KALTIMPOST.ID, Lanskap persaingan di dunia kerja kian kompetitif. Ribuan bahkan hingga jutaan fresh graduate berbondong-bondong mengadu nasib ke kota-kota besar.
Bermodalkan selembar ijazah, mereka ke sana ke mari demi masa depan yang lebih cerah. Padahal, kita sendiri tidak bisa menampik bahwa lapangan pekerjaan amat terbatas dibandingkan kuantitas lulusan perguruan tinggi.
Belum lagi kesenjangan kompetensi sarjana dengan kebutuhan industri yang semakin melebar. Ditambah kurikulum perguruan tinggi yang seolah belum begitu adaptif dengan keadaan zaman.
Merujuk pada data dari Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2025, dari 7,28 juta penduduk yang menganggur, 1 juta di antaranya adalah jebolan perguruan tinggi (lulusan D4, S1, S2, S3).
Data tersebut seakan membantah hasil penelitian Murtadlo dkk. (2018) tentang pengaruh pendidikan terhadap pendapatan yang membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pendapatannya.
Data tersebut seakan membungkam hasil penelitian Mark Blaug (1976) yang menyatakan bahwa individu yang mempunyai pendidikan lebih tinggi mempunyai pendapatan lebih dikarenakan mereka memiliki keahlian khusus yang diperoleh selama masa pendidikan.
Terkait hal itu, Blaug juga memang pernah menuturkan bahwa melalui keahlian tersebut, mereka akan lebih mudah dalam mendapatkan pekerjaan. Terkait hal itu, Blaug membagi tenaga kerja menjadi dua macam.
Pertama, clerical workers, yaitu tenaga kerja yang berpendidikan lebih tinggi. Kedua, manual workers, yaitu tenaga kerja yang berpendidikan rendah. Menurutnya, clerical workers jumlahnya relatif lebih sedikit dibanding manual workers.
Orang berpendidikan lebih tinggi juga dipandang lebih memiliki keahlian, inisiatif, dan lebih mmiliki motivasi serta mempunyai intelegensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
Rasa-rasanya, pemikiran Blaug tersebut sudah kurang relevan dengan situasi dan kondisi di Indonesia hari ini.
Sebab, hemat saya, jumlah clerical workers di negeri ini sudah membludak dibandingkan periode-periode sebelumnya. Permintaan clerical workers, baik dari perusahaan plat merah atau swasta, juga semakin berkurang.
Ditambah lagi sebagian lulusan perguruan tinggi dinilai kompetensinya rendah dan tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Fakta semacam ini sukar dibantah. Saya sendiri juga memperhatikan betul dari beberapa tahun belakangan ini, betapa banyak jebolan kampus yang kebingungan dalam mencari dan mendapatkan pekerjaan.
Apalagi, saat ini banyak sarjana yang lebih memilih menunggu pekerjaan “ideal”. Yakni pekerjaan yang memberikan gaji besar, lingkungan nyaman, dan kesempatan mengembangkan diri yang lebih leluasa.
Banyak sarjana yang enggan untuk mengambil pekerjaan teknis atau sektor informal yang tersedia dengan alasan menunggu pekerjaan yang sesuai “selera”.
Fenomena macam ini biasa dikenal dengan istilah reservation wage gap. Waktu menunggu inilah yang kadang menjadikan sebagian tenaga produktif kita tidak terserap.
Alih-alih menjadi aset produktif, yang terjadi justru sebaliknya, yakni pengetahuan, ilmu, dan kemampuan yang dimiliki menjadi tidak digunakan secara optimal.
Selaku penulis, saat awal-awal lulus dari perguruan tinggi, saya pun sempat kebingungan bagaimana mengaplikasikan ilmu dan skill yang saya miliki agar bisa setidaknya menghidupi saya sendiri.
Saat itu, saya masih lumayan gusar apakah hendak melamar sebagai pegawai negari atau swasta, hendak menjadi pengusaha atau jurnalis.
Dan kala itu, saya memutuskan sementara menjadi penulis tetap di salah satu platform digital. Lumayan buat menghidupi saya sendiri.
Tapi, masalah pendapatan, saya kira tidak seperti mereka-mereka yang bekerja di kantoran dengan ragam gaji dan tunjangan.
Hanya saja, yang menjadi pertimbangan saya kala itu adalah bagaimana sesegera mungkin mendapatkan penghasilan, Apa pun saya lakukan meskipun tidak sesuai dengan latar belakang saya sebagai lulusan Ekonomi Pembangunan.
Pertimbangannya, daripada tidak bekerja/berkarya, lebih baik bekerja sesuai kemampuan saya miliki. Pengalaman saya di Lembaga Pers Mahasiswa ketika di kampus sangat membantu di dunia kepenulisan tersebut.
Pengalaman tersebut, hanya menjadi contoh sederhana bahwa sebenarnya tidak harus menunggu pembukaan lowongan rekrutmen pegawai negeri sipil untuk mendapatkan mata pencaharian.
Banyak peluang yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita. Jangan-jangan memang selama ini kitalah yang terlalu “gengsi” atau “malas” sebab pekerjaan yang tersedia tidak sesuai harapan.
Jangan-jangan memang selama ini kita belum memiliki skillset yang bisa dijual untuk meraup pundi-pundi uang.
Sebab itulah, terkait melonjaknya angka pengangguran terdidik di negeri ini bisa dilihat dari dua sisi.
Pertama, dari sisi pemerintah yang belum mampu memberdayakan tenaga produktif tersebut lewat program, kebijakan, dan aturan yang ditetapkan. Kedua, dari sisi pencari kerja yang kompetensinya rendah sehingga sukar terserap di dunia kerja.
Mengenai hal itu, saya kira perlu kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan swasta untuk mendesain atau merancang ulang program-program yang mampu mengembangkan potensi dan kemampuan sarjana, baik yang baru maupun yang lama.
Di antaranya yiatu bisa dengan menggencarkan program upskilling dan reskilling. Pengertian sederhanya, upskilling adalah upaya peningkatan keterampilan yang sudah dimiliki para sarjana.
Sementara reskilling yaitu upaya untuk membekali para sarjana dengan kamampuan baru. Seperti halnya kemampuan pemasaran digital, olah data, analisis keuangan, dan semacamnya.
Upskilling dan reskilling bisa lewat pembelajaran, pelatihan, pengembangan yang terencana, sitematis, dan berkelanjutan. Bisa dilakukan secara daring ataupun luring sesuai situasi, kondisi, dan kesiapan anggaran tentunya.
Selain itu, dalam rangka meningkatkan kemampuan sarjana hari ini, saya berpandangan ada tiga hal yang patut digarisbawahi.
Di antaranya yaitu mindset, skillset, dan toolset. Mindset berkaitan dengan bagaiamana para sarjana memiliki pola pikir yang berkembang (growth mindset).
Bagaimana mereka senatiasa berikhtiar untuk memiliki pikiran positif, terbuka, dan penuh optimisme meskipun masalah datang silih berganti, walaupun aral terus melintang.
Kemudian, skillset maksudnya yaitu bagaimana para sarjana memiliki keterampilan atau keahlian praktis yang bisa digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas spesifik di dunia kerja.
Lalu, toolset artinya bagaimana para sarjana memiliki keahlian menguasai alat dan perangkat, mulai dari perangkat unak atau keras komputer hingga alat-alat fisik atau digital lainnya yang membantu mengerjakan tugas-tugas di dunia kerja.
Seperti halnya penguaaan aplikasi desain grafis” adobe photosop dan canva. Selain itu, saya kira para calon sarjana kita juga mesti membekali diri dengan soft skill selama di kampus.
Seperti halnya kemampuan berkomunikasi lisan dan tulisan, manejemen risiko, kemampuan berjejaring, berempati, menjalin networking, membangun integritas, dan semacamnya. Semua itu akan menjadi bekal berharga pasca lulus dari kampus.
Tidak hanya itu, untuk menyerap lulusan perguruan tinggi, peran aktif pemerintah untuk menstimulus perekonomian nasional yang berorientasi padat karya, saya rasa harus lebih dimasifkan lagi lewat beragam terobosan dan inovasi tentunya.
Keberpihakan pemerintah lewat instrumen regulasi dan kebijakan akan menjadi penentu arah perekenominan nasional ke depannya.
Termasuk memberdayakan tenaga produktif di negeri ini. Seperti halnya lewat kebijakan fiskal, moneter, pengeluaran pemerintah, pengaturan suku bunga, invesasi padat karya, dan semacamnya termasuk reformasi dan peningkatan kualitas pendidikan tinggi agar selaras antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
*) Penulis buku “Empat Titik Lima Dimensi”
Editor : Almasrifah