Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tantangan Anemia pada Remaja, Menggali Penyebab dan Solusi

Faroq Zamzami • Selasa, 7 Mei 2024 | 13:00 WIB
Teresia Retna Puspitadewi
Teresia Retna Puspitadewi

Teresia Retna Puspitadewi

(Dosen Poltekkes Kemenkes Surabaya)

PERHATIAN terhadap kesehatan remaja, terutama remaja putri menjadi sangat penting bagi pemerintah. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa kondisi kesehatan mereka secara langsung memengaruhi tingkat tengkes (stunting) di Indonesia.

Contohnya, survei tahun 2021 di Desa Sawir, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, menunjukkan bahwa 16 persen remaja putri memiliki kadar hemoglobin di bawah normal, dan 33,3 persen mengalami kurang gizi dengan indeks massa tubuh (IMT) di bawah 18,5.

Meskipun angka ini mungkin terlihat kecil, mereka memiliki implikasi besar karena kondisi kesehatan remaja yang tidak ditangani dapat berujung pada kasus tengkes pada masa depan.

Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa 32 persen remaja putri menderita anemia, artinya sekitar 3–4 dari setiap 10 remaja putri mengalami kondisi ini. Ini menandakan bahwa anemia adalah masalah kesehatan yang signifikan di kalangan remaja putri.

Dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional 2020-2024, pemerintah menargetkan untuk mengurangi prevalensi tengkes menjadi 14 persen dan wasting menjadi 7 persen pada 2024. Oleh karena itu, upaya untuk mengatasi anemia dan masalah kesehatan lainnya di kalangan remaja putri menjadi salah satu prioritas dalam upaya mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut.

Pada survei 2022, hasilnya menunjukkan bahwa 46 persen remaja putri mengalami status gizi kurang. Kondisi ini memiliki dampak serius terutama karena dapat menyebabkan terjadinya anemia.

Anemia merupakan kondisi terjadinya kekurangan sel darah merah yang ditandai dengan rendahnya jumlah sel darah merah atau gangguan fungsi sel darah merah. Sel darah merah mengandung hemoglobin, sebuah protein yang bertanggung jawab untuk mengikat dan mengantar oksigen ke seluruh tubuh.

Dalam kasus anemia, jumlah sel darah merah dan hemoglobin yang rendah mengakibatkan pengiriman oksigen yang tidak mencukupi, bisa menimbulkan gejala seperti lemas dan kulit pucat.

Biasanya pada orang dewasa, anemia didiagnosis ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah 14 g/dL untuk pria dan 12 g/dL untuk perempuan. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan upaya penguatan intervensi yang spesifik dan sensitif yang harus dilaksanakan secara terintegrasi dengan fokus pada sasaran 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan remaja putri.

Hal ini bertujuan mengatasi masalah kurang gizi dan mencegah terjadinya anemia, sehingga dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup remaja putri secara keseluruhan.

Jika kondisi anemia tidak ditangani dapat berdampak pada kesehatan perempuan dewasa yang memiliki anemia ketika hamil. Selama kehamilan, tubuh membutuhkan banyak hemoglobin, yang merupakan protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Untuk memproduksi hemoglobin lebih banyak, tubuh memerlukan nutrisi tambahan seperti vitamin B12, asam folat, dan zat besi. Jika kebutuhan nutrisi ini tidak terpenuhi menyebabkan anemia pada ibu hamil.

Anemia pada ibu hamil memiliki konsekuensi serius, tidak hanya bagi ibu, tapi juga bagi janin yang dikandungnya. Kondisi ini dapat mengakibatkan komplikasi pada kehamilan, seperti kelahiran prematur, bayi dengan berat badan rendah lahir, bahkan kematian janin.

Anemia juga menyebabkan ibu mengalami kelelahan, kesulitan bernapas, dan penurunan daya tahan tubuh, yang semuanya dapat memengaruhi kesejahteraan ibu dan perkembangan janin.

Selain itu, anemia pada ibu hamil juga meningkatkan risiko terjadinya tengkes pada anak yang dilahirkan. Tengkes merupakan kondisi seorang anak yang memiliki pertumbuhan fisik terhambat, dapat mengakibatkan masalah kesehatan jangka panjang dan memengaruhi perkembangan fisik, kognitif, dan sosial anak tersebut.

Oleh karena itu, penanganan anemia pada remaja putri sangat penting untuk mencegah konsekuensi serius ini pada masa kehamilan dan perkembangan anak pada masa depan.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengatasi masalah anemia pada remaja putri. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Tim Pengabdian kepada masyarakat Poltekkes Kemenkes Surabaya adalah sebagai berikut:

Melakukan pemeriksaan atau deteksi anemia pada remaja putri untuk memantau kasus anemia secara berkala.

Memberikan penyuluhan tentang anemia dan dampaknya bagi kesehatan remaja, menggunakan metode ceramah dan diskusi agar remaja putri dapat meningkatkan pengetahuannya dan mengatasi anemia secara mandiri.

Mengajarkan kepada kader remaja cara menggunakan alat pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi anemia pada remaja karena remaja merupakan ujung tombak dalam membantu masyarakat mengatasi kasus anemia.

Memberikan pendampingan kepada keluarga untuk menciptakan kreasi makanan berbahan pangan lokal yang kaya zat besi selama satu bulan, sehingga masyarakat dapat belajar mandiri dalam membuat makanan yang dapat mengatasi anemia. Hasil kerja keras masyarakat tersebut akan didokumentasikan dalam bentuk buku yang berisi 24 macam menu untuk keluarga.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan para akademisi bertujuan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, khususnya di Desa Sawir Kota Tuban, Jawa Timur, sehingga mereka dapat menjaga kesehatannya secara mandiri. Dengan demikian, diharapkan terjadi perbaikan dalam angka kejadian anemia pada remaja di Indonesia. (sos/far/k16)

Editor : Faroq Zamzami
#remaja #anemia #kesehatan