KALTIMPOST.ID - Seorang guru SD di pedalaman Kalimantan Timur terlihat sedang berdiri di depan rumah lamin, Rumah Adat Suku Dayak, seraya memperhatikan ukiran dinding yang penuh pola.
Bagi orang awam, ornamen itu mungkin hanya sebatas hiasan tradisional. Namun, bagi seorang guru yang terlatih dengan pendekatan etnomatematika, ukiran itu adalah jembatan menuju pemahaman geometri: rotasi, simetri, translasi.
Di sanalah matematika menjadi tidak lagi terasa asing bagi para murid, karena pelajaran itu lahir dari rumah mereka sendiri. Hal ini pula yang memungkinkan dicapainya pendidikan berkualitas, yang menjadi fondasi utama dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Tujuan global itu sebenarnya dapat dicapai lebih efektif jika aktor-aktor pendidikan bergerak dengan memanfaatkan kearifan lokal. Inilah potret pendidikan yang meresap dari akar budaya, bukan sekadar teori, melainkan praktik hidup yang membumi dan pengalaman di Kalimantan Timur membuktikannya.
Persoalan dalam Mencapai Target SDGs
Pada poin keempat, SDGs berupaya menjamin pendidikan yang inklusif, merata, serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua. Namun, laporan ADB Governance Brief No 33 mengungkapkan bahwa pencapaian SDGs di kawasan Asia-Pasifik masih tertinggal. Pada 2030, diproyeksikan capaiannya hanya menyentuh sepertiga dari target.
Kesenjangan ini terutama disebabkan oleh tantangan di tingkat lokal. Kebijakan dan layanan belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan masyarakat setempat. Kondisi ini terlihat dari hasil asesmen pendidikan, terutama bidang numerasi yang ditujukan untuk mengasah keterampilan berpikir matematis secara kontekstual.
Ini terlihat dalam skor PISA 2022, di mana Indonesia berada di posisi ke-69 secara global, dengan kemampuan numerasi siswa yang tergolong rendah. Salah satu jawaban atas rendahnya skor tersebut adalah kurangnya kesesuaian antara kebijakan dan kebutuhan nyata di tingkat lokal.
Sistem pendidikan kerap didesain dari pusat, tanpa mempertimbangkan konteks, budaya, dan tantangan spesifik di daerah. Termasuk kurangnya soal-soal berbasis konteks kehidupan sehari-hari, yang mampu mengasah kemampuan berpikir matematis.
Etnomatematika dari Kaltim: Numerasi Dalam Konteks Budaya
Kalimantan Timur menawarkan alternatif menarik guna menerapkan strategi pembelajaran numerasi berbasis budaya setempat: rumah lamin, pola anyaman, hingga sistem jual beli di pasar desa.
Konsep-konsep matematika seperti simetri, volume, skala, dan konversi menjadi lebih mudah dipahami ketika diajarkan lewat pendekatan berbasis budaya yang dikenali siswa.
Dengan mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, siswa dapat memahami dan menerapkan keterampilan literasi-numerasi secara lebih efektif. Metode ini tentu saja dilandasi pendekatan ilmiah, seperti melalui konsep Ethno-Realistic Mathematics Education dan Culturally Situated Design.
Sebagai contoh, penerapan konsep matematika pada rumah adat lamin yang merupakan rumah tradisional Kalimantan Timur dan warisan budaya dari Suku Dayak.
Ukiran yang ada pada dinding rumah lamin terdapat motif-motif unik dapat dikaitkan dengan objek matematika untuk pembelajaran transformasi geometri, seperti translasi (pergeseran), refleksi (pencerminan), rotasi (perputaran), dan dilatasi (perkalian).
Kemudian, siswa juga diajak mengidentifikasi aktivitas budaya lokal yang mengandung unsur numerasi. Di Kaltim, kegiatan itu meliputi mengidentifikasi pola anyaman, sistem irigasi tradisional, hingga praktik jual-beli di pasar desa.
Dalam setiap proses pembelajaran, siswa juga dilibatkan untuk mendesain ulang soal matematika berdasarkan realitas dan artefak budaya mereka sendiri. Dengan memanfaatkan berbagai artefak budaya yang ada di Kalimantan Timur, pembelajaran berbasis teknologi yang inklusif dan relevan dapat dikembangkan.
Dengan segala kekayaan kultural itu, keberhasilan pendekatan numerasi berbasis budaya sangat bergantung pada siapa yang membawakannya di kelas. Artefak budaya hanya akan menjadi hiasan jika tidak ada sosok yang mampu mengaitkannya dengan konsep pelajaran.
Guru Sebagai Penghubung Kurikulum Dan Konteks Budaya
Di sinilah peran guru menjadi kunci, mereka adalah penghubung antara kurikulum yang berlaku dengan konteks budaya yang hidup di tengah masyarakat. Guru juga aktor kunci dalam mewujudkan pendidikan berkualitas. Tenaga-tenaga pendidik yang paham konteks budaya harus terus disiapkan.
Ini seperti yang dilakukan oleh Tanoto Foundation dengan memberi pelatihan kepada para fasilitator daerah sebagai local champion untuk mengatasi tantangan pembelajaran literasi dan numerasi. Di sini, Tanoto Foundation melalui Program PINTAR memberi pelatihan mengenai metode pembelajaran berbasis lokal kepada para guru.
Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Dalam “Rapor Pendidikan 2025” diketahui bahwa kemampuan numerasi siswa Kalimantan Timur di jenjang SMP dan SMA tercatat dalam kategori baik, sedangkan SD masuk kategori sedang.
Kategori baik menunjukkan 70 persen siswa mencapai kompetensi minimum dalam numerasi. Hal lain yang patut dicatat, capaian di ketiga jenjang tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.
Sebagai wilayah yang disiapkan menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN), capaian ini menjadi modal penting untuk mencetak SDM unggul berbasis kearifan lokal. Arah ke depan jelas: pemerintah daerah perlu memperkuat pendekatan lokal dalam kurikulum.
Kurikulum yang terlalu sentralistik justru menciptakan ketimpangan. Siswa bisa tertinggal bukan karena tidak mampu, melainkan karena pelajaran yang mereka terima tidak menyentuh realitas hidup mereka.
Menyatukan angka dan identitas
Pendidikan yang menyatukan angka dengan identitas budaya akan menjadi tonggak menuju SDGs. Dengan menyelaraskan pendekatan global dan lokal, serta menggali kekayaan budaya Nusantara, kita bisa membangun sistem pendidikan yang lebih inklusif, bermakna, dan tahan uji zaman.
Sudah saatnya anak-anak Indonesia belajar matematika bukan hanya dari papan tulis, tapi juga dari anyaman nenek, lantai rumah adat, hingga aktivitas pasar desa mereka sendiri. Karena, di situlah pendidikan menemukan denyut hidupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo