SAMARINDA – Panjat tebing Kaltim kembali dipanggil untuk mengulang sejarah kejayaan. Bukan sekadar kejuaraan usia muda, Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Kelompok Umur Kaltim 2026 di Venue Sport Climbing GOR Kadrie Oening, Samarinda, jadi harapan titik awal regenerasi besar-besaran demi mengembalikan posisi cabang ini sebagai lumbung medali Bumi Etam.
Hal itu ditegaskan Wakil Ketua Umum I KONI Kaltim, Ego Arifin, saat membuka Kejurprov KU Kaltim 2026, Rabu (13/5). Di hadapan atlet, pelatih, dan pengurus, Ego mengingatkan bahwa panjat tebing selama ini bukan cabang biasa bagi Kaltim, melainkan olahraga dengan sejarah panjang prestasi nasional.
“Kalau bicara panjat tebing, perhatian insan olahraga Kaltim selalu tertuju ke sini. Karena panjat tebing ini punya sejarah prestasi gemilang, baik di multi event maupun single event,” tegasnya.
Ego menekankan, prestasi tidak lahir secara instan. Menurutnya, medali emas yang pernah diraih Kaltim dibangun dari proses pembinaan panjang, kerja keras pelatih, serta keberanian pengurus membaca potensi atlet sejak usia dini.
Karena itu, Kejurprov KU yang berlangsung 13–16 Mei 2026 ini disebut bukan sekadar kompetisi, melainkan fondasi menyiapkan atlet baru untuk menghadapi agenda besar seperti Pekan Olahraga Provinsi, BK PON 2027, hingga PON 2028 di NTB-NTT.
“Senior tidak akan bertahan selamanya. Harus ada atlet-atlet baru yang disiapkan dari sekarang. Ini peluang yang dilihat FPTI Kaltim,” katanya.
Ego bahkan mengajak peserta menoleh ke belakang, mengingat masa ketika panjat tebing Kaltim pertama kali mencuri perhatian nasional pada PON 2000 Surabaya. Dia bercerita, saat itu, panjat tebing berangkat dengan keterbatasan biaya, namun justru sukses menyumbang emas dan mendongkrak posisi Kaltim ke jajaran 10 besar nasional.
“Waktu itu panjat tebing tidak dianggap. Tapi justru memberi kontribusi besar untuk Kaltim. Dari situ sejarah prestasi mulai dibangun,” kenangnya.
Kini, dengan fasilitas Sport Climbing GOR Kadrie Oening yang lebih memadai, KONI Kaltim menilai tidak ada lagi alasan panjat tebing tertinggal. Jika sebelumnya atlet harus menjalani training camp ke luar daerah, kini sarana pembinaan dinilai jauh lebih siap untuk membentuk juara dari kandang sendiri.
“Dengan sarana yang ada sekarang, FPTI harus bisa membuktikan atlet Kaltim bisa juara lagi seperti pendahulunya,” tandas Ego. (*)
Editor : Ismet Rifani