KALTIMPOST.ID, Indonesia dengan segala keanekaragamannya adalah sebuah keniscayaan, sunnatullah, given atau hal alami yang tidak bisa kita bantah.
Dari Sabang hingga Merauke, ratusan juta penduduk di negeri ini memiliki latar belakang yang heterogen.
Seperti halnya agama, bahasa, suku, dan budayanya. Perbedaan semacam itu menjadi kekuatan dan sekaligus ancaman.
Lebih-lebih, saat ini kita memasuki revolusi digital. Di mana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi kian masif.
Setiap orang bisa memproduksi dan menyebarkan konten-konten berupa tulisan, gambar, grafik, dan video yang bisa saja mengancam keutuhan bangsa.
Padahal, jauh-jauh sebelumnya, puluhan tahun silam, para pahlawan kita telah meneteskan keringat dan darah untuk merajut persatuan nasional dan memperjuangkan kemerdekaan.
Jiwa dan raga dikorbankan untuk mewujudkan keharmonisan sosial.
Sejak pergerakan nasional, beragam organisasi pergerakan bermunculan. Hingga tercetuslah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang menjadi momentum emas terjalinnya ikatan nasional kala itu.
Sumpah Pemuda yang isinya ikrar bahwa putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tumpah darah tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi bahasa persatua, bahasa Indonesia.
Komitmen kebangsaan itu menjadi cikal bakal menguatnya tali persatuan setiap elemen bangsa. Menjadi modal utama untuk mengusir penjajah dan merebut kemerdekaan.
Kini, usia Indonesia sudah mencapai 80 tahun. Sebuah usia yang tidak bisa dikatakan muda lagi. Asam manis, tawa dan duka, sedih dan bahagia, sudah dilalui. Bertubi-tubi persoalan telah kita hadapi. Baik perselisihan dan pertikaian sesama anak bangsa, hingga ancaman yang datangnya dari luar.
Nyatanya, bangsa ini mampu melaluinya. Meskipun harus tertatih-tatih, kita masih sanggup berdiri tegak. Dan salah satu kekuatan menangkal beragam bentuk ancaman itu adalah integrasi nasional yang kokoh.
Ya, tidak bisa dimungkiri lagi, persatuan dan kesatuan setiap elemen bangsa menjadi senjata utama untuk mewujudkan cita-cita nasional.
Lantas, apa itu integrasi nasional? Integrasi berasal dari kata integration berarti kesempurnaan atau keseluruhan,
Kata ini berasal dari bahasa Latin integer, yang berarti utuh atau menyeluruh.
Berdasarkan arti etimologisnya, integrase dapat diartikan sebagai pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat. Sedangkan nasional berasal dari kata nation yang artinya bangsa sebagai bentuk persekutuan orang-orang yang berbeda latar belakangnya, berada dalam suatu wilayah dan di bawah satu kekuasaan politik.
Dengan begitu, integrasi nasional bisa kita artikan sebagai upaya atau proses penyatuan berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang berbeda dalam suatu identitas nasional.
Kita tahu dan mengerti betul, sejak Orde Lama hingga Reformasi, banyak peristiwa pemberontakan yang berpotensi mengancam keutuhan Indonesia.
Mulai pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) hingga Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah kita lewati.
Ditambah lagi, konflik antar-suku seperti halnya yang pernah terjadi di Sampit yakni konflik antara suku Madura dan suku Sampit yang menjadi sejarah kelam perjalanan bangsa ini.
Sebuah tragedi yang menelan korban hingga ribuan jiwa dan menyebabkan ribuan orang mengungsi. Bukankah, contoh peristiwa tersebut menjadi ancaman nyata bagi kedaulatan dan persatuan bangsa?
Terkait hal itu, integrasi nasional menjadi hal yang sangat penting untuk terus kita rawat. Perbedaan adalah sebenarnya sebuah anugerah untuk memperkuat daya saing bangsa di segala bidang.
Memang, kesadaran semacam ini perlu kita miliki. Apalagi, nasionalisme kita semakin hari seolah kian luntur.
Belum lagi, sebagian generasi muda yang seolah kehilangan identitas dan jati dirinya. Ini menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Semboyan bhinneka tunggal ika bukan hanya dalam tataran wacana atau ungkapan verbal. Namun bisa diwujudkan dalam gerak langkah dan laku hidup kita.
Bhinneka tunggal ika sendiri mengandung artian berbeda-beda tapi tetap satu juga.
Semboyan tersebut menjadi cerminan jiwa dan semangat bagnsa Indonesi yang mengakui realitas yang menajemuk/heterogen tapi tetap menjunjung tinggi persatuan.
Mengacu pada semboyan tersebut, bangsa Indonesia menghendaki harmoni: persatuan dalam keragaman, dan keragaman dalam persatuan (unity in diversity, diversity in unity).
Semboyan yang pernah dicetuskan oleh Empu Prapanca dalam kitab Sutasoma ini diharapkan menjelma dalam sifat dan sikap hidup kita sebagai warga negara. Seperti halnya toleran terhadap mereka yang berbeda dengan kita.
Menghargai dan menghormati orang-orang yang berbeda agama, suku, dan adat istiada dengan kita. Tentu saja, dengan begitu, harapannya adalah integrasi nasional semakin kukuh.
Selain itu, kenapa integrasi nasional harus menjadi perhatian kita bersama?
Beberapa alasan akan saya coba kemukakan satu per satu melalui catatan ini. Pertama, yaitu integrrasi nasional menjadi faktor penting yang bisa memicu pembangunan bangsa di segala bidang. Seperti halnya infrastruktur, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan semacamnya. Kedua, integrasi nasional akan menguatakan ketahanan nasional kita.
Sebab, jika bangsa kita tercerai-berai, maka ketahanan nasional kita akan rapuh dan mudah terkoyak-koyak.
Jika, kita terpecah-belah, akan mudah bangsa asing memporak-porandakan kita.
Ketiga, integrasi nasional menjadi modal utama untuk menghadapi tantangan internal dalam negeri seperti halnya ancaman separatisme, makar, konflik antar-suku, konflik agama, dan semacamnya.
Keempat, intergasi nasional menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan global yang kian kompleks dan beragam.
Selain itu, integrasi nasional juga bisa memperkuat kedaulatan bangsa. Sebab, perang yang kita hadapi bukan sekadar perang fisik, tapi perang budaya dan pemikiran.
Kelima, dengan integrasi nasional, kita bisa mewujudkan stabiltias sosial dan politik dalam negeri.
Pada akhirnya, untuk mengokohkan integrasi nasional, kita perlu sadar akan sejarah perjalanan bangsa ini di masa silam.
Perlu menengok kembali, betapa perjuangan dan pengorbanan generasi masa silam dalam menjunjung dan mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.
Dari situ kita bisa belajar dan memahami betapa persatuan dan kesatuan bangsa ini adalah harl yang perlu kita jaga, rawat, dan terus lestarikan.
Selain itu, dalam mengokohkan integrasi nasional ini dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan visioner.
Pemangku kekuasaan atau pejabat tinggi negara harus sungguh-sungguh dalam menjalankan amanahnya.
Tentu saja agar terwujud kehidupan masyarakat yang adil dan makmur. Sebab tak jarang, ketimpangan sosial dan ketidakadilan menjadi cikal bakal terjadinya kerusuhan dan pemberontakan yang bisa berdampak pada memudarnya integrasi nasional.
Tentu hal semacam itu tidak kita inginkan. Mari kita jaga bangsa dan negara ini. Indonesia adalah rumah kita bersama.
Tempat kita lahir, tumbuh, berkembang, dan menutup mata. Indonesia adalah tumpah darah kita.
Editor : Hernawati