KALTIMPOST.ID, BONTANG – Langkah Sekolah Sepak Bola Bagus Prabowo Football Academy (BPFA) asal Kota Bontang harus terhenti di babak 16 besar kategori Plate pada ajang internasional Milo Selangor Open 2026 di Selangor, Malaysia.
Meski gagal melaju lebih jauh, jajaran pelatih menilai turnamen lintas negara tersebut memberikan pengalaman berharga bagi para pemain usia dini BPFA.
Pelatih BPFA, Bagus Prabowo, mengatakan seluruh rangkaian pertandingan telah dilalui timnya. Dari ajang itu, para pemain merasakan langsung perbedaan kualitas permainan dengan akademi-akademi sepak bola dari negara lain.
Baca Juga: Ruang Operasi dan ICU Baru RSUD HIS Resmi Beroperasi, Layanan Kesehatan Makin Modern
“Hasilnya kami kalah di 16 besar. Tapi ini pengalaman yang luar biasa. Kami melihat langsung tim-tim dari negara lain jauh lebih maju, dan itu menjadi pelajaran yang sangat berharga,” ujar Bagus, Minggu (1/2/2026).
Pada fase penyisihan grup, BPFA U-10 finis di peringkat kelima dari enam tim. Secara keseluruhan, BPFA menjalani enam pertandingan, terdiri dari lima laga fase grup dan satu laga di babak 16 besar kategori Plate.
Dari enam pertandingan tersebut, BPFA mencatatkan satu kemenangan dan lima kekalahan. Di fase grup, BPFA kalah 0-2 dari Velocity FC, kalah 0-5 dari Anak Kota FC, menang 1-0 atas HIRA, kalah 0-2 dari JSA United, serta kalah 0-9 dari CCNS Negeri Sembilan.
Baca Juga: Genjot PAD Lewat Event Olahraga, Pemkab Paser Minta Dukungan Kemenpora
Sementara itu, di babak 16 besar kategori Plate, BPFA kembali harus mengakui keunggulan Fireball FA dengan skor 0-9.
“Kami hanya satu kali menang, selebihnya kalah. Tapi anak-anak sudah berjuang maksimal,” ucap Bagus.
Meski hasil belum sesuai harapan, ia menegaskan seluruh tim tetap bangga bisa mengikuti turnamen internasional untuk pertama kalinya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan pihak-pihak yang telah memberikan dukungan.
Baca Juga: DPRD Bontang Turun Lapangan, Batching Plant di Tanjung Laut Indah Terancam Gagal Beroperasi
“Kami bersyukur dan bangga bisa membawa anak-anak tampil di event internasional. Ini berkat dukungan orang tua, Pak Ketua Dewan Andi Faiz, Bunda Semmy, BPFA Tour Umroh, Bank Kaltimtara, dan SMK YKPP,” katanya.
Terkait evaluasi, Bagus menyebut mental bertanding menjadi pekerjaan rumah utama. Ia menilai para pemain sempat kehilangan kepercayaan diri saat menghadapi lawan dari luar negeri.
“Evaluasi paling mendasar adalah mental. Ketika melihat lawan dari negara lain, anak-anak langsung down,” ungkapnya.
Baca Juga: Fakta Lengkap Kematian Eks Sekjen Pordasi DKI, Dianiaya Berhari-hari Lalu Dibuang di Bantul
Selain mental, pembenahan teknik dasar juga menjadi fokus ke depan. Menurutnya, pembinaan harus dimulai sejak usia sangat dini agar kemampuan dasar pemain benar-benar kuat.
“Teknik dasar harus dilatih sejak usia 5 atau 6 tahun. Ini menjadi evaluasi menyeluruh untuk BPFA ke depan,” tegasnya.
Bagus berharap pengalaman berlaga di Milo Selangor Open dapat menjadi titik awal peningkatan kualitas pembinaan BPFA, baik dari sisi mental, teknik, maupun jam terbang internasional.
Baca Juga: Leny Marlina Kembali Terpilih Pimpin Ketua BPC PHRI Samarinda Periode 2026–2031 secara Aklamasi
“Ini bukan akhir, tetapi awal dari pembelajaran besar bagi kami,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi