Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Jelajah Borneo, Keluar dari Tempurung

Faroq Zamzami • Selasa, 21 Mei 2024 | 18:36 WIB

Atabiya Radhwa Sagena Hasyim
Atabiya Radhwa Sagena Hasyim


Oleh:  Atabiya Radhwa Sagena Hasyim
(Santriwati Pondok Modern Gontor Darussalam, Ngawi, Jawa Timur. Warga Samarinda)

AKHIRNYA tiba juga di Bandara Internasional Sultan AM Sulaiman, Sepinggan, Balikpapan. Setelah perjalanan kurang lebih dua jam yang sedikit melelahkan.

Di bandara saya langsung check in. Prosesnya tak lama. Langsung masuk ruang tunggu. Rasanya baru sesaat mendaratkan tubuh di kursi ruang tunggu, waktu boarding pun tiba. Tujuan kami ke Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara). Penerbangan Balikpapan-Tarakan sekira satu jam 10 menit. Tarakan adalah kota yang baru pertama kali saya injak.

Kata orang tuaku, selalu beri salam kalau pas  baru masuk kampung orang lain. Aku enggak minta penjelasan, langsung mengucap,“Assalamualaikum!”.

Tujuanku sebenarnya bukan ke Tarakan tapi ke Tawau, Malaysia, yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia.  Kami transit dulu di Tarakan semalam lalu melanjutkan perjalanan keesokan harinya pakai kapal fery. Jadwal kapal fery enggak tiap hari. Hanya tiga kali seminggu, Senin, Rabu, Jumat.

Di Bandara Juwata, Tarakan, kawan lama ayahku datang berkunjung sekaligus menuntun kita ke hotel. Namanya Om Rudi, sudah puluhan tahun tinggal di Tarakan. Kawan lama umiku juga datang sekeluarga menemui kami di lobi hotel. Tante Hamlana, namanya. Punya dua putri yang sebaya denganku.

Mereka semua sudah lama menetap di Tarakan. Aku sendiri belum punya teman di sini, hehehe... Oh iya perjalanan kami ini pada akhir Ramadan tahun ini.

Saat itu Tante Hamlana dan keluarga mengantar kami ke pelabuhan Malundung. Aku kaget suasananya sangat ramai, pelabuhannya kecil tapi banyak orang. Hujan deras pula. Banyak porter pelabuhan langsung mengerumuni kami. Menawarkan tiket.  

Ada yang langsung mau mengangkat koper-koper kami.  Ayahku bilang tidak usah karena tiket sudah dibeli online seharga Rp 850 ribu per orang. Kami bertiga. Totalnya Rp 2.550.000.

Kami masuk ke dalam ruang tunggu terus  ke imigrasi pemeriksaan paspor. Petugas menyuruh saya membuka topi dan masker. Kemudian finger print telunjuk kanan dan kiri.  

Aku hampir lupa bagaimana pemeriksaan di imigrasi, karena sudah lama tidak ke luar negeri.  Terakhir kali keluar negeri waktu kelas 3 SD, waktu bertanding catur klasik internasional.

Berarti sudah tujuh tahun lalu. Dulu, semuanya diurus orangtuaku. Sekarang semuanya disuruh pegang sendiri dan check in mandiri di bandara. Oh iya, sebelum berangkat harus isi arrival card dulu. Bisa isi online.

Stempel visa di pasporku hanya dikasi waktu 30 hari. Itupun kita harus punya alasan yang masuk akal kalau ditanya-tanya petugas. Banyak poster di dinding ruangan imigrasinya tentang larangan-larangan, kayak penyelundupan barang haram seperti narkoba, hewan langka, dan lainnya.

Kami menaiki Kapal Indomaya ke Tawau yang memakan waktu perjalanan 5-6 jam.  Penumpangnya saat itu cuma 11 orang. Serasa naik kapal pesiar pribadi. Kita bebas memilih tempat duduk. Aku bahkan tiduran sambil angkat kaki di kursi. Ada makan minum gratisnya.

Kapalnya tingkat dua. Aku naik tangga ke lantai atas lihat pemandangan laut. Saat fery berlayar terlihat pulau-pulau  kecil di perbatasan Indonesia-Malaysia.

Di fery kami bertemu pasangan suami istri yang mungkin berusia 60-an. Haji Said, nama si bapak.  Ayahku berbincang-bincang dengan mereka. Saat turun kapal, kami melewati lagi imigrasi di Malaysia. Paspor kami dicek lagi dan diberi stempel.  Banyak bule di sana.  Koper kami dibuka petugas.  

Kelar semua, kami keluar dari pelabuhan bersama suami istri yang tadi bertemu di kapal. Mereka meminta porter mengangkat koper kami dan menggabungkan dengan barang–barang mereka. Pak haji baik sekali. Semuanya dia yang bayarkan.

Keluar dari pelabuhan, kami dipaksa ikut yang saat itu dijemput anak semata wayang mereka.  

Kami pun ditumpangi mobil mewahnya dan dibawanya menukar uang ringgit. Tetapi semua toko penukaran uang tutup karena liburan Jumat Agung, perayaannya umat Kristiani di seluruh dunia. Alhasil kita menurut saja waktu diajak pulang ke rumah mereka dulu untuk menukar duit di rumahnya.

Mata uang rupiah rendah kalau ditukar ke ringgit.  Satu ringgit sama dengan Rp 3.400 jadi kalau ada segepok rupiah, jadinya hanya sedikit ringgit saja.

Mereka menyuruh kami nginap. Baru kenal sudah dianggap seperti keluarga mereka. Sebagai kenang-kenangan, aku memberi hadiah satu buku karyaku kepada cucunya yang masih kecil.

Awalnya kami ditahan oleh mereka untuk rehat sekejap, tetapi kami tidak ingin terlalu merepotkan lagi. Mereka pun mengantar kita ke stasiun bus .

TransTedar Express nama tempat bus itu. Jadwalnya pukul lima sore berangkat ke terminal Sri Indah. Di situ kami menunggu waktu berbuka puasa.  

Setelah salat jamak, bus berangkat pukul tujuh malam ke Kota Kinabalu (KK). AC di bus dingin sekali. Aku menggigil. Perjalanan panjang itu memakan waktu sekira sembilan jam. Sempat singgah di rest area untuk sahur. Kami sampai di Kota Kinabalu pukul lima pagi.

Kalau naik pesawat, satu jam saja. Umumnya murah. Tapi saat itu pas tiket mahal karena hari libur keagamaan.

​Turunnya di Terminal Bas Bandar Tawau. Kami dijemput Kak Melisa yang kerja di sana. Kami pun pergi salat Subuh ke Masjid Bandaraya, Kota Kinabalu.  Masjidnya besar dan indah sekali. Sepintas seperti masjid terapung karena  di tengah-tengah kolam.

Banyak turis Korea suka berfoto di situ. Lalu kami ke hotel yang di tengah kota, namanya Api-Api Centre. Tempatnya strategis. Sekali turun banyak tempat penjual makanan, restoran, pasar malam, stasiun ke Brunei Darusalam, dan dekat dengan mal. Aku puas-puasin makan roti canai dan teh tarik kesukaanku.

Aku ikut orangtuaku ke kota ini tidak hanya jalan – jalan, tetapi untuk mencari pengalaman, karena pengalaman adalah guru terbaik.

Kata orang tuaku, selagi muda berpetualanglah  lihat dunia luar supaya enggak kayak katak dalam tempurung.   

Orang tuaku memberiku tugas dokumentasi dan menulis cerita selama perjalanan dari Kaltim kemudian ke Sabah-Sarawak-Brunei. Memang banyak pengalaman yang aku dapatkan.

Aku rasa Kinabalu itu kota yang mewah dan canggih.  Bersih  dan rapi. Jarang ada macet. Paling berkesan waktu aku ke kaki Gunung Kinabalu dan ke pabrik susu ladang Dairy Farm Kudasai.  Sekira dua jam dari kota. Indah sekali pemandangannya. Aku enggak bisa ceritakan, pokoknya harus lihat sendiri baru paham.

Aku pergi juga ke Universitas Malaysia Sabah (UMS) yang  luas sekali. Ada sekuter listrik yang disewakan keliling kampus.  Terus ikut ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) bertemu diplomatnya ibu Machdaniar Nisfah. Ibu ini banyak cerita kisah sedih anak-anak Indonesia yang terlantar karena tidak punya dokumen. Yang soal ini aku buat tulisan tersendiri. (far)


Editor : Faroq Zamzami
#Borneo #Kinabalu #malaysia #tawau #samarinda