low di Bayan Resources juga menjadi perhatian.
Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa kepemilikan sekitar 62 persen saham Bayan yang dikuasai Low dan Elaine tengah dalam pembicaraan untuk dijual.
Salah satu pihak yang disebut tertarik adalah entitas yang dikendalikan pengusaha Indonesia Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
Entitas tersebut disebut telah menawarkan uang tunai senilai 3 miliar dolar AS untuk membeli saham yang dikuasai keluarga Low.
Jika terealisasi, tawaran tersebut mencerminkan valuasi Bayan Resources sekitar 4,8 miliar dolar AS. Nilai itu disebut lebih dari 80 persen di bawah kapitalisasi pasar Bayan yang pada awal September 2026 sempat mencapai sekitar 26 miliar dolar AS.
Perubahan harga saham Bayan dengan demikian menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi nilai kekayaan Low Tuck Kwong. Posisi pengusaha tersebut dalam daftar orang terkaya pun dapat berubah mengikuti pergerakan nilai saham yang dimilikinya.***
Editor : Dwi Puspitarini