KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Seragam cokelat menjadi pakaian sehari-hari. Namun, ketika berada di atas arena, Bripda Gabriel Simorangkir punya peran berbeda. Personel Sat Intelkam Polres Kutai Timur (Kutim) itu kembali menjadi atlet taekwondo yang memburu prestasi.
Kecintaannya terhadap taekwondo tumbuh sejak duduk di bangku SMP. Saat itu, Gabriel mengikuti ekstrakurikuler taekwondo di SMP 1 Sangatta Utara. Awalnya sekadar mengisi kegiatan di sekolah. Namun, bakatnya kemudian dilihat oleh sang pelatih.
Baca Juga: Turnamen 3x3 Piala Panglima TNI Digelar di Samarinda, Jadi Ajang Pembinaan Atlet Pelajar
Gabriel pun diarahkan untuk menekuni nomor poomsae atau seni dalam taekwondo. "Awalnya ikut ekskul saja di SMP. Karena pelatih melihat ada bakat, saya kemudian dimasukkan ke atlet bagian seni," kata Gabriel.
Dari sana, prestasinya mulai terbentuk. Pada 2016, ketika masih duduk di kelas II SMP, Gabriel mengikuti kejuaraan taekwondo tingkat junior se-Kalimantan Timur (Kaltim). Prestasi tersebut menjadi pintu masuknya ke kompetisi yang lebih tinggi.
Setelah itu, Gabriel dipercaya mewakili Kalimantan Timur di tingkat nasional. Saat SMA, ia juga mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2018. Ketika kelas X, Gabriel bersekolah di SMA 2 Sangatta Utara. Dua tahun berikutnya, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Khusus Olahragawan Internasional (SKOI) di Samarinda.
Perjalanan sebagai atlet kemudian turut membuka jalannya menuju institusi kepolisian. Setelah mengikuti PON Papua 2021, Gabriel mendapat informasi mengenai jalur prestasi dalam penerimaan anggota Polri.
"Sebenarnya memang sudah ada niat daftar polisi. Cuma saya pikir awalnya hanya ada jalur umum. Ternyata ada jalur prestasi, jadi saya ikut," ujarnya.
Gabriel resmi bergabung sebagai anggota Polri pada akhir 2022. Memasuki awal 2023, ia mengawali masa dinas di Dit Samapta Polda Kaltim sebelum kemudian ditugaskan di Polres Kutim pada pertengahan tahun yang sama.
Menjadi anggota Polri tidak membuatnya meninggalkan dunia taekwondo. Justru, dukungan dari institusi membuatnya tetap bisa menjalani karier sebagai atlet.
"Tadinya saya berpikir kalau sudah dinas, fokusnya ke dinas saja. Tapi ternyata dari satuan kepolisian mendukung untuk tetap menggeluti dunia atlet," katanya.
Prestasi pertama setelah berdinas diraih dalam Kapolda Jogja Cup 2023. Gabriel keluar sebagai juara pertama sekaligus meraih penghargaan best player. Prestasi tersebut kemudian mendapat apresiasi dari Kapolres Kutim kala itu.
Sejak saat itu, koleksi prestasinya terus bertambah. Hingga kini, Gabriel memperkirakan sudah mengoleksi sekitar 12 medali dari berbagai kejuaraan, mulai tingkat daerah, nasional hingga internasional.
Prestasi terbarunya datang dari dua ajang berbeda. Pada The 22nd WATA Open Taekwondo International Championship 2026 di Osaka, Jepang, Gabriel meraih dua medali emas. Masing-masing dari kategori Individual Poomsae Male Under 30 Advance dan Team Poomsae No Age Limit Advance.
Sementara pada Kejuaraan Taekwondo Panglima TNI Cup 2026 yang berlangsung 18–20 September, Gabriel kembali menyumbangkan dua emas bersama Tim Garbha Presisi Polri.
Dua emas itu diraih dari nomor Poomsae Pair Kelas TNI-Polri dan Poomsae Beregu Putra Kelas TNI-Polri.
Bagi Gabriel, membagi waktu antara tugas kepolisian dan latihan menjadi tantangan tersendiri. Ketika mendapat surat perintah untuk mewakili Polri dalam sebuah kejuaraan, ia dapat fokus menjalani program latihan sebagai persiapan pertandingan.
Dukungan serupa juga tetap diberikan ketika Gabriel membela nama daerah. Namun, pola latihannya harus disesuaikan dengan jadwal kedinasan. Usai menjalankan tugas, ia memanfaatkan waktu luang untuk berlatih, bahkan bisa menjalani latihan dua kali sehari ketika jadwal dinas memungkinkan.
"Kalau membawa nama daerah, misalnya Porprov, sembari dinas pagi sampai sore, malam latihan. Kalau sedang lepas dinas pagi, bisa latihan sore dan malam," jelasnya.
Pengalaman sebagai atlet juga masih berlanjut. Pada Porprov sebelumnya, Gabriel pernah mempersembahkan medali perunggu. Kini, ia kembali dipersiapkan untuk mewakili Kutim pada Porprov mendatang.
Perjalanan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa prestasi olahraga yang dibangun sejak usia sekolah masih bisa berjalan beriringan dengan tugas sebagai anggota Polri.
Bagi Gabriel, semuanya berawal dari ketertarikan sederhana saat masih anak-anak. Ia tertarik mengikuti taekwondo setelah melihat tetangganya menekuni olahraga tersebut.
"Dulu masih anak-anak. Ada tetangga yang ikut taekwondo. Saya lihat dan berpikir, saya juga mau taekwondo," ujarnya.
Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi prestasi, hingga akhirnya menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebagai atlet sekaligus personel kepolisian. (*)
Editor : Sukri Sikki