KALTIMPOST.ID,JAKARTA–Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba skema baru dalam penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di sejumlah daerah. Langkah inovatif ini diterapkan untuk menekan jumlah sampah makanan (food waste) sekaligus menjaga kualitas hidangan agar tetap segar saat dikonsumsi siswa.
Kepala BGN, Sudaryono mengungkapkan, skema prasmanan memungkinkan para penerima manfaat mengambil porsi makanan sesuai porsi dan kebutuhan masing-masing.
Baca Juga: DPR Setujui RUU Perampasan Aset Jadi Inisiatif Dewan, Ditarget Rampung 15 Desember
"Sejauh ini laporan yang saya dapat, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi makanan lebih segar (fresh), kalau ada yang mau nambah masih bisa, dan waste-nya jauh lebih sedikit dibanding metode sebelumnya," kata Sudaryono, Selasa (6/10).
Sistem baru ini menggantikan skema penggunaan wadah ompreng sekat per porsi. Meski demikian, proses pengolahan di dapur pusat (Central Kitchen) tidak mengalami perubahan. Makanan tetap dimasak di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), lalu dikirim dalam kondisi hangat ke sekolah untuk disajikan langsung di kelas.
Baca Juga: Putusan MK Gugatan Syarat Pendidikan Gibran Malam Ini, Ini 8 Tuntutan Denny Indrayana
Saat ini, proyek percontohan (piloting) penyajian prasmanan telah menyasar lebih dari 60 SPPG yang tersebar di pelbagai wilayah, meliputi Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Jayapura, Papua.
Selain aspek efisiensi, BGN menilai skema prasmanan mengandung nilai edukasi bagi para siswa, seperti melatih kedisiplinan dan tatanan kebersihan. Ke depan, siswa juga dapat dilibatkan dalam proses pelayanan secara bergantian dengan pengawasan ketat.
Baca Juga: 7 Korporasi Jadi Tersangka Karhutla di Kaltim, Polda Buka Peluang Pencabutan Izin Usaha
"Kalau prasmanan ini sudah terbiasa akan sangat bagus, sama seperti penerapan di negara-negara lain. Namun memang memerlukan pelatihan (training) yang cukup," katanya.
Hasil evaluasi dari 60 SPPG tersebut nantinya menjadi acuan BGN untuk menentukan keberlanjutan serta perluasan model prasmanan ke daerah-daerah lain secara nasional.(*)
Editor : Thomas Priyandoko