KALTIMPOST.ID, TENGGARONG - Seleksi daerah (selekda) U-20 garapan Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Kutai Kartanegara (Kukar) sudah memasuki fase akhir. Di partai puncak, Kecamatan Tenggarong akan bersua Kecamatan Muara Badak di Stadion Rondong Demang, Tenggarong, Kamis (15/5).
Di fase semifinal antara Tenggarong dan Sangasanga sempat terjadi kericuhan. Penyebabnya, pemain Tenggarong melakukan selebrasi provokatif di depan bench Sangasanga. Walhasil, tindakan tersebut menyulut emosi pemain dan ofisial yang ada di bench. Kericuhan tak terhindarkan.
Meski memiliki sisa waktu pertandingan, namun Sangasanga memilih untuk walk over (WO). Pada saat itu skor 2-1 untuk keunggulan Tenggarong. Keputusan itu diambil pihak Sangasanga karena tidak puas dengan kinerja wasit. Jika pertandingan diteruskan pun tidak menjamin pemain bisa bermain dengan kondisi emosi stabil.
"Kami tidak apa-apa, WO saja. Karena dari awal keputusan wasit banyak merugikan kami. Permainan sebenarnya berjalan baik, tapi setelah selebrasi provokatif yang dilakukan pemain Tenggarong di depan bench kami, itu mengubah segalanya. Tidak seharusnya mereka melakukan itu, mereka tidak respek dengan tim lawan," ungkap Bahrul, asisten manajer Sangasanga.
Sangasanga sejatinya masih berkesempatan untuk memperebutkan tempat ketiga, Rabu (14/5). Namun mereka memutuskan tidak hadir karena sudah tidak memiliki semangat untuk bertanding setelah kejadian di semifinal. "Kami ada dihubungi panitia untuk final perebutan tempat ketiga, tapi kami putuskan untuk tidak datang. Ini sebagai bentuk kekecewaan kami," imbuh Bahrul.
Babak final akan digelar Kamis (15/5). Tenggarong akan berhadapan dengan Muara Badak yang berhasil mengalahkan Sebulu di semifinal. Seperti diketahui, selekda U-20 ini merupakan program askab PSSI Kukar untuk menyeleksi pemain potensial yang akan diboyong ke Porprov tahun depan di Paser. (*)
Editor : Ery Supriyadi