KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pembinaan olahraga prestasi harus didukung oleh semua pihak. Pembinaan usia dini menjadi starting point untuk melahirkan atlet potensial berprestasi pada masa mendatang.
Kaltim darurat atlet. Hal tersebut digaungkan oleh KONI Kaltim sepulang dari perjuangan di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh-Sumatra Utara. Darurat yang dimaksud, tidak banyak atlet yang tersisa, untuk bisa kembali membantu Kaltim berjuang di multiajang edisi berikutnya, PON XXII/2028 Nusa Tenggara.
Dari 344 atlet yang berhasil menyumbang medali emas untuk Kaltim di PON 2024, hanya sekira 20 persen saja yang tersisa untuk PON 2028. Atau hanya sekira 69 atlet. Nah, sebelum jauh terlambat, sejak kini KONI Kaltim menggandeng berbagai pihak demi menggencarkan regenerasi demi menciptakan golden era pada masa mendatang.
“Kami menyampaikan Kaltim saat ini darurat atlet. Untuk melalui masa sulit itu, potensi kita ada di usia dini,” ucap Ketua KONI Kaltim Rusdiansyah Aras. Hal tersebut dia sampaikan saat dalam diskusi perkembangan olahraga prestasi Kaltim di Kolam Pemancingan Ulin Arya, Jalan PM Noor Samarinda, Kamis (27/2) pagi.
Pada kesempatan tersebut, pria yang karib disapa Rusdi itu memaparkan hasil evaluasi kontingen Kaltim. Turut hadir dalam pertemuan Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LeKOP) Indonesia, delegasi Sekretariat Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) Kaltim, hingga masyarakat olahraga lainnya.
Rusdi tak memungkiri, membangun prestasi tidak simsalabim. Butuh waktu. “Tetapi kalau tidak digerakkan sejak sekarang, kita akan kesulitan dan tidak bisa berharap banyak bisa berprestasi pada masa mendatang. Langkah ini harus diambil sejak sekarang. Sinergitas kami dengan DBON sangat diperlukan,” tegas Rusdi.
Hal tersebut disambut hangat oleh pembina LeKOP Indonesia Achmad Husry. Ini adalah pertemuan baik, di mana semua pihak sepakat mengusung pentingnya pembinaan usia dini, setelah muncul topik tentang darurat atlet. “Tetapi perlu diperhatikan juga dari sisi teknis dan yuridisnya, karena pembinaan ini tidak lepas dari perkembangan kebijakan pemerintah daerah,” urai tokoh pembesar olahraga Kaltim ini.
Salah satu tantangan saat ini adalah proses transisi pengelolaan Sekretariat DBON. Sebab, beberapa waktu terakhir, santer wacana restrukturisasi di tubuh induk pembina olahraga usia dini di Kaltim tersebut. Tentang itu, Husry berharap semua pihak bisa membicarakan hal tersebut dengan kepala dingin.
“Sayang kalau sampai ini tak berlanjut, karena sudah ada investasi di sana. Ada potensi yang sudah lahir, dan mulai disinergikan pula dengan program oleh KONI ke depan” tegasnya.
Terlepas dari hal tersebut, Husry mendoakan agar pembinaan olahraga prestasi Kaltim bisa terus berjaya dan berdaya. “Itu yang diharapkan. Dan, agar itu terwujud, perlu kesadaran dari semua pihak tentang pentingnya pembinaan olahraga prestasi ini,” tuntasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi