SAMARINDA - Ambisi cabang olahraga (cabor) Gateball Kaltim untuk menembus level PON kini semakin nyata.Setelah 142 atlet dari tujuh daerah bertanding pada Babak Kualifikasi (BK) Porprov Kaltim VIII/2026, kini giliran Pengprov Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (Pergatsi) Kaltim menegaskan target lebih besar yakni tim Gateball Kaltim lolos ke Pekan Olahraga Nasional (PON).
Ketua Pergatsi Kaltim, Aji Muhammad Fitra Firnanda, mengatakan Firnanda menekankan bahwa BK kali ini bukan semata memenuhi syarat administrasi Porprov. Lebih dari itu, ajang ini menjadi jembatan menuju pembentukan tim Gateball Kaltim untuk PON 2028.
“Gateball Kaltim di mata nasional bukan hal baru. Pornas Korpri XVII/2025 Palembang kemarin kami dapat emas. Artinya, kami punya potensi besar untuk PON. Orientasi kami ke sana. Atlet yang menunjukkan bakat, disiplin, dan kualitas akan kami dorong ke level PON,” tegasnya.
BK Gateball Porprov VIII berlangsung 5–7 Desember 2025 di Lapangan Hockey, Komplek GOR Kadrie Oening, Samarinda. Total pesertanya terdiri atas 142 atlet, pelatih, dan ofisial dari tujuh pengcab yakni Paser, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, Bontang, Balikpapan, dan Samarinda. Mereka tampil pada delapan nomor pertandingan, seperti tunggal putra-putri, dobel putra, triple, beregu putra, dan beregu campuran.
Dia menyebut, jumlah peserta BK kali ini merupakan batas minimal agar gateball dapat dipertandingkan di Porprov 2026. “Pas-pasan jumlahnya, tujuh daerah. Kalau kurang dari itu, cabang ini tidak bisa dilaksanakan. Tapi alhamdulillah terpenuhi,” ujarnya.
Firnanda juga mengapresiasi semangat Kabupaten Paser sebagai tuan rumah Porprov. Ia menilai daerah tersebut berani mengambil langkah besar meski pengcab-nya masih tergolong baru.
“Luar biasa semangat Paser. Mereka berani jadi tuan rumah. Itu angin segar bagi pembinaan gateball di Kaltim,” ujarnya.
Tak lupa ia menyoroti antusiasme daerah lain seperti Berau dan Balikpapan yang mulai berani menurunkan atlet-atlet muda, termasuk pelajar SMA/SMK. Menurutnya, regenerasi adalah kunci agar gateball tak stagnan.
“Kami memenuhi harapan KONI untuk membina atlet muda. Memang usianya muda sekali, jadi standar usia kompetisi harus dikombinasikan. Tapi partisipasinya luar biasa,” katanya.
Firnanda juga mengingatkan pentingnya integritas perangkat pertandingan. “Kunci sukses event adalah fair play. Kalah pun kepala tegak, menang pun kepala tegak. Tidak ada yang merasa dizalimi,” ujarnya mengingatkan.
Menariknya, ia melihat gateball kini mulai dilirik lintas-atlet dari cabang lain. “Ada atlet tenis, ada yang dari biliar juga ikut. Ini menunjukkan gateball makin dikenal dan bisa jadi ruang pembinaan baru,” katanya. (*)
Editor : Sukri Sikki