Wapres RI Ini Punya Nama Sapaan Lain saat Sekolah di Luar Negeri

Thomas Priyandoko • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 12:27 WIB
Hamengkubuwono IX (kanan) mendampingi Soekarno di Yogyakarta tahun 1949. (Foto: Wikipedia)
Hamengkubuwana IX (kanan) mendampingi Soekarno di Yogyakarta tahun 1949. (Foto: Wikipedia)

 

JAKARTA – Tak banyak yang mengetahui sisi lain kehidupan Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Wakil Presiden kedua Republik Indonesia. Sebelum dikenal sebagai Sultan Yogyakarta sekaligus tokoh nasional, ia memiliki nama panggilan Henkie yang digunakan sejak kecil hingga menempuh pendidikan di Belanda.

Hamengkubuwana IX lahir dengan nama Gusti Raden Mas Dorodjatun di Ngasem, Sompilan, Yogyakarta, pada 12 April 1912. Ia merupakan putra Gusti Pangeran Puruboyo dan Raden Ajeng Kustilah.

Ketika berusia empat tahun, Dorodjatun diperintahkan ayahnya untuk tinggal terpisah dari lingkungan keraton. Ia kemudian tinggal bersama keluarga Mulder, orang Belanda yang menjabat sebagai kepala sekolah Neutrale Hollands Javaansche Jongens School di kawasan Gondokusuman, Yogyakarta.

Di lingkungan keluarga tersebut, Dorodjatun mendapat nama panggilan Henkie, yang berarti Henk kecil. Nama itu diambil dari nama Pangeran Hendrik dari Belanda.

Panggilan Henkie terus melekat dalam kehidupannya, termasuk ketika ia melanjutkan pendidikan ke Belanda. Teman-teman dekatnya bahkan tetap menggunakan nama tersebut hingga ia dewasa dan dikenal sebagai Hamengkubuwana IX.

Sri Sultan Hamengkubuwana IX tahun 1973.
Sri Sultan Hamengkubuwana IX tahun 1973.

 

Sempat Sekolah di Semarang dan Bandung

Perjalanan pendidikan Dorodjatun dimulai dari Frobel School, kemudian Eerste Europese Lagere School B. Ia selanjutnya bersekolah di Neutrale Europeesche Lagere School hingga lulus pada Juli 1925.

Setelah itu, Dorodjatun melanjutkan pendidikan menengah di Hoogere Burgerschool (HBS) Semarang pada Juli 1925. Selama tinggal di Semarang, ia menetap bersama keluarga Voskuil.

Namun, karena merasa kurang cocok dengan iklim Semarang yang cukup panas, ayahnya memindahkannya ke HBS Bandung pada 1928. Di Bandung, ia tinggal bersama kakaknya, BRM Tinggarto, di kediaman Letnan Kolonel De Boer, seorang tentara Belanda.

Sebelum menuntaskan pendidikan menengah di Bandung, Dorodjatun dan kakaknya diperintahkan untuk melanjutkan sekolah ke Belanda. Keduanya berangkat melalui jalur laut pada Maret 1930.

Di Belanda, mereka menempuh pendidikan di Gymnasium atau Lyceum Haarlem. Dorodjatun tinggal di kediaman kepala sekolah mereka, Mourik Broekman, dan kerap dipanggil Sultan Henk.

Perbedaan kualitas pendidikan membuat Dorodjatun harus turun dua tingkat kelas ketika bersekolah di Haarlem. Ia juga bukan siswa yang selalu unggul dalam pelajaran. Sejumlah mata pelajaran, terutama geometri dan trigonometri, menjadi tantangan baginya.

Meski demikian, Dorodjatun berhasil menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut pada 1934 bersama kakaknya.

Melanjutkan Kuliah di Universitas Leiden

Setelah lulus dari Haarlem, Dorodjatun melanjutkan pendidikan tinggi di Rijksuniversiteit Leiden, yang kini dikenal sebagai Universitas Leiden.

Ia mengambil studi indologi, bidang yang mempelajari administrasi kolonial, etnologi, dan kesusastraan di Hindia Belanda. Sementara itu, kakaknya memilih bidang hukum.

Namun, Dorodjatun tidak sempat menyelesaikan tesis untuk memperoleh gelar doktorandus. Pada 1939, ia bersama saudara-saudaranya yang berada di luar negeri dipanggil pulang ke Hindia Belanda setelah Jerman menyerbu Polandia dan situasi di Eropa semakin memanas.

Naskah tesis yang hampir selesai dibawanya kembali ke Jawa. Tesis tersebut berjudul Kontrak Politik antara Sunan Solo dan Pemerintah Belanda. Namun, naskah itu kemudian hilang dan tidak pernah dikumpulkan.

Karena tidak sempat menuntaskan proses akademiknya, Hamengkubuwana IX tidak memperoleh gelar dari universitas tersebut.

Dari Sultan Yogyakarta hingga Wakil Presiden RI

Sepulang dari Belanda, perjalanan hidup Dorodjatun memasuki babak baru. Setelah ayahnya, Hamengkubuwana VIII, wafat pada Oktober 1939, ia menjadi penerus takhta Kesultanan Yogyakarta.

Dorodjatun kemudian dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengkubuwana IX pada 18 Maret 1940.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, Hamengkubuwana IX dikenal sebagai tokoh yang mendukung kemerdekaan dan berperan penting dalam pemerintahan Republik Indonesia. Ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama.

Pada 1973, Hamengkubuwana IX dipercaya menjadi Wakil Presiden kedua Republik Indonesia, mendampingi Presiden Soeharto hingga 1978.(*)

 

Editor : Thomas Priyandoko
hamengkubuwono ix kesultanan yogyakarta Wapres RI