Prakiraan Cuaca Hujan Lebat hingga 12 Oktober, Ini Daftar Daerahnya

Ilmidza • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 19:15 WIB
Ilustrasi hujan. BMKG rilis prakiraan cuaca.
Ilustrasi hujan. BMKG rilis prakiraan cuaca.

KALTIMPOST.ID, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat yang melanda sejumlah daerah di Indonesia hingga 12 Oktober 2026. Meskipun demikian, secara umum sebagian besar wilayah nusantara justru masih mengalami kondisi cuaca yang kering.

​Berdasarkan catatan BMKG, sekitar 79,65% wilayah Indonesia diprediksi hanya akan mendapat pasokan curah hujan kategori rendah—berkisar antara 0 hingga 50 mm per dasarian—pada Dasarian I Oktober 2026. Dominasi cuaca kering ini terutama dirasakan di daerah-daerah yang sebelumnya telah dilanda periode tanpa hujan dalam jangka waktu yang panjang.

​Kendati demikian, dinamika atmosfer skala regional turut memicu potensi hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa titik tertentu. Pada periode 6 hingga 9 Oktober, status siaga cuaca ekstrem tersebut diberlakukan untuk wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, serta Kalimantan Utara.

​Selain itu, peningkatan intensitas hujan sedang juga diprakirakan terjadi di Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Papua Pegunungan, serta Papua.

​Memasuki rentang tanggal 10 hingga 12 Oktober, potensi hujan lebat hingga sangat lebat diprediksi terkonsentrasi di Sumatra Barat dan Jawa Barat. Sementara itu, wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang akan meluas mencakup Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Utara, Papua Pegunungan, dan Papua.

​Kontras cuaca yang cukup tajam ini terjadi karena pola iklim global pada awal Oktober 2026 masih didominasi oleh faktor-faktor yang menekan curah hujan secara merata. Fenomena El Niño berintensitas sangat kuat terpantau masih bertahan di wilayah Samudra Pasifik ekuatorial, dibarengi dengan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang turut menghambat pasokan uap air dari Samudra Hindia ke bagian barat Indonesia.

​Pihak BMKG menjelaskan bahwa kombinasi kedua faktor global tersebut menjadi penyebab utama masihBertahannya kondisi atmosfer yang relatif kering di berbagai wilayah nusantara.

​Di sisi lain, peluang turunnya hujan tetap terbuka berkat dukungan dinamika cuaca regional. Aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpaktif di sekitar Samudra Hindia, didukung oleh suhu muka laut yang relatif hangat serta adanya pola konvergensi dan belokan angin, dinilai mampu menciptakan lingkungan atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

​Oleh karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir serta angin kencang secara lokal.

Editor : Ilmidza
prakiraan cuaca