KALTIMPOST - Kualitas udara di seluruh penjuru Singapura kembali memburuk hingga mencapai level tidak sehat pada Minggu pagi. Kondisi ini dipicu oleh kepungan kabut asap kiriman yang kian pekat dan menyelimuti lima wilayah utama di Negeri Singa tersebut.
Berdasarkan pantauan indeks standar pencemaran udara (PSI) 24 jam, kawasan Singapura bagian tengah mencatat lonjakan tertinggi hingga angka 164 pada pukul 10.00 waktu setempat, seperti dilansir situs berita Media Internasional. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang musim kabut asap tahun ini setelah sebelumnya sempat menembus level 155 pada pagi harinya.
Kondisi serupa merata di empat kawasan lainnya yang sama-sama melampaui batas aman 100. Wilayah barat mencatat angka 148, disusul kawasan timur pada angka 134, kawasan selatan sebesar 131, dan wilayah utara menyentuh indeks 106.
Baca Juga: RDP Komisi XIII DPR dan Ditjenpas: 6 Poin Tegas Usai Temuan Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
Tidak hanya indeks PSI, konsentrasi partikel halus satu jam atau PM2.5 di seantero negeri juga bertahan pada level tinggi, yakni di kisaran 57 hingga 95 pada pukul 10.00. Padahal, angka konsentrasi partikel mikro ini sempat menyentuh puncaknya di rentang 85 hingga 165 saat tengah malam sebelum perlahan melandai.
Pekatnya kabut asap memicu keluhan luas dari warga Singapura yang merasakan langsung dampak buruk udara berbau menyengat tersebut. Sejumlah warga menumpahkan kepanikan dan keresahan mereka melalui berbagai unggahan di media sosial sepanjang malam hingga pagi hari.
"Saya bahkan tidak berani membuka jendela sama sekali karena kondisi udara di luar sangat mengkhawatirkan," keluh Prettyplushy Jamm, salah seorang warga yang membagikan potret kabut pekat lewat unggahan daringnya.
Keluhan serupa diungkapkan oleh Jess Thia yang tinggal di unit lantai tinggi kawasan permukiman perkotaan. "Ketika saya mencoba sedikit membuka jendela sekitar pukul satu dini hari, rasa pahit dan aroma terbakar langsung terasa di lidah," ujarnya menceritakan pekatnya bau asap.
Baca Juga: Penerbit Erlangga Luncurkan Buku Seri Aku Anak Gemilang untuk Anak Usia 5–6 Tahun
Kekhawatiran senada disampaikan oleh warga lainnya, Krittika Samaddar, saat menyaksikan kabut tebal menyelimuti area River Valley pada malam hari. "Saya merasa sangat takut, belum pernah melihat kabut asap sepekat ini turun di malam hari sebelumnya," tegasnya.
Merespons situasi darurat kesehatan lingkungan ini, otoritas setempat segera membuka fasilitas umum berpendingin udara bagi warga yang membutuhkan perlindungan. Sejumlah pusat jaringan warga dan balai komunitas di Whampoa serta Kallang disiagakan setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 21.00 waktu setempat.
Anggota Parlemen Konstituensi Perwakilan Kelompok (GRC) Jalan Besar Shawn Loh memastikan fasilitas perlindungan bagi kelompok rentan telah beroperasi penuh. "Kabut asap semakin memburuk. Banyak warga, terutama para lansia dan siswa yang sedang belajar untuk ujian, merasa sangat cemas. Kami bergerak cepat mengambil tindakan bersama komunitas," tegas Loh.
Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) memprediksi kualitas udara selama 24 jam ke depan masih akan bertahan pada rentang sedang hingga tidak sehat. Badan tersebut menjelaskan bahwa kondisi cuaca kering masih mendominasi wilayah Sumatra bagian selatan dan sebagian wilayah Kalimantan.
Meskipun potensi hujan lokal diperkirakan mengguyur sebagian Singapura, tiupan angin dominan yang bergerak dari arah timur dan tenggara berpotensi terus membawa partikel asap ke pulau tersebut.
Menghadapi paparan polutan tersebut, NEA secara resmi mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas fisik berat di ruang terbuka. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, wanita hamil, serta penderita penyakit jantung dan pernapasan kronis diminta untuk sama sekali menghindari kegiatan di luar rumah.
Editor : Thomas PriyandokoSumber : the strait times