Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menyambut Masa Depan, Urgensi Pembelajaran Coding dan AI di Sekolah Menengah

Romdani. • Senin, 14 Juli 2025 | 21:32 WIB
Najihus Salam
Najihus Salam

Oleh:

Najihus Salam

Ketua KM3 DPP IMM Divisi Kajian

KALTIMPOST.ID-Langkah strategis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam mengintegrasikan pembelajaran coding dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke kurikulum sekolah menengah merupakan lompatan maju yang patut diapresiasi.

Kebijakan itu bukan sekadar respons atas perkembangan teknologi global, tetapi juga upaya konkret mempersiapkan generasi muda Indonesia agar mampu bersaing pada era digital yang semakin kompleks dan kompetitif.

Transformasi digital dalam pendidikan bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Dunia kerja dan industri saat ini menuntut keterampilan baru yang melampaui kemampuan akademik konvensional.

World Economic Forum (2020) dalam laporan The Future of Jobs Report menempatkan kemampuan berpikir analitis, teknologi, dan pemecahan masalah sebagai tiga dari sepuluh keterampilan utama yang dibutuhkan pada masa depan.

Coding dan AI jelas menjadi kendaraan untuk menumbuhkan kemampuan-kemampuan tersebut sejak dini.

Dalam konteks itulah, keputusan Kemendikdasmen menjadikan pembelajaran coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan mulai tahun pelajaran 2025–2026 sangat tepat.

Itu selaras dengan visi besar Asta Cita pemerintah untuk menciptakan sumber daya manusia unggul yang adaptif terhadap disrupsi teknologi.

Seperti dikemukakan oleh Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq, integrasi itu bukan hanya untuk siswa.

Tetapi juga akan memberdayakan guru dalam menyampaikan pembelajaran yang lebih efisien dan menarik.

POLA PIKIR KRITIS

Pembelajaran coding lebih dari sekadar belajar bahasa pemrograman. Ia adalah alat pedagogis yang membangun pola pikir komputasional --sebuah pendekatan sistematis untuk menyelesaikan masalah yang kompleks, kreatif, dan terstruktur.

Seymour Papert, pelopor pembelajaran berbasis teknologi, menekankan bahwa belajar coding membantu siswa memahami cara berpikir yang logis dan eksploratif, bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi penciptanya.

Sementara AI memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami bagaimana data diolah, dianalisis, dan digunakan untuk pengambilan keputusan.

Itu sangat relevan dalam membangun literasi digital yang kritis. Buku Artificial Intelligence in Education (Luckin et al, 2016) menjelaskan bagaimana AI bisa membantu menciptakan pembelajaran yang personal, responsif, dan adaptif sesuai keperluan siswa.

KESIAPAN INFRASTRUKTUR

Tentu saja, tidak semua sekolah memiliki kesiapan yang sama. Maka pendekatan bertahap seperti yang ditawarkan dalam diskusi Kelompok Terpumpun pada 5–7 Desember 2024 lalu, yaitu model pembelajaran plugged, unplugged, dan internet-based menjadi kunci keadilan akses.

Model unplugged misalnya, memungkinkan siswa belajar konsep dasar pemrograman tanpa komputer, melalui permainan logika atau kartu algoritma.

Itu penting untuk menjangkau sekolah-sekolah di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Referensi dari CS Unplugged Project oleh Tim Bell dkk (University of Canterbury, New Zealand) telah membuktikan bahwa model itu sangat efektif dan bisa menjadi solusi di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur digital.

MASA DEPAN DIMULAI HARI INI

Langkah itu juga menempatkan Indonesia sejajar dengan banyak negara lain yang telah lebih dulu mengadopsi pembelajaran coding dan AI di level pendidikan dasar dan menengah.

Inggris, misalnya, sejak 2014 telah mewajibkan coding dalam kurikulum nasional. Di Finlandia, pelatihan AI telah menjadi bagian dari program nasional dengan inisiatif Elements of AI, yang juga dapat diakses secara gratis oleh publik dunia.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Jadi Harapan untuk Masa Depan Anak di Tengah Awal Mula Keraguan dari Orangtua

Sebuah studi oleh McKinsey & Company (2020) menggarisbawahi bahwa negara-negara yang mulai mengintegrasikan pembelajaran teknologi sejak usia dini lebih mampu memproduksi inovator dan profesional teknologi dalam skala besar.

Jika benar kita ingin menciptakan generasi muda yang tidak hanya menjadi pengguna pasif teknologi, tetapi inovator dan pemimpin dalam ekosistem digital global, maka langkah pengintegrasian coding dan AI ke kurikulum adalah harga mati.

Pendidikan bukan hanya soal adaptasi, tapi juga tentang proyeksi dan keberanian mengambil keputusan visioner.

Sudah saatnya sekolah menjadi inkubator teknologi, bukan hanya ruang hafalan. Karena masa depan tidak menunggu, dan anak-anak kita layak memiliki bekal untuk membentuknya. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #coding AI #ibu kota nusantara #GUBERNUR KALTIM H RUDY MAS UD #sekolah menengah #masa depan