SAMARINDA - Gelar juara Campus League 2026 Basketball Regional Samarinda belum membuat tim basket putra Universitas Mulawarman (Unmul) berpuas diri. Keberhasilannya mengamankan tiket The National di Jakarta, justru jadi PR besar buat kapten tim Roitsabiq Dwi Pangga dan timnya.
Roit mengaku timnya sempat tampil di bawah tekanan pada laga penentuan setelah tertinggal di kuarter awal. Menurut mahasiswa semester 10 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu, kunci kebangkitan tim terletak pada ketenangan membaca permainan dan kepatuhan terhadap instruksi pelatih.
“Kuarter pertama kami masih kurang fokus, touch juga belum dapat. Tapi coach minta kami tetap tenang, jangan meratapi kesalahan sebelumnya. Dari situ kami evaluasi, pelajari apa yang salah, lalu coba perbaiki di game berikutnya,” ujar Roit usai laga final regional, Minggu (10/5).
Kemenangan tersebut memastikan Unmul menjadi wakil Samarinda sekaligus satu-satunya tim dari luar Pulau Jawa yang akan bersaing di pentas nasional. Bagi Roit, kehadiran Campus League menjawab keresahan lama pebasket kampus di Kalimantan yang selama ini merasa minim jenjang kompetisi setelah lulus SMA.
“Dulu kami merasa basket di Kaltim seperti tidak ada jenjang. Tapi sekarang ada tujuan besar. Campus League jadi panggung baru, dari regional sampai nasional. Itu yang bikin kami makin termotivasi,” katanya.
Baca Juga: Campus League Basketball Samarinda 2026: Unmul Juara, Lolos ke The National di Jakarta
Head Coach Tim Basket Unmul, Tidaryanto Panggalo Sirenden langsung mengalihkan fokus tim ke persiapan nasional yang waktunya dinilai sangat sempit. Program terdekat, kata dia, adalah active rest sebelum kembali menggenjot fisik, pertahanan, dan pembentukan mental tanding.
“Anak-anak tidak bisa berleha-leha. Setelah ini kami fokus fisik, defense, dan evaluasi total. Target kami realistis dulu, main bagus, karena untuk level nasional kami masih harus banyak berbenah,” ujar Tidar.
Persiapan Unmul menuju regional sendiri tidak berjalan ideal. Sejak mengetahui agenda kompetisi pada Januari, mereka terkendala renovasi lapangan kampus, minimnya fasilitas penerangan, cuaca, hingga jadwal kuliah para pemain. Dalam sebulan terakhir, latihan baru bisa dilakukan lebih intensif pada malam hari.
“Lapangan kami outdoor, jadi cuaca sangat berpengaruh. Kalau hujan sore, kami harus datang lebih cepat untuk mengeringkan lapangan sebelum latihan malam,” katanya.
Dari 12 pemain yang dibawa, sebagian besar memang pernah merasakan atmosfer DBL, namun beberapa lainnya baru menjalani kompetisi besar pertama. Karena itu, Tidar menilai kebutuhan terbesar Unmul jelang The National bukan sekadar teknik, tetapi juga jam terbang dan sparring partner berkualitas.
“Skill bisa diasah, tapi mental bertanding harus dibentuk lewat pengalaman,” ucapnya.
Dukungan kampus, menurut Roit, juga jadi semangat. Sebelum bertanding, tim telah menemui Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan untuk meminta restu sekaligus dukungan pengembangan basket Unmul.
“Alhamdulillah pihak kampus mendukung penuh dan siap support kami,” kata Roit.
Bagi Tidar, Campus League bukan hanya turnamen, melainkan momentum penting membangun ekosistem basket perguruan tinggi di Kaltim. Ia berharap ajang ini mendorong lebih banyak lulusan SMA melihat basket kampus sebagai jalur prestasi lanjutan, bahkan membuka peluang beasiswa olahraga di Unmul.
“Ini panggung yang kami tunggu. Mahasiswa sekarang tahu basket tidak berhenti di SMA. Ada jenjang baru yang lebih besar, dan itu harus kami manfaatkan,” ujarnya. (*)
Editor : Sukri Sikki