Sentil Soal Fenomena Cari Muka di Hadapan Prabowo, Ini Profil Bersahaja KH Hasan Abdullah Sahal

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 10:14 WIB
KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pidato jenaka saat Resepsi 1 Abad Gontor di hadapan Prabowo, termasuk sindiran soal fenomena cari muka. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)
KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pidato jenaka saat Resepsi 1 Abad Gontor di hadapan Prabowo, termasuk sindiran soal fenomena cari muka. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)

KALTIMPOST.ID - KH Hasan Abdullah Sahal menjadi viral setelah menyampaikan pidato dalam acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia berbicara di hadapan Presiden Prabowo Subianto.

KH Hasan Abdullah Sahal merupakan salah satu pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan dan pesantren. Ia juga merupakan putra dari KH Ahmad Sahal, salah satu pendiri Gontor bersama KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi.

KH Hasan Abdullah Sahal kembali menjadi perhatian setelah potongan pidatonya beredar dan diperbincangkan di media sosial. Dalam pidatonya, ia antara lain menyinggung fenomena orang yang mengejar berbagai hal, termasuk jabatan dan pengakuan.

Baca Juga: Komentar 'Hamil Duluan' Muncul Usai Andre Taulany Nikahi Amanda Rigby, Erin Wartia Buka Suara

Pidato Viral KH Hasan Abdullah Sahal di Depan Prabowo

Pidato tersebut disampaikan KH Hasan Abdullah Sahal ketika Presiden Prabowo menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo. Pemerintah mencatat acara tersebut menjadi bagian dari peringatan satu abad perjalanan Gontor dalam bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat serta bangsa.

Dalam pidatonya, KH Hasan Abdullah Sahal sempat menggunakan kehadiran Presiden Prabowo sebagai bagian dari contoh yang disampaikannya kepada para hadirin.

"Andaikata Pak Prabowo hari ini enggak datang. Nah ini, muka saya, saya taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka," katanya, dari YouTube Sekretariat Presiden, dilansir dari Grid.id, Senin (22/9).

KH Hasan Abdullah Sahal kemudian melanjutkan pernyataannya dengan menyinggung orang yang berusaha mendapatkan sesuatu yang belum dimilikinya.

"Sekarang banyak orang yang cari muka. Betul? Orang ndak punya ijazah cari ijazah. Orang ndak punya nama, cari nama. Orang ndak punya uang, cari uang. Orang ndak punya jabatan, cari jabatan. Orang ndak punya muka, cari muka," ujarnya, dari YouTube Sekretariat Presiden, dilansir dari Grid.id, Senin (22/9).

Dalam kesempatan yang sama, KH Hasan Abdullah Sahal juga berbicara mengenai hubungan Gontor dengan Presiden Prabowo. Ia menekankan pentingnya rasa saling percaya dalam hubungan tersebut.

“Insyaallah saya yakin Pak Prabowo ini berbincang-bincang dengan saya. Sudah satu kali, dua kali, tiga kali, sekarang yang keempat kali. Maka saya insyaallah selama Pak Presiden husnudan kepada saya dengan Gontor, insyaallah Gontor husnudan ke Bapak Presiden,” katanya.

Acara tersebut juga diisi dengan penyerahan buku Gontor untuk Indonesia kepada Presiden Prabowo oleh KH Hasan Abdullah Sahal. Buku itu mendokumentasikan perjalanan serta kiprah alumni Gontor dalam berbagai bidang pengabdian kepada Indonesia.

Baca Juga: Gmail Sering Gagal Terima Pesan Baru, Jangan Panik! Ini Cara Membersihkannya

Profil KH Hasan Abdullah Sahal

KH Hasan Abdullah Sahal lahir di Desa Gontor, Ponorogo, pada 24 Mei 1947. Ia merupakan putra keenam KH Ahmad Sahal, salah satu dari tiga tokoh yang dikenal sebagai Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Menurut profil resmi Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal ditunjuk sebagai pimpinan pondok pada 1985. Ia menjalankan kepemimpinan bersama pimpinan lainnya. Saat ini, kepemimpinan PMDG juga melibatkan Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi dan Drs. KH Muhammad Akrim Mariyat.

Selain memimpin Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal juga memiliki perjalanan panjang sebagai pendidik, pengasuh pesantren, pendakwah, dan akademisi.

Pendidikan KH Hasan Abdullah Sahal

Perjalanan pendidikan KH Hasan Abdullah Sahal sudah dimulai sejak kecil di lingkungan Gontor. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Gontor pada 1959. Bahkan, tiga bulan sebelum menyelesaikan pendidikan dasar, ia telah diterima di Kulliyatul Mu'allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Gontor.

Setelah menyelesaikan KMI pada 1965, KH Hasan Abdullah Sahal melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD). Pada masa tersebut, ia juga mengajar di KMI selama sekitar dua setengah tahun.

Pada 1967, ia mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah. Kemudian, pada 1992, ia mengambil spesialisasi Hadis di Universitas Al-Azhar, Mesir.

Kiprah di Dunia Pesantren

Kiprah KH Hasan Abdullah Sahal tidak hanya berlangsung di Pondok Modern Darussalam Gontor. Ia juga mendirikan Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah di Coper, Jetis, Ponorogo, pada 1989.

Tiga tahun kemudian, ia mendirikan sekaligus menjadi pengasuh Pondok Tahfidz Qur'an Al-Muqoddasah di Nglumpang, Mlarak, Ponorogo. Ia juga tercatat sebagai dosen di Institut Studi Islam Darussalam (ISID), yang kemudian berkembang menjadi Universitas Darussalam (Unida) Gontor.

Di lingkungan Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal juga dikenal aktif menyampaikan gagasan mengenai pendidikan, kehidupan pesantren, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam berbagai kesempatan, ia mengingatkan pentingnya menjadikan sejarah sebagai pijakan untuk terus bergerak.

Pengalaman Dakwah hingga ke Luar Negeri

Pengalaman KH Hasan Abdullah Sahal juga tidak hanya berada di Indonesia. Profil resmi Gontor mencatat ia pernah mengikuti Seminar Bahasa Arab di Brunei Darussalam pada 1993.

Ia kemudian berdakwah di sejumlah negara, antara lain Malaysia, Hong Kong, Korea Selatan, dan Jepang. Ia juga melakukan kunjungan ke sejumlah negara lain, termasuk Singapura, Yordania, Suriah, Israel, Turki, Jerman, Prancis, Belgia, Australia, Arab Saudi, Mesir, Thailand, India, dan Pakistan.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang KH Hasan Abdullah Sahal sebagai pendidik dan tokoh pesantren yang aktif berinteraksi dengan masyarakat di dalam maupun luar negeri.

KH Hasan Abdullah Sahal dan 100 Tahun Gontor

Peringatan satu abad Gontor menjadi salah satu momentum penting bagi KH Hasan Abdullah Sahal dan keluarga besar PMDG. Dalam acara yang dihadiri Presiden Prabowo pada 19 September 2026, ia menyampaikan refleksi mengenai perjalanan Gontor selama satu abad.

Selain pidato, KH Hasan Abdullah Sahal menyerahkan buku Gontor untuk Indonesia kepada Presiden Prabowo. Buku tersebut memuat perjalanan serta kontribusi alumni Gontor dalam berbagai bidang pengabdian kepada bangsa dan negara.

Profil resmi Gontor juga mencatat sejumlah karya tulis KH Hasan Abdullah Sahal, di antaranya Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qori', Obsesi Hasan Abdullah Sahal, Ceramah-ceramah Kontemporer, dan Allamatnil Hayah atau Kehidupan Mengajariku.

Dengan perjalanan pendidikan, dakwah, dan pengabdiannya selama puluhan tahun, KH Hasan Abdullah Sahal kini menjadi salah satu figur penting dalam kepemimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Namanya kembali ramai diperbincangkan setelah pidatonya dalam peringatan 100 tahun Gontor di hadapan Presiden Prabowo.***

Editor : Dwi Puspitarini
KH Hasan Abdullah Sahal Pondok Modern Gontor prabowo