Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Membibit Generasi Emas

admin redaksi • Rabu, 12 Maret 2025 | 23:01 WIB
M Huseni Labib
M Huseni Labib

Oleh: M Huseni Labib
Pegawai Biro Adpim Setprov Kaltim

KALTIMPOST.ID - Sejarah peradaban mendalilkan, baik tempo dulu maupun zaman kini, bahwa kemajuan suatu bangsa bermula dari kesiapan kualitas manusianya. Bagaimana kumpulan sosial mampu mengerek berbagai potensi baru, temuan baru, produksi baru, dan budaya baru yang maju kembang.

Karenanya, kecenderungan untuk membangun generasi maju menjadi kewajiban pasti. Bukan saja karena generasi impian adalah kumpulan muda mudi, pemegang estafet, tapi lebih dari itu generasi berarti bibit penentu sebuah bangsa.

Mengulik padanan kata generasi, ia berarti turunan atau keturunan. Yang dalam kata Arab bisa juga dimaknakan durriyah. Generasi juga merupakan periode rata-rata, yang umumnya dianggap sekitar 20-30 tahun, saat anak anak lahir dan tumbuh dewasa, menjadi dewasa dan mulai memiliki anak.

Generasi adalah masa penting untuk dibentuk dan terbentuk, yang akhirnya mampu bergerak mandiri. Belajar dari Jepang pasca Perang Dunia II, ketika kalah dengan Amerika dan sekutu. Saat tak lagi mementingkan perang, negara itu berbalik arah untuk fokus pada penyiapan generasi yang kuat, mahir dan terampil. Yang membawa pada kemakmuran dan kemajuan bangsa.

Jepang mereformasi dan merekonstruksi secara radikal pola pendidikan dengan berbagai cara. Bukan saja pada kurikulum pendidikan, tapi hal hal yang terkait dengan pendidikan;  fasilitas, karakter kedisiplinan, kultur nilai, tata sosial, dan lainnya. Jepang seolah membangun cara baru bagaimana membangkitkan moril generasinya pasca perang untuk kuat, damai, berwawasan luas dan solidaritas sosial.

Oleh Bung Karno, generasi Indonesia pernah diimpikan sebagai generasi yang mampu "menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.

Hari ini Indonesia membopong bonus demografi besar, momentum langka yang jarang dimiliki negara negara lain. Diperkirakan pada 2045 usia produktif penduduk mencapai 70 persen yaitu pada usia 15-64 tahun, sedang sisanya 30 persen tidak produktif.

Kondisi ini akan menjadi bandul kemajuan bangsa ini, jika benar-benar dikelola, dipersiapkan dengan baik, tapi sebaliknya akan menjadi beban besar apabila kita tidak mampu memanfaatkan momentum tersebut. Pekerjaan besar di depan kita. Bagaimana pemerintah mampu mempersiapkan dan menjembatani kenyataan sosial yang masih banyak persoalan. Itu jika kita berharap besar untuk mengubah nasib menjadi bangsa maju.

Ketersediaan lapangan kerja, pembangunan masyarakat yang produktif dalam mendorong perekonomian serta terbukanya sektor-sektor industri ekonomi yang kembang maju. Tidak ada bangsa maju yang gratis, semua dibangun atas dasar perjuangan, strategi, plan dan pertimbangan yang matang, beraksi efektif dan berdampak. Sekaligus menghindari segala upaya yang bisa menggerogoti pembangunan itu sendiri, baik dari dalam maupun luar.

Banyak pihak telah berbicara; lambatnya kemajuan bangsa ini bila dihitung mundur dari awal kemerdekaan ternyata karena kita belum bisa keluar dari jebakan midle income dengan segala penyebabnya. Kita juga belum maksimal mengobati dan menyehatkan "jasad negeri" dari berbagai ancaman penyakit akut. Yang pada akhirnya berisiko mengerdilkan potensi kemajuan.

Jumlah penduduk per 2023 yang mencapai 277.534.122 jiwa, terbanyak keempat di dunia. Ternyata masih banyak menyimpan permasalahan; taraf pendidikan rendah, banyaknya penduduk miskin, kesehatan rendah, angka pengangguran, rendahnya asupan nutrisi dan berbagai permasalahan lainnya. Semua tantangan itu hari ini harus segera di atasi bersama.

Di sisi lain generasi muda seharusnya tak boleh menunggu lama. Anugerah sumber daya alam yang melimpah ruah, potensi bangsa yang begitu besar, haruslah digarap dengan taktis, kompetitif, dan visioner. Jika hari ini Vietnam sudah berlari kencang, maka seharusnya kita juga harus bisa berlari kencang.

Hal-hal yang mendasar bagaimana cara menemukan jalan keluarnya harus segera di eksekusi pemerintah. Jika mencanangkan Indonesia Emas 2045, yang saat ini dengan asta citanya hendak melakukan transformasi besar di berbagai bidang, maka seharusnya kita sebagai bagian masyarakat juga harus turut serta bergerak.

Alhamdulillah Kaltim hari ini memimpikan generasi emas, sebuah elan dan niat pemimpin yang hendak memperbaiki kualitas sumber daya manusianya. Dimulai dengan memberikan peluang selebar-lebarnya kesempatan belajar, pendidikan hingga tingkat tertinggi, difasilitasi, dibiayai dengan gratis. Tak ada yang tak mungkin.

Kesempatan untuk menjadikan generasi hari ini sebagai generasi emas sungguh terbuka lebar, yang diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan, serta berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup seluruh masyarakat. 

Maka menjadi manusia optimis, kita yakin bahwa generasi emas bukanlah sebuah utopis, mimpi yang susah diwujudkan. Saatnya ia nanti akan tumbuh dan mekar jika diruwat, diperjuangkan, dan difasilitasi sebaik-baiknya. Generasi tangguh akan hadir sebagai hajat peradaban, karena merekalah "syubbanul yaum, rijalul ghad", pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Meminjam pepatah Arab mendefinisikan. (dwi)

Editor : Duito Susanto