Oleh:
Sulastria Ayu Cahyani Ningsih
Mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya Asal Balikpapan
BALIKPAPAN, kota kecil di Kalimantan Timur yang terkenal akan kekayaan minyaknya dan keberagaman penduduknya yang kini mendapat julukan baru sebagai kota penyanggah Ibu Kota Nusantara (IKN). Daya tarik IKN yang sangat besar bagi masyarakat di luar pulau Kalimantan untuk mengadu nasib di ibu kota baru Indonesia ini menyebabkan meningkatnya jumlah pendatang terutama di kota Balikpapan.
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan pendatang menyebabkan Balikpapan harus siap dengan berbagai tantangan yang sangat kompleks.
Adanya perpindahan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Kalimantan Timur tepatnya di Penajam Paser Utara yang berimbas pada wilayah sekitarnya terutama Balikpapan sebagai gerbang IKN. Hal tersebut mengharuskan Balikpapan siap dijadikan sebagai pusat ekonomi dan infrastruktur penyanggah dan pendukung IKN.
Beriringan dengan hal tersebut berbagai tantangan yang mencakup berbagai aspek, mulai dari aspek sosial, ekonomi dan lingkungan harus bisa ditangani dengan baik untuk keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.
Potensi yang dimiliki Balikpapan sebagai penggerak roda perekonomian di wilayah IKN sangat besar sehingga infrastruktur dan fasilitas yang ada harus ditingkatkan guna mendukung potensi yang dimiliki. Dengan berpedoman pada SDGs poin pembangunan berkelanjutan, risiko dan pengembangan pariwisata lokal sebaiknya dapat dikelola dengan baik, meskipun Balikpapan mempunyai infrastruktur serta fasilitas yang lebih memadai dibandingkan dengan IKN (Fitriadi, 2023). Pentingnya pemetaan zona ekonomi harus dilakukan dengan jelas dan sangat baik untuk menjamin ketahanan pangan dan keberlanjutan ekonomi di Balikpapan (Jiuhardi, 2023).
Tantangan kedua yaitu pesatnya arus urbanisasi. Banyaknya masyarakat yang bermigrasi ke kota Balikpapan tentunya dapat menyebabkan masalah sosial, mulai dari meningkatnya angka kemiskinan, ketidaksetaraan hingga susahnya mendapat pekerjaan. Menurut Ristanto et al, urbanisasi nantinya dapat memicu perluasan wilayah yang tidak direncanakan, yang pada akhirnya akan menciptakan kawasan kumuh dan meningkatkan tekanan terhadap layanan publik (Ristanto et al., 2022).
Hal tersebut pastinya akan memicu peningkatan kebutuhan akan layanan kesehatan yang memadai, sehingga dapat terjadi lonjakan akan kebutuhan kesehatan (Hayati, 2023). Selain itu, Inovasi perekaman e-KTP yang harus dilakukan secara efisien guna mengelola pesatnya arus urbanisasi dapat membantu peningkatan kualitas pelayanan publik di Balikpapan (Sagena et al., 2022).
Ketiga, tantangan dalam aspek lingkungan hidup yang sangat penting dalam kehidupan berkelanjutan. Tidak banyak yang menyadari bahwa Balikpapan juga rentan terhadap bencana alam dan perubahan iklim. Hal tersebut menyebabkan pembangunan dan pengembangan IKN harus mempertimbangkan dampak bagi keberlanjutan lingkungan, ekosistem serta potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh arus urbanisasi yang tidak terencana (Jiuhardi, 2023).
Keempat, aspek sosial budaya akibat keberagaman budaya yang datang dari berbagai daerah. Budaya baru tentunya membawa nilai-nilai baru yang memberikan pengaruh bagi dinamika sosial di Balikpapan. Menurut Rachmat perubahan sosial budaya yang disebabkan oleh urbanisasi akan menciptakan tantangan dalam integrasi masyarakat (Rachman, 2023). Adanya ruang dialog dan kolaborasi dapat diciptakan untuk membangun kohesi sosial.
Jika dilihat secara garis besar, segala tantangan yang dihadapi kota Balikpapan beragam tetapi saling berkaitan satu sama lain. Adanya tantangan seperti di atas tentunya diperlukan pendekatan yang holistik dan terintegrasi dimulai dari pemerintah, pemangku kepentingan dan juga masyarakat. Peningkatan peran pemerintah yang bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang inklusif. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan