KALTIMPOST.ID, Ratusan warga di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, harus mendapatkan perawatan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jumlah korban keracunan MBG di Batang yang sebelumnya tercatat 276 orang kini diperkirakan mencapai sekitar 300 orang dan masih berpotensi bertambah.
Kasus tersebut bermula saat makanan MBG dibagikan pada Selasa (22/9/2026). Keluhan mulai dirasakan sejumlah penerima beberapa jam setelah makanan dikonsumsi.
Wakil Bupati Batang Suyono mengatakan anak sekolah yang makan sekitar pukul 11.00 WIB mulai merasakan gejala pada siang hingga sore hari.
Baca Juga: Detik-Detik Jet Tempur Inggris Hawk T2 Hantam Tanah dan Terbakar, Dua Pilot Melontarkan Diri
"Yang anak sekolah makan jam 11.00 WIB, tapi terasanya sore, jam 01.00 (13.00 WIB) atau jam 02.00 (14.00 WIB)," ujarnya dilansir dari detik.com.
Gejala yang muncul antara lain mual, muntah, diare, pusing, demam, dan lemas. Kasus keracunan MBG di Batang juga tidak hanya dialami siswa.
Sejumlah orang tua ikut mengalami keluhan setelah menyantap makanan yang dibawa pulang anak mereka.
Salah satunya Desi (34), warga Kecamatan Bawang, yang dirawat bersama dua anaknya, Azam (5) dan Syifa (3), di RSUD Kalisari Batang.
Desi mengatakan dirinya ikut memakan telur yang tersisa dari makanan MBG anaknya.
"Dapat dari balita. Kebetulan saya enggak makan nasi, terus ada sisa telur, itu saya makan," ujarnya. Ia mengaku makanan tersebut tidak terlihat mencurigakan saat dikonsumsi. "Enggak ada yang aneh," katanya dilansir dari malangtimes.com.
Namun, setelah mengetahui banyak warga mengalami keluhan serupa, Desi kemudian membawa dirinya dan kedua anaknya ke fasilitas kesehatan.
Dugaan sementara mengarah pada menu telur yang dikonsumsi para penerima MBG.
Suyono mengatakan, sejumlah orang mengeluhkan rasa telur yang berbeda sebelum mengalami mual dan pusing.
"Telur, makan telur, rasanya beda. Setelahnya menjadi mual. Tadi saya
tanya pusing dan mual," katanya, dilansir dari detik.com.
Baca Juga: Pertama dalam Sejarah, Presiden Iran Datang ke New York saat Perang Memanas, Tidak Takut Trump
Meski demikian, pemerintah daerah belum memastikan makanan tersebut sebagai penyebab keracunan MBG, karena pemeriksaan laboratorium masih diperlukan untuk mengetahui sumber masalah secara pasti.
Lonjakan pasien membuat sejumlah rumah sakit dan puskesmas di Batang berada dalam kondisi siaga.
Kapasitas ruang perawatan bahkan sempat penuh sehingga sebagian pasien ditangani di area lorong.
Bupati Batang M Faiz Kurniawan menyebut korban berasal dari berbagai kelompok usia, mulai bayi 10 bulan hingga orang dewasa dan lanjut usia.
"Variatif. Ada yang 10 bulan, yang paling kecil, sampai dewasa dan bahkan mungkin usia senja juga sudah ada," katanya. (*)
Editor : Almasrifah