KALTIMPOST.ID-Minat anak-anak dan remaja terhadap olahraga tenis di Balikpapan mulai menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pelatih dan klub tenis dalam menjaga keberlanjutan pembinaan atlet usia muda.
Pelatih Zain Tennis Club Nur Zain mengatakan padatnya aktivitas sekolah dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler membuat waktu latihan anak-anak semakin terbatas. Akibatnya, proses pembinaan dan pencarian bibit atlet potensial tidak berjalan optimal.
Menurut dia, waktu latihan yang ideal bagi atlet usia dini umumnya berlangsung pada siang hingga sore hari.
Namun, pada jam yang sama banyak anak masih menjalani kegiatan belajar maupun aktivitas tambahan di sekolah.
“Waktu latihan yang efektif biasanya siang sampai sore, sementara anak-anak masih memiliki kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler. Kondisi ini membuat program pembibitan atlet junior menjadi sedikit terhambat,” ujarnya.
Selain faktor pendidikan, perkembangan teknologi juga dinilai memengaruhi minat anak untuk berolahraga.
Kehadiran gawai dan berbagai hiburan digital membuat sebagian anak lebih memilih menghabiskan waktu di depan layar dibanding mengikuti latihan olahraga secara rutin.
Meski demikian, pembinaan tenis usia muda di Balikpapan tetap berjalan melalui sejumlah klub dan pusat latihan.
Beberapa lokasi yang aktif melakukan pembinaan di antaranya Balikpapan Tennis Stadium serta lapangan tenis Bukit Damai Indah (BDI).
Tidak hanya menyasar atlet junior, sejumlah klub juga membuka program pengenalan tenis bagi masyarakat umum sebagai upaya memperluas minat terhadap olahraga tersebut.
Nur Zain menjelaskan, untuk menghasilkan atlet yang mampu bersaing, diperlukan latihan yang konsisten sedikitnya tiga kali dalam sepekan.
Karena itu, dukungan orang tua menjadi faktor penting dalam menjaga motivasi dan kedisiplinan anak selama menjalani proses pembinaan.
Ia menilai pengembangan tenis usia dini tidak bisa hanya mengandalkan pelatih dan klub.
Diperlukan sinergi antara organisasi olahraga, sekolah, orang tua, serta instansi terkait agar pembinaan atlet usia 8 hingga 16 tahun dapat berlangsung berkelanjutan.
“Kalau pembinaan berjalan baik sejak usia dini, peluang melahirkan atlet berprestasi akan semakin besar. Karena itu dukungan semua pihak sangat dibutuhkan,” katanya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pelaku pembinaan tenis di Balikpapan tetap optimistis olahraga ini dapat kembali menarik minat generasi muda dan melahirkan atlet-atlet potensial yang mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional. (rd)
Editor : Romdani.