KALTIMPOST.ID - Kepulan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian mencekik denyut perekonomian warga di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Pengemudi ojek online (ojol) menjadi salah satu kelompok yang merasakan pukulan telak lantaran pemasukan harian mereka anjlok hingga 50 persen.
Kualitas udara yang kian memburuk memaksa sebagian besar masyarakat membatasi mobilitas dan memilih berdiam di dalam rumah. Kondisi jalanan yang lengang tersebut membuat pesanan jasa transportasi daring merosot tajam dibanding hari-hari biasa.
Jailani, salah seorang mitra ojol di Palangka Raya, menuturkan bahwa orderan yang masuk ke ponselnya kini turun drastis. Penurunan aktivitas warga di luar ruang praktis memangkas separuh dari total pendapatannya.
Baca Juga: Pertalite Langka di Sejumlah SPBU? Pertamina Buka Suara soal Antrean Panjang
"Karena dampak kabut asap ini masyarakat jadi kurang keluar rumah mengingat kondisi udara yang seperti ini," keluh Jailani saat ditemui di sela-sela menunggu orderan, dilansir dari iNews, Selasa (13/10).
Kondisi lesu ini kian mempertegas dampak karhutla yang merembet ke berbagai sendi kehidupan. Bencana asap bukan hanya mengancam kesehatan saluran pernapasan dan meliburkan kegiatan sekolah, melainkan juga memukul roda perputaran uang di sektor informal.
Jailani pun mendesak adanya langkah konkret serta gerak cepat dari jajaran pemerintah pusat maupun daerah dalam memadamkan titik-titik api karhutla.
Lambatnya penanganan dikhawatirkan bakal memperparah krisis lingkungan sekaligus memperpanjang paceklik ekonomi para pekerja harian.
"Kami sangat berharap kabut asap segera menghilang agar warga bisa beraktivitas normal lagi. Penanganan cepat mutlak diperlukan demi memulihkan kesehatan masyarakat dan ekonomi warga yang ikut terdampak," tandas Jailani.***
Editor : Dwi Puspitarini