KALTIMPOST.ID, Pemerintah Indonesia membuka peluang untuk memanfaatkan kebijakan penurunan harga minyak mentah yang ditawarkan oleh Arab Saudi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pemerintah siap mempertimbangkan opsi tersebut demi memenuhi kebutuhan impor nasional dengan tetap memperhatikan aspek efisiensi dan regulasi.
Menurut Bahlil, prinsip utama pemerintah adalah mencari pasokan energi dari mana saja yang paling menguntungkan bagi negara serta tidak bertentangan dengan aturan yang berlaku.
Pemangkasan Harga Ekspor Minyak Arab Saudi ke Asia
Langkah strategis ini diambil setelah raksasa minyak Timur Tengah tersebut secara mengejutkan memangkas harga jual resmi atau Official Selling Price (OSP) untuk kawasan Asia pada periode November 2026. Kebijakan ini tertuang dalam dokumen harga yang dirilis awal Oktober.
- Diskon Signifikan untuk Asia: OSP minyak mentah untuk pasar Asia ditetapkan US$ 5 per barel di bawah rata-rata harga acuan Oman dan Dubai, atau mengalami penurunan US$ 3 dibandingkan bulan sebelumnya.
- Rekor Potongan Terbesar: Besaran diskon tersebut tercatat sebagai yang paling dalam sejak Juni 2020. Kebijakan ini sekaligus di luar prediksi pasar sebelumnya yang sempat memperkirakan adanya kenaikan harga.
- Potongan Lebih Dalam untuk Jenis Tertentu: Saudi Aramco memberikan potongan harga ekstra untuk jenis minyak mentah berat seperti Arab Medium dan Arab Heavy yang dikirim ke Asia.
- Kebijakan Berbeda di Wilayah Lain: Berbanding terbalik dengan pasar Asia, Saudi Aramco justru menaikkan OSP untuk wilayah Eropa Barat Laut sebesar US$ 3 per barel, sementara harga untuk Amerika Serikat tidak mengalami perubahan.
Strategi Saudi Aramco & Kebijakan OPEC+
Selain memangkas harga dasar, Aramco dikabarkan mempertimbangkan opsi diskon tambahan bagi pasokan minyak yang diangkut dari Oman. Langkah ini bertujuan mengompensasi lonjakan biaya pengangkutan bagi para pembeli sekaligus mengamankan pangsa pasar di tengah gangguan ekspor akibat konflik regional.
Sementara itu, dalam pertemuan awal Oktober, kelompok OPEC+ sepakat untuk tetap mempertahankan target produksi minyak tetap stabil sepanjang November, dengan proyeksi penyesuaian produksi baru akan dilakukan pada tahun depan.
Editor : Ilmidza