Head Coach Politeknik Negeri Samarinda (Polnes), Sandy Indracahya, mengaku Campus League menjadi turnamen yang sudah lama ia tunggu. Menurut dia, selama ini panggung basket besar lebih banyak tersedia untuk level SMA, sementara mahasiswa juga masih punya mimpi melanjutkan karier kompetitif mereka.
“Ini yang saya tunggu-tunggu dari dulu. Jadi anak-anak basket bukan cuma SMA saja yang punya mimpi main besar, mahasiswa juga masih ingin main basket,” ujarnya.
Sandy menilai jika Campus League terus berjalan di Samarinda, ajang ini bisa menjadi pesta basket mahasiswa di Kaltim. Ia pun memastikan Polnes ingin terus ambil bagian pada musim berikutnya.
“Kalau ada terus, pasti ikut terus,” katanya.
Hal senada disampaikan Head Coach Universitas Mulawarman (Unmul), Tidaryanto Panggalo Sirenden. Menurut dia, Campus League memberi gambaran bagi pemain SMA bahwa perjalanan basket mereka tidak berhenti setelah lulus sekolah.
“Ini panggung yang kami tunggu. Adik-adik SMA jadi tahu kalau setelah lulus masih ada jenjangnya. Bukan selesai di SMA saja,” kata Tidar.
Pelatih yang membawa Unmul juara regional Samarinda itu berharap ke depan semakin banyak kampus di Kaltim ikut ambil bagian. Sebab, pada musim perdana ini baru empat tim yang mendaftar.
“Semoga ke depan lebih ramai, karena ini panggung bagus sekali. Bahkan ada jalan sampai nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Head Coach Politeknik Negeri Balikpapan (Poltekba), Riswin, menilai Campus League membuktikan pebasket Kaltim tak harus selalu keluar daerah untuk mencari kompetisi besar.
“Enggak usah jauh-jauh ke Jawa. Kita bisa juga punya event besar di daerah sendiri. Tinggal bagaimana kita manfaatkan,” tegasnya.
Riswin justru menyayangkan jika kesempatan seperti ini tidak dimaksimalkan lebih banyak kampus. Dengan level nasional, menurut dia, Campus League bisa jadi wadah penting untuk menjaga pembinaan basket tetap hidup setelah pemain lulus dari SMA.
Campus League Regional Samarinda sendiri menjadi regional ketiga setelah Surabaya dan Yogyakarta. Meski baru diikuti empat tim, kehadirannya mulai dianggap sebagai langkah awal membuka jenjang basket kampus yang saat ini masih sangat minim. (*)
Editor : Ismet Rifani