KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Mengejar prestasi di level nasional membuat atlet renang Kaltim harus membagi waktu lebih ketat. Saat sebagian orang mulai beristirahat, para perenang Kaltim justru kembali bersiap menuju kolam. Latihan bahkan digelar dalam dua sesi, sore hingga malam dan kembali dimulai sejak dini hari.
Gambaran itu terlihat saat Ketua KONI Kaltim, Anderiy bersama Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Rasman memantau langsung latihan atlet akuatik di Kolam Renang Mulawarman, Balikpapan, Selasa (25/8) malam.
Para atlet yang berlatih merupakan bagian dari pembinaan akuatik Kaltim. Sebagian di antaranya dipersiapkan menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim VIII/2026 Paser, November mendatang. Namun, pembinaan tersebut juga diarahkan untuk target yang lebih besar, yakni Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 Nusa Tenggara.
Baca Juga: Subsidi Membengkak, Pemerintah Ubah Skema LPG 3 Kg Berbasis Penerima Manfaat pada 2027
Ketua Akuatik Kaltim Alimuddin mengatakan, tingginya target prestasi membuat intensitas latihan atlet harus terus dijaga. Bahkan, jadwal latihan mesti disesuaikan dengan kesibukan atlet yang sebagian berstatus pelajar dan pekerja.
“Begini kondisi atlet renang kami, dari jam 6 sore sampai jam 9 malam mereka latihan, nanti gelombang kedua jam 5 subuh sampai jam 8 pagi baru selesai. Intinya, mereka latihan di luar aktivitas mereka sebagai pekerja maupun pelajar,” ungkapnya.
Rutinitas tersebut menjadi bagian dari upaya membentuk atlet yang mampu bersaing di level nasional. Apalagi, akuatik dinilai memiliki peluang besar menyumbangkan medali bagi Kaltim. Cabang olahraga ini tercatat memiliki 59 nomor pertandingan.
Namun, tingginya intensitas latihan belum sepenuhnya ditopang fasilitas yang ideal. Alimuddin menyebut Kolam Renang Palaran sebenarnya telah memenuhi standar nasional, tetapi saat ini membutuhkan pembenahan agar dapat kembali digunakan secara optimal.
“Sebenarnya kolam renang Palaran sangat mumpuni karena sudah sesuai standar nasional. Tinggal bagaimana Pemprov Kaltim bisa mendukung untuk melakukan pembenahan sedikit agar kolam tadi bisa layak kembali digunakan,” ujarnya.
Menurut dia, pembenahan kolam renang di Kompleks Stadion Utama Kaltim Palaran lebih memungkinkan dibanding membangun fasilitas baru di kompleks Gelora Kadrie Oening, Sempaja. Fasilitas tersebut dinilai bisa menjadi salah satu penopang pembinaan atlet akuatik Kaltim dalam jangka panjang.
Selain fasilitas, kualitas pelatih juga menjadi perhatian. Alimuddin mengusulkan agar Kaltim mendatangkan pelatih profesional dari negara yang memiliki tradisi kuat dalam olahraga renang.
Baca Juga: Kemenag Buka Beasiswa BeaZakat 2026, Kuliah S1 Fully Funded 4 Tahun
“Bisa pelatih dari Australia, Amerika, atau China dan Rusia, karena mereka punya program yang bisa mendongkrak prestasi atlet dan reputasi mereka sebagai salah satu kekuatan renang dunia,” katanya.
Ia menilai investasi untuk mendatangkan pelatih asing justru dapat lebih efisien dibanding mengirim atlet menjalani pemusatan latihan ke luar negeri.
Usulan itu mendapat respons dari KONI Kaltim. Anderiy menyatakan pihaknya membuka peluang menggandeng perusahaan maupun mitra sebagai pendukung pembiayaan pembinaan atlet melalui skema bapak angkat.
“Hal ini membantu kita, baik KONI maupun Pengprov, terhadap beban biaya yang dikeluarkan dalam pembinaan nanti,” kata Anderiy.
Anderiy meminta pengurus Akuatik Indonesia (AI) Kaltim segera menyusun program latihan beserta kebutuhan anggaran untuk mendatangkan pelatih profesional. Perencanaan tersebut nantinya dapat menjadi dasar bagi KONI dalam menawarkan skema kerja sama kepada calon mitra.
Sementara itu, Rasman meminta pengurus akuatik menyiapkan usulan pembenahan Kolam Renang Palaran untuk disampaikan kepada Gubernur Kaltim.
“Harapan saya bisa segera, karena pembangunan kolam renang di Stadion Kadrie Oening sebenarnya bagian dari menunjang fasilitas hotel. Kalau bisa dua berjalan, di Palaran tetap bisa ikut diperbaiki karena biayanya tidak terlalu besar juga,” kata Rasman.
Bagi para perenang Kaltim, target PON bukan hanya soal berapa banyak nomor yang dipertandingkan atau medali yang tersedia. Di baliknya, ada rutinitas panjang yang dimulai sebelum matahari terbit dan berlanjut hingga malam. Tinggal memastikan kerja keras itu ditopang fasilitas dan program pembinaan yang sepadan. (*)
Editor : Ery Supriyadi