KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Nama KH Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha masuk dalam jajaran pimpinan Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031.
Dalam struktur baru yang diumumkan di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026), Gus Baha dipercaya sebagai salah satu Wakil Rais Aam. Ia mendampingi Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bersama KH Nurul Huda Jazuli, KH Anwar Iskandar, KH Afifuddin Muhajir, dan KH Muhammad Musthofa Aqiel Sirodj.
Katib Aam PBNU Prof Dr Ir KH Mohammad Nuh, DEA, membacakan susunan kepengurusan tersebut dalam pengumuman struktur PBNU periode 2026–2031.
Baca Juga: Susunan Lengkap Pengurus PBNU: Gus Gudfan Jadi Sekjen 2026–2031, Ini Profil dan Jejak Usahanya
Posisi tersebut menempatkan Gus Baha dalam jajaran Syuriyah, yang merupakan unsur pimpinan tertinggi dalam struktur organisasi NU. Berdasarkan Anggaran Dasar NU, Syuriyah memiliki tugas membina dan mengawasi pelaksanaan keputusan organisasi sesuai tingkatannya.
Putra Ulama Ahli Alquran
Gus Baha berasal dari Narukan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Ia lahir dari keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Alquran. Ayahnya, KH Nursalim Al-Hafizh, dikenal sebagai ulama dan pengasuh pesantren Al-Qur'an. Sementara ibunya, Hj Yuchanidz Nursalim, juga berasal dari lingkungan keluarga ulama.
Dari garis ayah, Gus Baha disebut sebagai generasi keempat keluarganya yang menekuni keilmuan Alquran. Dari garis ibu, ia memiliki hubungan keturunan dengan ulama besar Lasem, Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu.
Latar belakang keluarga tersebut turut membentuk perjalanan keilmuan Gus Baha sejak usia dini.
Belajar Alquran Sejak Kecil
Pendidikan agama Gus Baha dimulai langsung dari ayahnya. Ia mendapatkan pembelajaran Alquran sekaligus dasar-dasar ilmu keislaman sejak masih kecil.
Ketika beranjak remaja, Gus Baha melanjutkan pengembaraan ilmu dengan berguru kepada KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen di Pondok Pesantren Al-Anwar, Karangmangu, Rembang.
Selain mendalami Alquran, Gus Baha juga dikenal menguasai literatur keislaman klasik atau kitab turats. Sebuah kajian akademik UIN Sunan Kalijaga mencatat latar pendidikannya di Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah PP Al-Anwar Sarang serta penguasaannya terhadap tradisi kitab salaf.
Baca Juga: Hary Tanoe Laporkan Jusuf Hamka ke Polisi, Polemik MNC Group Masuk Ranah Hukum
Pernah Menetap dan Berdakwah di Yogyakarta
Perjalanan Gus Baha tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren Rembang.
Setelah menikah pada 2003, ia sempat menetap di Yogyakarta dan melanjutkan aktivitas dakwah serta keilmuan di kota tersebut.
Pada periode itu, Gus Baha juga terlibat dalam Lembaga Tafsir Al-Qur'an Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, termasuk dalam aktivitas yang berkaitan dengan kajian dan penerbitan Alquran.
UII juga pernah menghadirkan Gus Baha sebagai penceramah dalam Tablig Akbar di Masjid Ulil Albab pada 2023. Dalam kajiannya, ia membahas pentingnya memahami agama sekaligus menggunakan logika dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah kembali ke Rembang, Gus Baha melanjutkan pengabdian melalui pesantren yang didirikan ayahnya.
Ia kini dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tahfizul Qur'an Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Al-Qur'an (LP3IA) di Rembang.
Pesantren tersebut menjadi salah satu pusat aktivitas Gus Baha dalam mengajarkan Alquran dan ilmu keislaman.
Kajian akademik yang diterbitkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga meneliti pengajian tafsir Gus Baha melalui kanal Official LP3IA, yang merupakan kanal YouTube resmi pesantren yang diasuhnya. Penelitian tersebut mencatat kajian Gus Baha banyak menggunakan Tafsir Jalalain dengan pembahasan yang mencakup aspek bahasa, fikih, sejarah dan literatur klasik.
Baca Juga: Pesantren Krapyak, Tempat Gus Yahya Menimba Ilmu Dukung Pleno PBNU Bahas Pergantian Ketua Umum
Dakwah dengan Bahasa Sederhana
Nama Gus Baha kemudian semakin dikenal luas melalui berbagai pengajian dan rekaman kajiannya yang beredar di internet.
Ciri yang banyak melekat pada penyampaian Gus Baha adalah penggunaan bahasa yang sederhana, diselingi humor, tetapi tetap berangkat dari pembahasan kitab dan referensi keislaman.
NU Online juga mencatat Gus Baha sebagai ulama asal Narukan, Rembang, yang aktif mengisi berbagai pengajian dan kajian keislaman.
Menariknya, popularitas Gus Baha di media sosial tidak sepenuhnya berasal dari aktivitas pribadinya. Banyak rekaman pengajiannya disebarkan oleh santri, jamaah, maupun kanal komunitas.
Sementara itu, kajian tafsir Gus Baha di kanal Official LP3IA menjadi salah satu objek penelitian akademik mengenai penyebaran tafsir Al-Qur'an melalui media digital.
Sudah Berkiprah di Struktur PBNU
Sebelum dipercaya menjadi Wakil Rais Aam PBNU periode 2026–2031, Gus Baha juga telah berkiprah dalam struktur organisasi NU.
Baca Juga: Ketua PBNU Buka Suara Soal Kasus Keracunan MBG Ratusan Santri Sidoarjo
NU Online pada 2022 menyebutnya sebagai Rais Syuriyah PBNU. Dalam sejumlah kesempatan, ia juga aktif menyampaikan kajian keislaman dalam kegiatan NU maupun forum pesantren.
Kini, Gus Baha mendapat amanah baru sebagai Wakil Rais Aam PBNU. Bersama jajaran Syuriyah lainnya, ia berada dalam struktur yang bertugas membina dan mengawasi pelaksanaan keputusan organisasi NU.
Penunjukan tersebut menjadi bagian dari kepengurusan PBNU masa khidmah 2026–2031 di bawah kepemimpinan KH Kikin A Hakim sebagai ketua umum.
Editor : Uways Alqadrie