Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Meninjau Praktik Penyajian Makanan saat Sidang

Muhammad Ridhuan • Kamis, 30 Januari 2025 | 17:00 WIB
Bella Sapitri
Bella Sapitri

Oleh:

Bella Sapitri

Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

 

FENOMENA penyajian konsumsi saat sidang skripsi sering kali menimbulkan polemik di kalangan mahasiswa. Meski penyajian konsumsi dalam sidang skripsi dinilai positif oleh sebagian mahasiswa, namun pada beberapa kasus tertentu, penyajian konsumsi dinilai negatif karena dianggap sebagai gratifikasi.

Meski tidak ada di dalam aturan tertulis, kebanyakan mahasiswa justru menganggapnya sebagai budaya sehingga menyediakan suguhan saat pelaksanaan sidang skripsi telah menjadi hal lumrah di kalangan mahasiswa tingkat akhir. Namun, apakah kita harus menormalisasi hal tersebut?

Menyiapkan makanan dan minuman saat sidang skripsi memang dianggap sebagai bentuk tanda terima kasih kepada dosen yang telah meluangkan waktunya untuk hadir dalam sidang skripsi. Namun, jika hal tersebut malah memberatkan mahasiswa yang akan melaksanakan sidang skripsi bukankah sebaiknya kita tidak menormalisasi budaya tersebut.

Beberapa mahasiswa ada yang merasa keberatan dengan tuntutan kebudayaan tersebut karena biasanya konsumsi yang disuguhkan menjelang seminar atau sidang skripsi cukup bervariasi mulai dari snack box, air mineral, teh kotak, hingga nasi kotak. Belum lagi jika dosen pengujinya lebih dari satu, hal ini pasti akan semakin memberatkan mahasiswa karena mereka harus merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk mempersiapkan konsumsi bagi dosen.

Menyuguhkan konsumsi saat sidang skripsi sebenarnya bukan hal yang wajib, namun kebanyakan mahasiswa akan berusaha menyanggupinya entah karena keinginan sendiri atau karena alasan lainnya, seperti merasa malu jika tidak menyediakan konsumsi untuk dosen penguji dan dosen pembimbing.

Tidak masalah sebenarnya jika kita mengeluarkan sejumlah uang untuk keperluan konsumsi dosen penguji dan dosen pembimbing karena memberikan makanan kepada dosen merupakan bentuk apresiasi, tapi yang menjadi permasalahan di sini adalah lebih kepada budaya yang dianut oleh mahasiswa.

Di mana kita “diharuskan” untuk menyediakan makanan bagi dosen, padahal konsumsi yang kita berikan kepada dosen tidak akan berpengaruh terhadap penilaian yang diberikan oleh dosen saat ujian skripsi berlangsung. Karena yang menentukan hasil adalah usaha bukan suguhan makanan.

Terlepas daripada itu, sesungguhnya fenomena penyajian konsumsi saat seminar atau sidang skripsi akan sulit dihilangkan karena kebiasaan ini  telah mengakar di kalangan mahasiswa dan hampir di setiap kampus menerapkan budaya tersebut.

Dengan kata lain, budaya ini telah melekat dan sudah menjadi keharusan bagi mahasiswa yang hendak melaksanakan seminar atau sidang skripsi. Namun, bukan berarti kita harus menormalisasi budaya tersebut. (***/rdh)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#fakultas ilmu budaya #mahasiswa #Universitas Mulawarman #skripsi