Regenerasi Atlet Arung Jeram Kaltim Berkembang, tapi Terganjal Venue Latihan

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 19:46 WIB
Atlet arung jeram berpacu dalam Open Tournament Arung Jeram Wali Kota Cup di Balikpapan. Ajang ini menjadi salah satu wadah regenerasi atlet muda FAJI Kaltim. (ANGGI PRADITHA/KALTIM POST)
Atlet arung jeram berpacu dalam Open Tournament Arung Jeram Wali Kota Cup di Balikpapan. Ajang ini menjadi salah satu wadah regenerasi atlet muda FAJI Kaltim. (ANGGI PRADITHA/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Regenerasi atlet arung jeram di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan perkembangan yang positif. Indikatornya terlihat dari banyaknya atlet muda yang ambil bagian dalam Open Tournament Arung Jeram Wali Kota Cup di Balikpapan beberapa waktu lalu.

Ketua Harian Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kaltim Michael Henry Smith mengatakan, hampir 80 persen peserta turnamen tersebut berada pada rentang usia 19 hingga 23 tahun. Menurutnya, kondisi itu menjadi sinyal bahwa proses regenerasi atlet arung jeram di Bumi Etam berjalan dengan baik.

"Untuk regenerasi sangat-sangat bagus. Artinya, dengan adanya Open Tournament Wali Kota Cup di Balikpapan, itu menjadi salah satu momen atau sarana untuk pengembangan atlet-atlet muda," kata Smith.

Baca Juga: Jelang Kejurprov Kaltim, PB Hevindo Fokus Hadapi Sirnas C Bayan Open 2026 dan Kejar Ranking Nasional

Berdasarkan pengamatannya, mayoritas peserta masih berada dalam kategori usia yang sesuai dengan regulasi pertandingan arung jeram.

"Kemarin saya lihat hampir 80 persen itu kisaran umur yang memang masih di kelas kategori aturan arung jeram, antara 19 sampai 23 tahun," ujarnya.

Smith menambahkan, pemerataan regenerasi juga terlihat dari semakin banyaknya kabupaten/kota yang terlibat dalam pembinaan. Jika pada Babak Kualifikasi (BK) Porprov sebelumnya hanya sekitar tujuh hingga delapan daerah yang berpartisipasi, pada BK terbaru seluruh 10 kabupaten/kota di Kaltim ikut ambil bagian.

"Jadi, memang berbicara regenerasi, setiap kabupaten/kota banyak memunculkan atlet-atlet muda yang memang diarahkan untuk Porprov," katanya.

Meski tidak semua daerah berhasil lolos ke Porprov, Smith menilai keberadaan atlet muda kini sudah mulai merata di seluruh Kaltim.

"Walaupun ada satu kabupaten/kota yang tidak lolos, secara regenerasi hampir seluruh kabupaten/kota di Kaltim sudah memiliki atlet-atlet muda," jelasnya.

Baca Juga: Tolak Perjuangan Kosong, Andi Harun Minta Gubernur Rudy Mas’ud Pakai Naskah Akademik Tagih Hak DBH Kaltim

Perkembangan tersebut juga mulai tercermin dari prestasi Kaltim di tingkat nasional. Pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) FAJI DKI Jakarta 2024, Kaltim meraih satu medali perak dan empat medali perunggu. Capaian itu meningkat dibandingkan edisi-edisi sebelumnya yang belum pernah menghasilkan podium.

"Kejurnas FAJI DKI Jakarta 2024 memberikan hasil yang signifikan. Sebelumnya kita belum pernah meraih podium. Terakhir di Jakarta kita mendapat satu perak dan empat perunggu," katanya.

Sementara pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, Kaltim berhasil membawa pulang satu medali perunggu.

"Secara data, pada PON kemarin kita mendapat satu medali perunggu," lanjutnya.

Menurut Smith, posisi Kaltim saat ini masih berada di kelompok menengah dalam peta kekuatan arung jeram nasional. Persaingan dengan provinsi-provinsi di Pulau Jawa masih cukup berat, tetapi Kaltim mulai mampu bersaing dengan daerah-daerah di luar Jawa.

"Kita memang baru berkembang. Tapi kalau di luar Pulau Jawa, mungkin peringkat kita sekitar empat atau lima," ujarnya.

Di balik perkembangan tersebut, FAJI Kaltim masih menghadapi tantangan dalam pembinaan atlet. Salah satu kendala terbesar adalah minimnya kesempatan berlatih di venue yang memiliki karakteristik sesuai standar nasional.

Smith menyebut sejumlah sungai potensial berada di Mahakam Ulu, Berau, dan Paser. Namun, lokasi-lokasi tersebut cukup jauh, bahkan sebagian berada di wilayah pedalaman, sehingga membutuhkan biaya mobilisasi yang besar.

"Venue terbaik kita berada di tempat-tempat yang jauh. Itu kendalanya. Venue yang mendekati standar nasional lokasinya jauh, sehingga biaya latihan juga menjadi tinggi," jelasnya.

Sementara itu, venue yang lebih dekat dengan kawasan perkotaan, seperti Muara Sungai Manggar yang digunakan pada Wali Kota Cup, memang cukup memadai untuk latihan maupun penyelenggaraan kejuaraan. Namun, karakter sungainya belum menyerupai lintasan yang digunakan pada kompetisi nasional.

"Sungainya belum mendekati standar level nasional karena tidak berarus deras dan tidak memiliki jeram. Jadi, ketika bertanding di level nasional yang arusnya deras, atlet kita terkadang masih kaget," ungkapnya.

Karena itu, FAJI Kaltim berharap pemerintah dapat memberikan dukungan, khususnya untuk membantu mobilisasi atlet menuju lokasi latihan yang memiliki karakter sungai sesuai standar pertandingan nasional. (*)

Editor : Ery Supriyadi
regenerasi atlet Kaltim venue arung jeram FAJI Kaltim Porprov Kaltim Arung Jeram Kaltim