KALTIMPOST.ID, Memutuskan untuk menekuni balap motor merupakan takdir terbaik bagi seorang Rizal Feriyadi. Kini dari aksinya di atas kuda besi, pebalap 24 tahun itu bisa meraih prestasi.
Sama seperti remaja umumnya, Rizal, satu di antara sekian banyak remaja yang doyan melakukan balapan liar di jalan raya.
Hal itu kerap dia lakukan sebelum memasuki 2013. Meski sadar bahaya balapan liar, pebalap yang akrab disapa Dzumafo itu tetap kekeuh ugal-ugalan di atas aspal.
Hingga akhirnya, dirinya tersadar oleh ucapan sang paman, Aziz, awal 2013. Saat itu paman dari Rizal yang merupakan pemilik bengkel di Desa Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, menasehati Rizal untuk berhenti balapan liar. Sang paman menyarankan agar Rizal balapan resmi agar tidak mencelakai orang lain di jalan umum.
Ucapan Aziz rupanya menjadikan Rizal mulai berpikir untuk masuk ke balapan resmi. Perlahan, Dzumafo mulai belajar balapan untuk event resmi. Namun masalah tak berhenti di situ, giliran dia mulai tekun di balapan resmi, Dzumafo tak mendapatkan restu orangtua.
Namun tekadnya sudah bulat untuk balapan. Walhasil, beberapa kali Dzumafo terpaksa balapan tanpa memberi tahu orangtuanya.
“Saya memulai karier balap saya dengan tidak mudah. Dari balapan liar yang tidak menghasilkan apapun, kemudian tidak dapat izin orang tua sampai akhirnya saya bisa mendapatkan dukungan setelah orang tua saya melihat tekad saya di balapan,” ungkap Dzumafo.
Di balap motor Dzumafo menjalani masa-masa terbaiknya. Tak hanya balapan di level provinsi atau nasional, Dzumafo juga kerap balapan di luar negeri.
Salah satu prestasi terbaiknya adalah saat dirinya dikontrak Suzuki dan mengikuti beberapa event di Asia.
“Saat masuk di Suzuki itu effort-nya luar biasa. Saya sempat gagal ikut seleksinya, kemudian saya coba lagi di lain kesempatan akhirnya diterima. Saya beberapa kali naik podium di Asia tapi terbaiknya ada di posisi kedua. Itu jadi pengalaman yang tidak terlupakan,” ucap dia.
Kepiawaiannya menunggangi kuda besi membuat Dzumafo tak kesulitan mendapatkan tim yang bersedia menggunakan keahliannya.
Saat ini dirinya tercatat sebagai pebalap aktif milik Merak Racing Team, Samarinda.
Prestasi Dzumafo kembali disorot saat berhasil meraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumut 2024.
Bermain bersama Dimas Juliatmoko, Dzumafo berhasil meraih emas di nomor modifikasi beregu. Lebih istimewa, emas yang diraih Dzumafo adalah emas yang sudah dinantikan selama 16 tahun.
Dzumafo bersyukur bisa menyumbangkan medali emas yang sangat dinantikan tersebut. Dia pun tak menyangka bisa meraih prestasi tersebut di kesempatan keduanya di PON.
“Ini PON kedua saya, yang pertama saya belum berhasil. Alhamdulillah PON kali ini bisa kasih emas. Bisa jadi ini PON terakhir saya karena jika di PON selanjutnya diberlakukan pembatasan usia tentu saya tidak bisa bermain lagi di PON 2028,” kata dia.
Ya, usia Dzumafo saat ini 24 tahun. Sementara di balap motor informasinya menggunakan pembatasan usia yakni maksimal 25 tahun.
Meski demikian, Dzumafo tak menyesali jika dirinya tak bisa lagi tampil di PON. Setidaknya, dia telah mencatat sejarah pernah memberikan emas PON untuk Kaltim.
“Sebenarnya masih pengin tampil di PON, tapi kalau terhalang usia, mau bagaimana lagi. Yang penting saya sudah pernah tampil di PON dan sudah memberikan yang terbaik,” tukas Dzumafo.
Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel Kaltim Post
Editor : Hernawati