KALTIMPOST.ID, YOGYAKARTA – Sosok Prof Djoko Suryo dikenal sebagai salah satu akademisi yang memiliki perjalanan panjang dalam pengembangan ilmu sejarah di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Lahir di Karanganyar, Pekalongan, Jawa Tengah, pada 30 Desember 1939, Djoko tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan pendidikan umum dan keagamaan. Sejak kecil, ia mendapat dorongan dari kedua orang tuanya untuk menempuh pendidikan sebagai bekal menjadi seorang pendidik.
Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Rakyat Karanganyar hingga 1953. Setelah itu, Djoko melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru B (SGB) di Wiradesa dan menyelesaikannya pada 1956.
Baca Juga: Guru Besar UGM Prof Djoko Suryo Meninggal Dunia, Jenazah Disemayamkan di Balairung UGM
Prestasinya kemudian membawanya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru A (SGA) di Yogyakarta. Ia menyelesaikan pendidikan tersebut pada 1959.
Selepas itu, Djoko memulai kiprahnya sebagai guru sekolah dasar. Ia pernah mengajar di Widoro, kawasan Wates, kemudian berpindah ke Kulon Progo dan Payak, Piyungan, Bantul.
Menariknya, aktivitas mengajar tidak membuatnya berhenti belajar. Djoko tetap melanjutkan pendidikan tinggi sembari menjalankan tugas sebagai guru.
Ia sempat menempuh pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan sebelum beralih ke Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UGM.
Perjalanan kuliahnya dilakukan dengan penuh perjuangan. Saat mengajar di Wates, misalnya, Djoko harus menempuh perjalanan puluhan kilometer menggunakan sepeda untuk mengikuti perkuliahan di Yogyakarta.
Pada 1965, ia memperoleh gelar sarjana muda dan kemudian dipercaya menjadi asisten dosen di Jurusan Sejarah UGM. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1970 melalui karya ilmiah mengenai perdagangan candu di Indonesia pada abad ke-19.
Menekuni Sejarah Sosial
Karier akademiknya berkembang setelah Djoko terlibat dalam kegiatan penelitian yang digagas sejarawan Prof Sartono Kartodirdjo.
Pada awal dekade 1970-an, ia bergabung dalam Lembaga Studi Pedesaan dan Kawasan. Dari sinilah perhatian akademiknya semakin kuat pada sejarah pedesaan, pembangunan, serta dinamika sosial dan ekonomi masyarakat.
Djoko juga aktif dalam berbagai kegiatan penelitian dan penyusunan karya sejarah nasional. Pengalamannya tersebut kemudian membuka jalan bagi keterlibatannya dalam forum akademik internasional.
Pada 1974, ia mengikuti seminar International Association of Historians of Asia (IAHA). Dalam forum tersebut, Djoko mempresentasikan penelitian mengenai Peristiwa Tiga Daerah pada masa awal Revolusi Indonesia.
Paparan tersebut menarik perhatian akademisi Australia hingga akhirnya Djoko melanjutkan pendidikan ke Monash University.
Baca Juga: 10.992 ASN Gowa Belum Gajian, Pemkab Ungkap Penyebab dan Titik Hambatan Pembayaran
S2 dan S3 di Australia
Pada periode 1977–1982, Djoko menempuh pendidikan magister sekaligus doktoral di Monash University, Australia.
Ia mengambil kajian yang berkaitan dengan sejarah sosial ekonomi Semarang. Penelitian tersebut kemudian menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan akademiknya.
Sekembali ke Indonesia, Djoko kembali mengabdi di UGM. Ia dipercaya memimpin Jurusan Sejarah UGM hingga 1991.
Pada 1991, tanggung jawab yang lebih besar kembali diberikan kepadanya. Djoko dipercaya menjadi Dekan Fakultas Sastra UGM dan menjalankan jabatan tersebut selama dua periode hingga 1997.
Di bawah kepemimpinannya, pengembangan bidang akademik terus dilakukan. Salah satunya dengan pembukaan perkuliahan bahasa Korea pada 1995, yang kemudian berkembang seiring hubungan akademik UGM dengan perguruan tinggi di Korea Selatan.
Djoko juga menjadi bagian dari pendirian Pusat Studi Korea UGM dan kemudian dipercaya memimpin lembaga tersebut.
Kiprah di Dunia Pendidikan Nasional
Pengabdian Djoko tidak hanya berlangsung di lingkungan UGM.
Ia turut terlibat dalam penyusunan dan penyempurnaan kurikulum pendidikan nasional, khususnya bidang sejarah. Keterlibatannya mencakup pendidikan dasar dan menengah hingga pendidikan tinggi.
Pada era 1980-an dan 1990-an, ia ikut dalam sejumlah proses penyusunan kurikulum sejarah. Ia kembali terlibat dalam penyempurnaan kurikulum pada periode berikutnya.
Baca Juga: KRL Bogor-Jakarta Tak Beroperasi untuk 12 Perjalanan, Ini Jadwal yang Dibatalkan hingga 30 September
Di tingkat perguruan tinggi, Djoko juga berperan dalam pengembangan kurikulum bidang sejarah, sastra, dan filsafat. Selain itu, ia menjadi editor sekaligus penulis dalam proses penyusunan kembali Sejarah Nasional Indonesia.
Mendapat Gelar Kehormatan Keraton
Atas pengabdian dan kontribusinya terhadap Keraton Yogyakarta serta bidang kebudayaan, Djoko Suryo mendapat gelar kehormatan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Keraton Yogyakarta memberikan nama paringan KRT Suryohadibroto kepadanya.
Perjalanan panjang Djoko Suryo menunjukkan kiprahnya bukan hanya sebagai akademisi dan sejarawan, tetapi juga sebagai pendidik, peneliti, serta pengembang ilmu pengetahuan.
Editor : Uways Alqadrie